Jalan Herbal Santhi Serad

Selasa, 09 Oktober 2018, 16:18 WIB

Santhi Serad | Sumber Foto:Dokumen Pribadi

AGRONET--Dago, sebuah kawasan yang sama sekali tak asing, bagi banyak orang bukan warga Bandung sekalipun. Tapi, sesekali, eksplorasilah tempat ini: Bumi Herbal. Kebun herbal di Dago Pakar, di lereng yang menghadap kota serta berpunggungkan kawasan Taman Hutan Juanda. Di sinilah Santhi Serad, sang penempuh jalan herbal, berjejak.

Ya, Santhi Serad. Salah satu penempuh serius jalan herbal itu. Para pegiat dunia herbal tanah air mengenalnya. Buat perempuan kelahiran Bandung ini, jalan herbal bukan sekadar aktivitasnya, bukan pula sekadar bisnisnya. Namun, seperti yang dilihat oleh  mereka yang mengenalnya, jalan herbal adalah passion Santhi Serad. Itu yang membuatnya tak mudah mengatakan kapan mulai menekuni dunia herbal.

Look deep into nature, and then you will understand everything better [lihatlah jauh ke alam dan kemudian Anda akan memahami semuanya dengan lebih baik*.”  Itu ucapan Albert Einstein yang Santhi suka mengutipnya.  Ketika kita sungguh menyimak alam, kita akan lebih paham segala hal. Alam Bandung di masa kecilnya sangat mendekatkan Santhi pada alam. Tak terkecuali urusan herbal –urusan yang menjadi bagian keseharian keluarganya.

Jamu, buat Santhi, adalah hal biasa di rumah, apalagi teh. “Ibu saya selalu menyiapkan camilan saat pagi dan sore hari, khususnya secangkir teh hangat,” kenang Santhi, seperti dituturkannya pada sebuah media. Kecintaannya pada teh pun berkembang. Kecintaan yang membuatnya menulis buku “Teh dan Teh Herbal: Sebuah Warisan Budaya”., buat kado khusus pernikahan kedua orang tuanya.

Santhi sebenarnya tak pernah berencana khusus buat menekuni jalan herbal. Ia kliah di Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro setelah keluarganya pindah ke Semarang. Kampus ini mengenalkannya pada ilmu nutrisi. Hal yang dikuatkannya saat mengambil program master di Curtin University, Australia, dalam bidang food science and technology.

Ia sempat pula menapaki karier profesional. Ia menjadi ahli dalam tim riset dan pengembangan sebuah korporasi makanan. Sampai kemudian kesempatan itu datang. Interaksinya dengan Ilham Habibie menceburkannya ke dunia herbal dalam-dalam. Mereka membuat perusahaan PT Ilthabi Sentra Herbal yang membangun Bumi Herbal di Dago Utara tersebut.

Santhi turun langsung dalam pengembangan sentra herbal itu. Jenis demi jenis ditanamnya hingga koleksi herbal kebun tersebut dapat diandalkan. Setidaknya ada 400-an jenis tanaman herbal ada di sana. Lalu, satu demi satu diteliti secara cermat. Antara lain melalui kerja sama dengan lembaga riset farmasi ITB. Institut teknologi tempat ayahnya dulu mengajar. Sudah 300 jenis yang terteliti.

Sebagai ‘sentra’, beragam jenis herbal tentu terdapat di sana mulai  A sampai  Z, mulai dari adas hingga zaitun. Ada jenis mulai dari tanaman obat populer mahkota dewa hingga tanaman keluwak yang kini semakin langka. Ragam tanaman lengkap dengan uraian manfaatnya itu membuat Bumi Herbal juga menjadi salah satu tempat agrowisata di Bandung.   

EduHerbal jadi program wisata yang dikembangkannya. Tentu wisata buat mengenal tanaman-tanaman herbal yang menjadi koleksi kebun tersebut, mengenal manfaat berbagai jenis herbal, melihat demo pengolahannya, tentu saja juga untuk mencicipi hasil olahan herbal di sana. Dengan sepatu ‘boot’-nya, Santhi kadang turun sendiri memandu tamunya.

Dunia herbal telah jadi jiwa Santhi dan Bumi Herbal menjadi jantungnya. Maka ke situlah ia sering mengundang dan menjamu sendiri kawan-kawannya, dari berbagai komunitas yang diikutinya. Mulai dari komunitas fotografi yang juga menjadi hobinya, komunitas batik, komunitas pariwisata, komunitas voli, hingga komunitas kuliner.  

Dalam urusan fotografi, ia dan kawan-kawannya tekah menerbitkan buku pula. Apalagi kalau bukan buku kekayaaan budaya Nusantara. Dalam urusan batik, ia dan kakaknya membina puluhan pebatik di Kudus. Dalam soal hobi, ia juga menekuni teknik analisa tulisan tangan. ”Anak yang bermasalah bisa ketahuan dari tulisan tangan,” kata Santhi yang bersertifikat sebagai analis tulisan tangan ini pada Kompas. Karakter seseorang pun menurutnya dapat diubah dengan terapi menulis.

Salah satu komunitas yang paling terkait dengan dunia herbal yang ditekuninya adalah komunitas kuliner. Terutama komunitas Gerakan Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI).  Gerakan yang dirintisnya bersama pakar kuliner William Wongso dan mendiang Bondan Winarno. Beragam menu berbasis herbal telah dikembangkannya. Itu menjadi bagian dari menu kafe yang dikembangkannya.

Salah satu herbal yang menjadi favoritnya adalah pegagan atau antanan: Centella asiatica. Tak sekadar berperan sebagai antioksidan yang baik, pegagan juga dipercaya efektif untuk mencegah stroke. Juga memperbaiki fungsi kognitif atau kecerdasan otak. Maka Santhi merekomendasikan sup pegagan. Juga nasi goreng pegagan. Agar herbal itu banyak dikonsumsi anak.

Pegagan oleh Santhi juga dikembangkan sebagai ‘teh’.  Lewat merek Simplisia yang dikembangkannya, pegagan didampingkan dengan rosella, daun jati belanda, daun sirsak, mint, hingga kumis kucing. Pegagan disebut dapat meningkatkan daya ingat. Juga membantu regenerasi sel.

Santhi ada di balik sosialisasi pegagan ke publik. Itu bagian dari kerja besarnya menekuni jalan herbal. Jalan yang ditempuhnya bukan sekadar dengan kata-kata. Dengan perbuatan. Untuk pribadi, Santhi bahkan membuat sabun dan masker buat perawatan dirinya sendiri. Hal yang membanggakannya dengan berucap “Saya enggak pernah ke salon, lho.”

Itu Santhi Serad. Itu jalan herbal. Jalan untuk membangkitkan kekayaan bumi Nusantara ini yang berhulu dari kebunnya di Dago Pakar, Bandung, itu. (269).