Nadjikh Atasi Kemiskinan dengan Bisnis

Senin, 26 November 2018, 16:46 WIB

Muhammad Nadjikh | Sumber Foto:PT KML

AGRONET--Kemiskinan. Itu situasi yang sangat dipahami Mohammad Nadjikh. Lelaki kelahiran Gresik, Jawa Timur tahun 1962 ini tumbuh di lingkungan miskin. Lingkungan yang mendorongnya menjadi pebisnis. Dia mengikuti dorongan itu hingga jadi salah satu eksportir terbesar produk perikanan Indonesia saat ini.

Bagi Nadjikh, langkahnya itu bagian dari upaya mengatasi kemiskinan. Dia percaya, bisnis adalah jalan efektif keluar dari kemiskinan. Bukan hanya si pebisnis yang mendapat berkahnya. Juga bagi kalangan miskin mitra pebisnis. Setidaknya itu yang menjadi pengalamannya berbisnis. Pengalaman yang menjadi bagian dari bukunya, Solusi Bisnis untuk Kemiskinan.

Naluri bisnis memang sudah ada pada diri Nadjikh.  Ayahnya pedagang ikan setempat. Dia terbiasa pula membantu usaha ayahnya itu. Sebagai sulung dari delapan bersaudara, dia harus belajar ikut bertanggung jawab. Apalagi setelah sang ayah wafat, saat Nadjikh kuliah di IPB.  Nadjikh bukan hanya harus benar-benar mandiri. Juga harus menopang ekonomi keluarga.   

“Sambil kuliah saya mengajar les privat dan juga di SMA, membantu penelitian dosen, dan menjadi asisten dosen untuk memenuhi kebutuhan saya pribadi dan keluarga di Gresik,” ujar Nadjikh dalam sebuah wawancara. Biaya sekolah adik-adik selalu terbayang di pikirannya.

Keperluan jangka pendek mendorongnya segera mencari kerja selepas kuliah.  Bekerja di perusahaan coklat, dan juga cold storage, memberinya pengalaman tentang dunia kerja. Tapi, dia merasa manfaatnya terbatas. Tidak cukup efektif untuk membebaskan keluarga, apalagi masyarakat sekitar, dari bayang-bayang kemiskinan. Maka ia pun melangkah mengembangkan usaha.

Bersama teman-teman ia patungan buat berbisnis ikan teri.  Modal patungan itu ternyata belum memadai. Dia memberanikan diri meminjam uang pamannya. Dimulailah usaha dengan menyewa rumah bilik bambu di Tambak Boyo, Tuban. Di situlah dia menampung ikan teri yang dibelinya dari para nelayan dan mengolahnya. Itulah bisnis pertama Nadjikh yang kini berada di bendera PT Kelola Mina Laut (KML).

Di dalam buku yang ditulisnya bersama pakar sistem Prof. Eriyatno itu, Nadjikh menekankan perlunya pebisnis siap mengawali usaha “dari nol”.  Modal tak selalu tersedia secara mencukupi saat memulai usaha. Tapi itu disebutnya tak boleh menjadi penghalang.  Dia sendiri mengaku memulai usaha yang kini memiliki karyawan belasan ribu orang itu dari nol pula.

Dia menyoroti cara yang biasa ditempuh para pebisnis muda di era start-up booming sekarang. Banyak pebinis muda yang, menurutnya, “baru saja memulai usaha, inginnya segera mendapat untung. Belum apa-apa sudah membayangkan laba besar, kekayaan, dan sebagainya.” Nadjikh menolak menjadi seperti itu. Masa kecilnya yang sederhana melatihnya untuk kerja dan kerja.

Merencanakan bisnis secara berlebihan juga perlu dihindari. Seperti sibuk memikirkan teknologi produksi dan jalur pemasaran yang rumit.  Sibuk membuat rencana bisnis yang canggih dan muluk-muluk menurutnya juga perlu dijauhi. Padahal entrepreneur baru di era milenial ini melakukan hal itu.

Beberapa kalangan mungkin sukses dengan pendekatan begitu. Namun, secara umum, Nadjikh tidak merekomendasikannya. Baginya, “yang penting jalan dulu”. Yakni bagaimana usaha dapat berjalan, survive, mampu menutupi biaya-biaya operasional. Khususnya gaji karyawan. Setelah itu baru dikembangkan setahap demi setahap.

Bisnis, buat Nadjikh, tidak mesti luar biasa. ”Cukup bisnis biasa-biasa saja tapi diimbangi dengan pengelolaan yang luar biasa,” katanya. Itu dipraktekkan dalam bisnisnya. Saat pebisnis perikanan lain memilih berbisnis komoditas perikanan hebat  seperti ikan tuna atau udang, Nadjikh malah memulai dari bisnis ikan teri.

Justru di situlah kepekaan Nadjikh.  Salah satu kunci penting bisnis, menurutnya, adalah keunikan dalam daya saing melalui diferensiasi produk. Pilihannya berbisnis teri nasi atau chirimen memudahkannya menembus berbagai pasar dunia. Lewat bisnis teri nasi itu pula Nadjikh dapat menggalang relasi dengan puluhan ribu nelayan di seluruh Indonesia.

Soal relasi ini sangat ditekankan Nadjikh. Disebutnya bahwa relational capital atau modal lebih penting ketimbang financial capital atau modal uang. Di dalam bisnis nyata, modal relasi itu antara lain mewujud pada para pemasok yang andal dan berkualitas. Juga para pengguna produk atau konsumen yang loyal. Pebisnis harus mampu membangun dan menjaganya.

Pertemanan serta kemitraan yang tulus dengan seluruh pemangku kepentingan dipandangnya merupakan kuncinya. Dia mengistilahkannya sebagai prinsip friendship. Hal tersebut dibangun di atas sikap percaya satu sama lain, yakni trust. Pada akhirnya mutu atau quality produk harus dijaga. Trust-friendship-quality menjadi trisula bisnis Nadjikh.

Bagi Nadjikh, bisnis bukankah agar dapat membeli komoditas perikanan semurah-murahnya lalu menjual produk-produknya semahal mungkin. Baginya, bisnis yang sehat dan lestari adalah yang saling membantu antarlini. Itulah bisnis yang akan efektif buat mengatasi masalah kemiskinan secara luas.

Maka, dalam berbisnis dia berusaha keras membantu mengatasi masalah para mitranya. Terutama mitra-mitra dari kalangan nelayan kecil. Alih-alih membangun unit pengolahan berkapasitas besar hingga dapat menjadi lebih efisien, Nadjikh memilih membangun unit-unit pengolahan berkapasitas kecil.  Yang penting adalah dekat dengan komunitas nelayan itu, hingga mereka mudah memasoknya dalam keadaan lebih segar.

Tidak hanya itu. Kesulitan finansial yang sering dihadapi para nelayan pun menjadi perhatiannya. Dia mengembangkan skema yang dapat menjamin para pemasoknya untuk dapat dukungan dari bank dan lembaga-lembaga keuangan. Secara mudah dan juga murah. Itu yang menjelaskan mengapa KML, perusahaannya, dapat menggurita. Begitu berakar di masyarakat nelayan tradisional, sekaligus mengglobal di pasar dunia.

Dapat dipahami bila KML tumbuh pesat. Bahkan makin pesat saat usaha-usaha lain oleng oleh krisis ekonomi seperti krisis. Dari rumah ‘kandang kuda’ di Tuban tahun 1994, usaha ini kini memiliki 37 unit pengolahan teri nasi di sepanjang pantai utara Jawa dan Madura. Diperkirakan, sekitar 100-an ribu nelayan tradisional ikut merasakan berkah kehadirannya.

Kokoh di pengolahan teri nasi, Nadjikh mengembangkan unit pengolahan ikan dan gurita berkapasitas 12 ribu ton pe rtahun di Gresik. Lalu di Makassar, Kendari, Sidoarjo hingga Ambon dengan kapasitas keseluruhan mencapai lebih dari 15 ton per tahun. Ratusan ribu nelayan mendapat manfaat dari usaha tersebut. Belum lagi unit pengolahan udang, unit pengolahan rajungan, hingga pabrik surimi atau baso seafood.

Kesuksesan usaha tersebut tak membuat Nadjikh berubah. Ia tetap menjadi pribadi sederhana yang banyak berinteraksi dengan para nelayan kecil mitra-mitranya. Dahlan Iskan menyebut salah satu sukses Nadjikh adalah kefokusannya yang tajam. “Dia terus menekuni ikan, ikan, dan ikan,” sebut Dahlan. Tak terburu-buru berekspansi ke bidang lain. Tak tergoda politik.

Nadjikh memang percaya bahwa salah satu musuh besar dalam bisnis adalah sikap hedonis. Maka dia selalu mengingatkan para pebinis yunior yang berguru padanya agar berhati-hati. Jangan suka hidup bermewah-mewah. Dengan tetap sederhana dan fokus mengembangkan usaha, bisnis akan berkembang secara kuat. Dan bisnis seperti inilah yang efektif untuk atasi kemiskinan.

“Mengapa kemiskinan sulit diberantas, padahal pemerintah sudah begitu banyak biaya? Kapan bangsa kita bisa menjadi bangsa yang antimiskin?” Pertanyaan itu membayang-bayangi pikiran Eriyatno, profesor muda yang menyibak-nyibak makalah-makalah dan dokumen-dokumen pemerintah. Dia baru merasa menemukan solusinya setelah ketemu Nadjikh, yang menjalankan bisnis buat atasi kemiskinan.

Pendekatan bisnis merupakan pendekatan nyang efektif buat atasi kemiskinan. Bukankah itu petunjuk jelas agar bangsa ini lebih intens mengembangkan dunia usaha. Bahkan untuk mengatasi persoalan kemsikinan sekalipun. Usaha adalah potret nyata tentang itu.(312)