Rebin, Penghulu Perkawinan Mangga

Minggu, 30 Desember 2018, 12:46 WIB

Rebin, Penghulu Perkawinan Mangga | Sumber Foto:Dok. Pribadi

AGRONET--Penghulu perkawinan mangga? Ya, mangga pun kawin. Lebih tepatnya dikawinkan. Agar bisa menghasilkan ‘anak’ mangga yang dikehendaki manusia. Sebagaimana manusia kawin perlu penghulu, mangga kawin pun perlu penghulu. Rebin-lah salah satu penghulu itu.

“Ini pemulia tanaman senior kami,” kata Kepala Kebun Percobaan Cukurgondang saat mengenalkan Rebin. Kepala kebun di Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur itu Endriyanto. Dia memimpin kebun penelitian khusus mangga satu-satunya di Indonesia. Kebun penelitian yang kinerjanya sangat bergantung pada sosok-sosok pemulia tanaman seperti Rebin dan timnya.

Rebin pun mengulurkan tangan, menyalami. Sekilas tak tampak yang istimewa padanya. Di usianya menjelang pensiun itu, Rebin lebih terlihat bersahaja. Tangan berotot, kulit terpapar sinar matahari, serta raut muka yang ramah seperti ekspresi petani. Keahliannya dalam memuliakan tanaman menjadi pembedanya.

Di tangan sosok seperti Rebin, jenis-jenis mangga baru dilahirkan di Cukurgondang. Dia memang tak sendiri. Ada pemulia lain di situ, yakni Karsinah. Juga para pekerja yang membantunya dengan ketrampilan tinggi. Namun Rebin yang dituakan. Tak berlebihan bila Endriyanto pun menyebutnya sebagai “ahli mangga”. Beragam jenis baru mangga tak luput dari sentuhannya. Termasuk mangga Agri Gardina, yang terkenal dengan sebutan mangga pisang.

BERITA TERKAIT

Rebin sendiri tak pernah membayangkan bakal menjadi ahli mangga. Lahir dan besar di lingkungan petani di kawasan Solo, memang membuatnya tertarik ke dunia pertanian. Maka, selulus SMP di awal tahun 1970-an, dia pun hijrah ke Malang. Ia mendaftar ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Malang .

Selulus SPMA dia bekerja di Kementerian Pertanian. Berbagai tempat telah dijelajahinya selama bekerja . Yang paling lama adalah di Pusat Penelitian Buah Tropika –kini lebih sering dikenal sebagai Balitbu—di Sumatera Barat. Tepatnya di daerah Solok. “Wong Solo bekerjanya di Solok,” kata Rebin berseloroh.

Ilmu pertanian yang diperolehnya saat sekolah pun makin mengecurut pada urusan buah. Tepatnya buah tropika. Ilmu pemuliaan, yang penting untuk menjaga kualitas genetik, dikuasainya. Maka, saat kemudian pindah ke Kebun Cukurgondang yang spesialis mangga, Rebin dapat langsung berakselerasi mengawin-kawinkan mangga.

Cukurgondang adalah nama desa tempat kebun percobaan ini berada. Desa ini menjadi bagian dari Kecamatan Grati. Lokasinya tidak jauh dari Pusat Penelitian Sapi, yang dikenal sebagai Loka Sapi. Mudah diakses melalui jalan tol baru Surabaya-Banyuwangi. Kawasan sekitarnya, yakni daerah Pasuruan dan Probolinggo, telah lama dikenal umum sebagai sentra mangga.

Kebun Percobaan ini dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1938. Kebun yang memang dimaksudkan sebagai pusat pengembangan budi daya mangga. Sebanyak 208 varitas mangga ditanam di sana. Baik jenis mangga lokal, maupun jenis mangga daru berbagai negara. Pecahnya Perang Dunia II pada awal 1940-an, membuat pengembangan kebun ini sempat terhenti. Baru setelah kemerdekaan Indonesia, upaya pengembangan jenis-jenis mangga tersebut berlanjut.

Beragam jenis mangga ada di sini sejak awal. Mulai dari jenis mangga yang populer di tanah air hingga mangga-mangga dari luar negeri. Tentu saja ada jenis Gadung, Gedong, Harum Manis, Manalagi, Lalijiwo dan sebagainya. Dari negara tetangga, antara lain adalah mangga India, mangga Karabau Filipina, mangga Chokanan Thailand hingga mangga Irwin Australia yang di sini lebih dikenal sebagai Garifta.

Rebin menguasai jenis-jenis mangga itu. Dia bisa menjelaskan dengan persis perbedaan antara mangga Gadung dengan Harum Manis yang di mata masyarakat diangga sebagai mangga yang sama. “Itu mangga yang berbeda. DNA-nya saja berbeda,” kata Rebin. Walaupun easa serta aroma kedua jenis mangga itu seperti sama.

Mangga Gadung disebutnya berkulit lebih gelap dibanding Harum Manis. Pangkal buahnya lebih membulat. Sedangkan Harum Manis berkesan sedikit lebih memanjang. Rasa? Hmmm.., keduanya luar biasa dan seperti sama. Tapi, Rebin menyebut, Gadung sedikit lebih manis.

Dengan penguasaannya soal seluk beluk mangga, di atas kertas mudah bagi Rebin untuk mengawinkan mangga. Namun kenyataannya tak sesederhana itu. Ia mengaku pernah kesulitan melakukan tugasnya tersebut. Dalam beberapa tahun awal, ia kesulitan mengawinkan mangga jenis berbeda untuk dapat melahirkan mangga baru.

“Saya sempat bingung mengapa gagal terus”, kata Rebin. Berbagai cara telah dicobanya. Namun tak kunjung membawa hasil. Studi bandingnya di India memberinya wawasan baru. Sepulang dari India, setelah beberapa lama tinggal di sana, Rebin mampu mengadaptasi teknik menyilangkan mangga. Membuat kerjanya lebih efektif dan efisien.

Setelah itu, satu demi satu jenis mangga baru dihasilkan Kebun Percobaang Cukurgondang. Salah satu yang paling memuaskan adalah kelahiran jenis mangga Agri Gardina tersebut. Jenis ini baru lahir setelah 12 tahun percobaan secara terus menerus. Dari segi rasa, mangga ini jelas kalah dibanding mangga Gadung, sang raja mangga. Namun kepraktisannya dalam bercocok tanam, hingga kemudahannya untuk mengupas, membuat mangga kecil ini mendapat perhatian.

Beragam jenis mangga populer kini beredar di pasar. Seperti ‘mangga alpukat’ karena mudah dibelah tengah secara melintang hingga mudah disendoki serupa dengan alpukat. Ada ‘mangga duren’ yang seperti punya aroma duren. Atau mangga madu anggur, yang buahnya menggelantung banyak diibaratkan seperti anggur. Juga beragam jenis mangga lainnya.

Kebun Percobaan Cukurgondang berada di balik kelahiran banyak jenis mangga baru yang kini beredar. Rebin adalah salah satu sosok kuncinya di sana. Meskipun begitu, Rebin tetap merendah. Dia menolak disebut sebagai sosok paling ahli dalam urusan mangga. Rebin malah menunjuk Endriyanto kuncinya. Dalam kepemimpinan Endri, tim Kebun Percobaan Cukurgondang dapat melahirkan jenis-jenis mangga baru itu.

Rebin memang pemulia tanaman sejati. Pembawaannya terus rendah hati. Tapi, tak ada yang menyangkal bahwa dialah sang penghulu perkawinan mangga itu. (312) 

BERITA TERKAIT