Kisah Sukses di Usia Pensiun

Mardhatillah Mardjohan, Doktor yang Memilih Menjadi Petani Kurma

Jumat, 18 Januari 2019, 08:02 WIB

Mardhatillah menunjukkan kurma barhee tropis di dalam pot yang sudah berusia 11 bulan di kediamannya di Bekasi. Diharapkan berbuah di pot dan dipelihara di sini sampai usia sekitar 10 tahun. | Sumber Foto: AGRONET

AGRONET -- Di era modern ini dengan berbagai dukungan teknologi dan informasi, memungkinkan bagi banyak orang untuk  menyalurkan hobi sekaligus sebagai peluang usaha. Tak terkecuali, DR. Mardhatillah Mardjohan, M.Sc (62),  yang tetap produktif di usia pensiunnya  dengan menyalurkan hobi dan usaha yang sudah dijalankannya selama dua tahun  terakhir.

Hobi dan usaha yang digeluti Mardhatillah tergolong langka, terlebih di kondisi tropis seperti Indonesia, yakni berkebun kurma. Pilihan ini dinilai sebagai sebuah terobosan baru, khususnya dalam meningkatkan pertumbuhan sektor perkebunan di Indonesia.

Berkebun  memang sudah menjadi-cita-citanya sejak kecil. Hal itu turut didukung oleh pengalaman pendidikan dan karirnya yang puluhan tahun di luar negeri sebagai diplomat,  yang mengisi waktu senggangnya dengan kuliah dan bekerja. Berbekal pengalaman itulah, dia melihat prospek ke depan dan optimis perkebunan kurma di Indonesia akan menjadi tren dan bisnis masa depan.

Mardhatillah muda menamatkan pendidikan sarjana strata satu (S1) di Indonesia. Gelar master (S2) dan doktor (S3) diraihnya saat di Amerika Serikat. Pengalaman internasionalnya sekitar 16 tahun dan dalam negeri 22 tahun. Dia berpengalaman bertugas 5 tahun di Amerika Serikat, 9 tahun di Thailand, 6 bulan di Filipina, dan telah mengunjungi 19 negara.

Kepada AGRONET awal pekan lalu (14/1), Mardhatillah di salah satu kediamannya di Bekasi berkenan berbagi pengalaman tentang perkebunan kurma yang dijalaninya. Pria ramah yang juga berprofesi sebagai dosen itu dengan rinci menjelaskan tahapan perkebunan kurma dan prospek pasarnya ke depan.

“Tentunya kami tidak melihat potensi dari sisi bisnis semata. Tetapi kami punya misi dan termotivasi untuk mengaplikasikan ajaran Rasulullah SAW tentang menanam kurma, dalam batas kemampuan kami,” ujar Mardhatillah bersahaja.

Dia juga ingin menggalakkan konsumsi kurma sebagai obat dan makanan bagi masyarakat, baik lokal, nasional, maupun internasional. Diharapkan juga dengan berkebun kurma dapat berkontribusi mengurangi impor kurma.

Pria yang berasal dari Minang, Sumatera Barat ini, mengatakan Indonesia dengan penduduk mayoritas umat Islam merupakan potensi pasar yang luas bagi pemasaran kurma. Selain itu, ujarnya, kurma tidak hanya bisa dimanfaatkan dari sisi buahnya saja, tetapi kebun kurma juga bisa dikembangkan menjadi agrowisata, sebagai tempat destinasi wisata baru yang akan menarik minat masyarakat.

Ayah dari tiga putra ini menceritakan, dirinya memilih berkebun kurma ketika dia dan saudaranya di Padang mempelajari sejak 2015 bahwa kurma tropis layak dikembangkan di Indonesia. Namun kalau kurma yang di Timur Tengah belum tentu sesuai dengan lahan topis.

Berbekal dari pengalaman panjang di Thailand dan mengunjungi negara di Timur Tengah, serta termotivasi oleh beberapa teman, maupun Asosiasi Kurma Indonesia atau Indonesian Date Palm Association (IDPA), akhirnya ia semakin mantap memilih berkebun kurma.

Saat ini, sebagai tahap awal, Mardhatillah sudah berhasil menanam 90 pohon kurma tropis jenis Barhee, yang dibibitkan sendiri dari biji unggul asal Thailand. Usia bibit 18 bulan, sudah berumur 6 bulan di kebun, di kampung Bojong Waru, Rancamulya, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Mardhatillah juga giat menanam kurma di pot besar yang berisi tanah sekitar 0,5 m3 sebagai hiasan halaman/teras. Menanam kurma dengan isi pot sebesar itu sudah terbukti bisa berbuah.

Dengan saudaranya, dia juga sudah menanam kurma dan memasuki usia 13 bulan di atas lahan setengah hektare di kota Padang, Sumatera Barat, dengan bibit kurma tropis yang langsung dia datangkan dari Inggris. Sekarang, dengan saudaranya di Padang, Mardhatillah berencana akan menanam 30 hektare kurma di daerah Pasaman, Sumatera Barat, sebagai pengganti sawit yang sudah tua dengan bibit akan didatangkan dari Thailand pada bulan Februari 2019 nanti.

“Kami mencurahkan waktu, pikiran, tenaga, dan materi, sejak 2 tahun yang lalu (sejak 2016) untuk belajar dan menimba pengalaman melalui berbagai media, pakar, dan kunjungan. Dalam dua tahun ini, kami sudah mengunjungi Thailand 5 kali, karena negara itu sudah berhasil mengembangkan kurma tropis. Kami juga belajar ke Timur Tengah ke kebun kurma di Madinah,” ujarnya.

Kurma yang ditanamnya adalah jenis kurma tropis yang merupakan pengembangan melalui teknologi kultur jaringan dari kurma di Timur Tengah. Kurma tropis mempunyai kelebihan cepat berbuah, yakni dalam waktu 3-4 tahun. Sementara kurma di Timur Tengah berbuah setelah berumur sekitar 7-10 tahun. Umur produktif kurma juga sangat panjang, bisa mencapai hingga 60-80 tahun.

Mardhatillah menjelaskan pembibitan kurma melalui tiga cara, yaitu: dengan biji, kultur jaringan, dan dengan off shoot (anakan seperti anak pisang). Kultur jaringan (tissue culture) banyak dikembangkan di laboratorium di Inggris, Uni Emirat Arab, dan Iran.

Karakteristik dengan kultur jaringan hampir 99 persen sama dengan induk. Bila melalui biji peluangnya 50-50, dan dengan anakan peluangnya pasti seperti induk, hanya saja pembiakan dengan cara ini kapasitasnya kecil. Bibit kurma tropis yang banyak ditanam adalah jenis Barhee, warna kuning dan KL-1 warna merah.

Selain menekuni perkebunan kurma, saat ini Mardhatillah juga melakukan impor kurma segar (ruthob) dan kurma kering dari Timur Tengah. Dia juga sudah membuka industri rumah tangga di Bandung untuk mengolah kurma menjadi sirup. 

Dia juga menjual bibit kurma Barhee dan KL-1 (tropis) asli Thailand, dan membuka jasa konsultasi budi daya tanaman kurma yang bisa dilakukan di kebun atau di tempat yang ditentukan.

Bagi yang berminat berkebun kurma, menurut Mardhatillah, minimal sediakan lahan sekitar setengah hektare, lahan yang  optimal untuk sejumlah 90 batang kurma.  Dengan lahan seluas itu, sudah bisa menghasilkan uang sekitar 2-3 miliar rupiah kotor per musim (sekali setiap tahun), karena setiap batang kurma bisa menghasilkan buah segar 80 sampai 150 kilogram dengan harga 250 ribu per kilogram. (234/591)

BERITA TERKAIT

Agro Pilihan