D-9. Dari Nomor Bui Menjadi Ikon Salatiga

Rabu, 06 Pebruari 2019, 11:11 WIB

Hardadi, saat diundang menjadi pembicara di acara pengajian warga binaan pemasyarakatan Rutan Salatiga. | Sumber Foto:Dok Kemenkumham Jateng

AGRONET -- Dulu, saat kita bepergian dari Salatiga, selalu diidentikkan dengan membawa oleh-oleh enting-enting gepuk. Makanan khas dari Salatiga yang terbuat dari kacang ditumbuk dan dicampur gula itu seolah menjadi oleh-oleh wajib bagi mereka yang berkunjung ke kota kecil di Jawa Tengah tersebut.

Kini, bukan hanya enting enting, ikon  oleh-oleh yang mewakili Salatiga. Jika berkunjung atau sekedar melewati kota dingin di lereng gunung Telomoyo ini jangan lupa membawa singkong mempur D-9 untuk kerabat dan tetangga.

Singkong Keju D-9 Salatiga kini menjadi cemilan yang paling diburu pendatang maupun warga Salatiga yang akan bepergian ke luar kota sebagai bawaan. Makanya jangan heran ketika anda datang ke toko D-9 di jalan Argowiyoto, sepanjang jalan masuk atau lebih tepat disebut gang, dipenuhi mobil-mobil pengunjung yang antri untuk parkir membeli singkong. Antri beli singkong? Begitulah faktanya. Toko Singkong Keju D-9 tidak pernah sepi pengunjung terlebih di hari-hari libur.

Hardadi, pengusaha rumahan asal Salatiga telah merubah singkong menjadi kuliner yang diburu masyarakat kelas atas. Hardadi telah berhasil mengangkat derajat singkong dari makanan kelas bawah, menjadi cemilan mahal yang berkelas untuk dibawa dijadikan oleh-oleh, sebagai ikon Salatiga.

BERITA TERKAIT

Singkong yang banyak dijual di pasar Salatiga, tak lebih dua kilometer dari markas D-9, dengan harga mentah Rp 2.000 sekilonya, setelah diolah Hardadi, harga jualnya melejit tinggi. Jenis singkong frozen atau beku (belum digoreng) harga termurahnya Rp 12.000/plastik, berisi 7 ons. Singkong original dijual dengan harga Rp 18.000/kardus, singkong rasa keju Rp 19.000/kardus, dan keju isi ceres Rp 20.000/kardus. Semua varian rasa memiliki ciri khas yang sama, yaitu mempur, gurih dan dan sangat enak dijadikan cemilan.

Hardadi, pria Salatiga kelahiran tahun 1971,  sempat bermasalah dengan hukum. Salah pergaulan menjeratnya ke narkoba. Hingga harus mendekam 6 bulan penjara di lembaga pemasyarakatan Surakarta, tahun 2009.  Usai menjalani masa hukuman itulah, Hardadi mulai sadar bahwa dirinya mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap anak dan istrinya. Dari situ, ia mencoba bangkit, menata diri dan mulai berusaha mencari nafkah. Berjualan singkong presto menjadi pilihannya. Dijalaninya dengan menggunakan gerobak yang sederhana.

Dibantu oleh Dyah, istrinya yang sabar dan setia, Hardadi menawarkan singkong olahannya setiap hari, dengan mangkal di Lapangan Pancasila, pusat keramaian dan aktivitas warga di tengah kota Salatiga. Di masa-masa awal berjualan, dalam sehari produksi singkong presto Hardadi tak lebih dari 5 kilogram, pun sering tidak habis terjual. Tapi Hendardi telah menetapkan hati, tetap teguh meski perjalanan berjualan singkong sangat berat.

Seiring waktu, kegigihan dan ketekunan Hardadi mulai berbuah manis. Empuk dan lezatnya singkong olahannya mulai diterima masyarakat. Mulai menjadi buah bibir, bukan hanya masyarakat kota Salatiga tetapi juga warga luar kota Salatiga seperti Semarang dan Solo, yang berkunjung atau sekedar lewat kota Salatiga. Omset singkong keju Hardadi terus mengalami peningkatan.

Omset yang terus meningkat membuat Hardadi dan istrinya, harus mengambil keputusan-keputusan penting terkait usaha singkong kejunya. Dengan seiring makin banyaknya pemburu singkong yang telah menjadi pelanggan, datang ke rumahnya di Argowiyoto, keduanya sepakat untuk berjualan di rumah, meninggalkan pangkalan gerobaknya di lapangan Pancasila.

Keputusan penting lain juga harus diambil, ketika mereka berdua harus mulai berfikir untuk memberikan merk dagang singkongnya. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya disepakati, nomor bui Hardadi saat mendekam di lembaga pemasyarakatan Surakarta, dijadikan sebagai nama dagang. Nama D-9 sengaja dipilih untuk mengingatkan Hardadi dengan masa-masa kelamnya, episode terburuk perjalanan hidupnya di Blok D, kamar nomor 9.

Keputusan-keputusan bisnis Hardadi terbukti jitu. Saat ini, inilah masa kejayaan Singkong Keju D-9. Setiap hari, Hardadi membutuhkan bahan baku singkong mentah hingga 4 ton. Dengan pegawai lebih dari seratus orang, untuk membantunya dari sejak pengolahan singkong mentah hingga penjualan.

Meski  telah meraih sukses, tawaran modal dari bank dan permintaan frenchise bertubi tubi datang, Hardadi bertekad outlet maupun lokasi pengolahan singkong keju D-9 tidak akan pernah dia pindahkan ke tempat lain. Termasuk membuka cabang. Ini sangat terkait dengan cita-cita Hardadi yang ingin menjadikan area rumahnya, Jalan Argowiyoto sebagai pusat kuliner Salatiga. Cita-cita itu perlahan berwujud. Sudah lima tahun terakhir ini, beberapa tetangga telah mengikuti jejak langkahnya, ikut menekuni usaha persingkongan, baik diolah jadi ceriping, getuk, singkong presto maupun bentuk olahan lain.

Kisah sukses Hardadi ini pun telah menginspirasi banyak media untuk mengangkatnya ke permukaan. Seorang pengusaha lokal di Indonesia yang patut dicontoh. Hardadi dan istri pernah diundang menjadi  bintang tamu di acara Kick Andy.  Juga diangkat sebagai kisah  sukses yang menginspirasi di Merry Riana Metro TV,  5 januari 2019 lalu.

Kisahnya terjerumus di jalan gelap, menjadi pengguna narkoba, mendekam dalam bui, hingga kini berubah menjadi pengusaha singkong keju D-9 yang sangat sukses di kota Salatiga, telah banyak juga ditulis di media lokal maupun nasional.

Sebagai wujud syukurnya kepada Allah yang telah memberinya semua nikmah, Hardadi secara rutin mengadakan pengajian di rumahnya, di Argowiyoto Ledok Salatiga. Mengajak semua karyawan beserta keluarga dan para tetangga di sekitarnya tinggal.  (234)


Alamat Lengkap Singkong Keju D-9
Jl. Argowiyoto No.8A, Ledok, Argomulyo, ABC - Salatiga, Jawa Tengah 50732
Telp: 0857 4001 4832

BERITA TERKAIT