Kang Arem, CEO Yang Tak Mau Beruntung Sendiri

Rabu, 13 Maret 2019, 20:37 WIB

Arief Mulyadi, Direktur Utama PNM | Sumber Foto:Dok PNM

AGRONET – Kisah keberuntungan ini begitu membekas padanya. Arief Mulyadi, kini Direktur Utama Permodalan Nasional Madani (PNM). CEO ini tak pernah lupa pada peran mitra binaan PNM yang menyulap kampung kurang produktif di Nganjuk, Jawa Timur, menjadi sentra produksi belimbing.

Kang Arem, begitu sebutan CEO ini, mengisahkan nasabah PNM yang punya toko kantung plastik di pasar desanya. Juga punya pohon belimbing di pekarangannya. Buah yang sering tak sempat dapat dinikmati. Keburu rusak oleh hujan. Atau karena serangan lalat buah. Maka, dia berinisiatif membungkus buah-buah belimbing muda dengan plastik.

Inisiatifnya sukses. Belimbing-belimbing itu dapat tumbuh sampai matang. Dalam jumlah banyak. Merasa beruntung, dia membagi pengalamannya itu pada para tetangga. Segera para tetangganya mengikutinya. Berhasil. Belimbing-belimbing di kampung itu, yang dulu biasa rontok sebelum waktunya, kini dapat dipanen.

Panen belimbing pun jadi melimpah. Ibu-ibu setempat kini punya penghasilan tambahan. Dari produksi belimbing. Nasabah PNM itu merasa lebih beruntung lagi. Makin banyak orang beli kantung plastik darinya. Baik untuk membungkus belimbing muda di pohon. Juga untuk membungkus buahnya yang masak buat dijual.

BERITA TERKAIT

Dia sungguh bersyukur atas keberuntungannya. Termasuk atas kesempatannya menjadi nasabah PNM melalui program Mekaar. Yakni program ’Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera’.  Maka dia pun mengajak para perempuan di kampungnya menjadi binaan PNM. ”Jadi, kami pun ikut beruntung,” kata Kang Arem yang saat itu menangani program Mekaar.

Ya, dia merasa sangat akrab dengan kata ’beruntung’.  ’Beruntung’ itulah yang sering ditemuinya dalam pekerjaannya selama ini. Bukan hanya dari pada mitra binaannya di sektor  pembiayaan bagi usaha mikto dan kecil itu. Juga, menurutnya, dari perjalanan hidupnya sendiri. Terutama bersama dengan PNM.

BUMN ini didirikan pemerintah pada tahun 1999. Arem berkesempatan bergabung pada tahun yang sama.  Kebetulan ada beberapa orang lain yang juga bernama depan Arif atau Arief sepertinya. Untuk membedakan, dia disebut ’Arem’. Dari ’arm’, singkatan nama Arief Mulyadi. Namanya lalu biasa dipanggil sebagai Kang Arem atau Pak Arem. Itu ternyata jadi bagian keberuntungannya.

Orang-orang merasa cepat akrab dengannya dengan sebutan Arem itu. Hal yang menguntungkan buat tugasnya sebagai Account Officer dari lapis terbawah. Akrab dengan masyarakat yang menjadi nasabah atau mitra PNM. Akrab dengan rekan-rekan kerjanya. Bahkan akrab pula dengan atasan. Hal yang membuatnya suka diberi beragam limpahan tugas. 

”Saya jadi beruntung,” katanya.  ”Saya jadi mendalami aspek kepatuhan, perencanaan, hingga pengembangan usaha.” Dia juga paham persis jatuh bangunnya PNM sebagai korporasi. Wajar bila Sarjana Biologi Universitas Jenderal Soedirman yang meraih gelar masternya di Universitas Indonesia ini pun diangkat menjadi CEO, Februari 2019 lalu. 

Toh, dia merasa beruntung. Walaupun telah mengabdi selama 19 tahun, dia tetap tidak menyangka bakal diangkat sebagai Direktur Utama. Karena itu, dia menegaskan bahwa ”Saya nggak mau jadi orang yang beruntung sendiri di PNM. Yang lain harus menikmati keberuntungan juga."

Membuat yang lain juga beruntung lalu jadi semacam ’filosofi’ kepemimpinannya di PNM. Kang Arem lebih intensif lagi merangkul keluarga prasejahtera, binaan PNM di Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) maupun Mekaar. Tak hanya agar usaha para mitra maju. Juga membuka pintu lebar-lebar bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera itu untuk bergabung dengan PNM.

Untuk Account Officer PNM, Kang Arem memrioritaskan anak-anak dari keluarga prasejahtera nasabah kami” katanya. Merekalah yang kini ada di garis depan pengembangan usaha PNM. Disebutnya sekarang terdapat 24 ribu karyawan berusia 19–23 tahun, usia milenial, di seluruh cabang PNM.

”Mereka mimpi pun tidak pernah untuk menjadi karyawan BUMN,” kata Kang Arem. Biasanya, selulus SMA anak-anak itu menjadi penjaga toko, menjadi asisten rumah tangga, atau buruh pabrik. Sekarang anak-anak itu mengenakan seragam dan ID-Card yang sama dengan karyawan lain PNM. Bahkan sama dengan Kang Arem, CEO-nya. Martabat mereka dan keluarganya pun terangkat.

Itu cara Kang Arem berbagi keberuntungan. Cara yang sekaligus menjadi tindakan nyata untuk memotong mata rantai kemiskinan. Nasabah semakin loyal pada PNM. Sedangkan anak-anaknya, yang merasa beruntung karena dapat menjadi karyawan BUMN, pun tumbuh menjadi karyawan yang dapat diandalkan.

”Yang bekerja di kantor kami sebagian besar adalah anak-anak dari keluarga prasejahtera yang selama ini kami bina. Kami mencari anak nasabah dan menawarkan kepada mereka untuk menjadi karyawan PNM,” tutur Kang Arem. Dia percaya keberuntungan akan datang selama kita jujur dan bekerja keras.

Bagi Kang Arem, hasil tidak pernah membohongi proses. Itu yang disampaikannya pada para karyawan muda BUMN tersebut. ”Bisa jadi, anak nasabah itu kelak bisa menjadi pemimpin PNM,” katanya. ”Saya menekankan kepada karyawan, agar terus belajar dan memberi manfaat bagi orang lain tanpa perlu dapat medali.” Menanam hal baik akan menghasilkan kebaikan. Itu otomatis.

Strategi ’berbagi keberuntungan’ Kang Arem itu membantu PNM tumbuh pesat. Pada jumlah nasabah program Mekaar, misalnya. Pada tahun 2016 jumlahnya baru sebanyak 400 ribu orang. Pada tahun 2018, jumlah tersebut telah mencapai lebih dari 4 juta orang. Jauh lebih banyak ketimbang targetnya sebesar 1 juta nasabah.

Dengan begitu, akan lebih banyak lagi masyarakat yang merasakan keberuntungan. Termasuk masyarakat prasejahera yang bertani. Seperti pada ibu-ibu yang bahagia bertani belimbing di Nganjuk tersebut di atas. Hak tersebut menjadi buah dari sikap Kang Arem, CEO yang tak mau beruntung sendiri itu. (234)

BERITA TERKAIT