Petani sukses dari Jember.

Edy Suryanto, Menggali Berlian di Kebun Sendiri.

Kamis, 28 Maret 2019, 09:10 WIB

Edy Suryanto, petani sukses dari Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. | Sumber Foto:Dok Prosalina.

AGRONET --  Pernah mendengar cerita tentang seorang petani yang menjual tanahnya, kemudian berkelana kemana-mana ikut menggali tambang berburu berlian, sementara petani lain yang membeli tanahnya justru menemukan “berlian” di lahan bekasnya berladang tersebut?

Jika belum sempat tahu ceritanya, bacalah buku  “Menggali Berlian Di Kebun Sendiri” yang ditulis Bambang Suharno, sarjana peternakan, jurnalis senior dan motivator. Bukan sekedar cerita tentang seorang petani dan berlian, tetapi  yang terlebih penting bagaimana penulisnya mengajak kita merubah pola pikir dan menggiring kita pada hal-hal positif menyangkut pembentukan karakter, motivasi, tindakan serta kepemimpinan.

Transformasi itulah yang dialami Edy Suryanto. Petani sukses dari Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember.

Saat itu, tahun 2000 an, Edy muda memutuskan meninggalkan kampung, melanglang buana mengadu nasib. Pergi ke Amerika Serikat menjadi seorang pekerja. Menjadi TKI di Amerika Serikat, cukup bergengsi jika di bandingkan dengan TKI lain yang pada umumnya bekerja di Malaysia atau Arab Saudi. Statusnya bekerja sudah cukup membuat bangga keluarga dan pujian para tetangga, kerabat dan sahabat.

Namun jika mengetahui pekerjaan Edy di Amerika Serikat pada waktu, mungkin bangga itu tidak lagi berarti. Pekerjaan Edy di negeri Paman Sam tak beda dengan pekerjaan mayoritas tetangganya di kampung, menjadi buruh tani.

“Pekerjaan saya sama menjadi buruhnya petani. Pembedanya hanya soal upah, jika dibandingkan dengan upah buruh tani yang ada di dukuh Mempok ya jauh berbeda,” cerita Edy.

Pemikirannya saat menjadi buruh tani itulah, mendorong keinginannya untuk pulang kampung dan membuktikan diri bisa menjadi petani sukses. Dorongan dan keinginan itu semakin besar setelah melihat potensi alam di Amerika Serikat yang jauh di bawah kualitas desa dukuh Dempok, Wuluhan Jember, kampung halamannya.

”Jangan bayangkan Amerika Serikat sebagai negeri yang subur. Di sana tanahnya tandus. Jauh lebih subur tanah kita. Itulah anehnya, kenapa saya yang memiliki tanah yang subur, harus bekerja jauh-jauh di tanah tandus,” ujarnya.

Edy pun berpikir kritis dan sempat mengaku heran. Petani di tanah tandus seperti di Amerika Serikat tidak pernah menggunakan pupuk kimia seperti kebiasaan petani di Indonesia.
Namun begitu, prokduktifitas hasil pertaniannya jauh di atas hasil tanah subur yang dipupuk sedemkian rupa seperti indonesia.

“Semua pertanian di Amerika Serikat menggunakan pupuk organik. Mereka sadar, pupuk kimia hanya akan merusak tanah, lingkungan dan orang yang mengonsumsi hasil pertaniannya,” jelasnya.

Dengan pola pertanian petani Amerika Serikat yang mengutamakan konsumennya, masyarakat di sana pun memberikan penghargaan seutuhnya kepada petani dengan membeli hasil pertanian jauh dari harga produk pangan lainnya. Siklus ini yang membuat petani Amerika Serikat sejahtera.

Pemuda Edy pun bertekad bulat, pulang ke tanah air. Berbekal pengalamannya menjadi buruh tani di Amerika, mengembangkan pertanian di kampung halamannya, di Jember. Keinginan yang sangat besar itupun akhirnya dia wujudkan.

Edy pulang dari Amerika Serikat tahun 2004 dan langsung mengaplikasikan ilmu pertanian otodidaknya. Bukan memulainya dari ladang dan sawah, tapi Edy merasa lebih penting memantabkan terlebih dahulu manajemen kelembagaan.

Edy  menghimpun petani lain di sekitarnya tinggal, hingga 27 orang petani membentuk kelompok tani yang dia beri nama Kelompok Tani Margi Rahayu. Kelompok tani yang secara langsung dikomandoinya tersebut berani mencoba hal-hal baru yang dianggap menguntungkan.

Saat baru pertama muncul teknik budidaya padi System of Rice Intensification (SRI), Kelompok Tani pimpinan Edy lah yang pertama kali memulainya.  “Selain di Jember sebagai yang  pertama kali memulai. Di kancah nasional pun kami dinilai paling produktif dengan menghasilkan 9,7 ton setiap panen. Padahal, produktivitas nasional waktu itu hanya mampu menembus angka 5,4 ton,” akunya bangga.

Bukan hanya itu, Edy bersama kelompok taninya juga berani melakukan ekspresi pola tanam padi. Jika petani konvensional menanam benih padi berusia 24 hari, Edy berani mengawali dengan menanam padi muda berumur 6 hari.

Awalnya, gagasan itu mendapat cemooh petani lain termasuk ayahnya sendiri. Namun setelah terbukti mampu meningkatkan produktivitas tertinggi, akhirnya petani ikut menanam dengan pola yang sama.

Berkat pekerjaannya menjadi petani, kini Edy memiliki segala hal yang  tidak penah dibayangkan sebelumnya. Edy kecil bahkan tidak pernah bercita-cita menjadi petani. Karena  itulah, ketika kuliah  ia memilih jurusan teknik mesin Institut Teknologi Malang (ITM). Tak terbesit sedikitpun, bakal menjadi petani seperti saat ini.

Prestasi Edy bersama kelompok taninya pun diakui secara nasional, saat dia memperoleh undangan untuk datang ke Istana Negara dan mendapatkan penghargaan. ”Saya bangga karena akhirnya semua ini membuahkan hasil yang diakui masyarakat, bahkan hingga presiden. Jerih payah mantan buru tani di negeri orang, yang bermimpi menjadi seorang petani yang benar-benar bertani,” tutur Edy bangga.

Bangun SMK Pertanian Gratis

Meskipun telah membuktikan prinsip hidupnya dan meraih sukses, tidak mudah bagi Edy menyadarkan orang lain bahwa menjadi seorang petani mampu  menjanjikan kesejahteraan.

Pemuda dan dunia tani saat ini memiliki jarak yang sangat jauh. Banyak pemuda menilai pertanian tidak mampu mendongkrak kesejahteraan. Mereka memandang bertani bukan sebuah pekerjaan yang membanggakan. Padahal pertanian sangat vital untuk kemandirian pangan.

Negara agraris seperti Indonesia memiliki potensi pertanian yang sangat besar dan menjanjikan. Seorang Edy Suryanto telah membuktikan bersama ratusan anggota kelompok taninya, bahwa bertani jauh lebih menjanjikan dibandingkan dengan pekerjaan formal lainnya.

“Kami memang tidak berdasi dan mengenakan jas serta sepatu.Tapi dengan cangkul dan sabit, kami bisa menghasilkan ratusan juta setiap kali panen,” katanya.

Karena keprihatinan tersebut, bersama praktisi pertanian lain yang ada di wilayah Jember Selatan, Edy membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian gratis. Sekolah tersebut dibangun di lahan satu hektar yang ada di Desa Dukuh Dempo, Kecamatan Wuluhan.

Bukan hanya ketua kelompok tani unggulan yang dilibatkan menjadi guru tetap. Edy pun mendatangkan petani sukses dari berbagai wilayah, yang diperankan layaknya dosen terbang seperti di kampus ternama.

”Pola yang kami realisasikan, tranformasi ilmu praktis dan efektif. Jadi siswa tidak banyak teori, melainkan langsung praktek bersama para petani sukses,” paparnya.

Kurikulum sekolah yang diformulasikan, 20 persen teori dan selebihnya ditekankan pada praktek. ”Kami akan mengader calon petani handal.  Jika mereka butuh teori yang lebih, bisa dilanjutkan nanti ketika mereka sanggup kuliah hingga profesor,” tegasnya.

Bagi Edy, sekolah gratis yang dicanangkannya bukan hanya isapan jempol atau pemanis belaka. Dia meyakini sekolahnya bisa mandiri meski tanpa ada pungutan biaya sekolah dari para siswanya.

”Caranya mudah. Lahan persawahan produktif sudah kami siapkan. Di lahan itu nanti, siswa akan praktek menanam semua jenis tanaman dan holtikultura. Hasil panen itulah nanti yang membiayai sekolah siswa. Jika ada lebihnya, anak-anak bahkan bisa memperoleh gaji,” terangnya.

Menjadi Pemasok Cabai Merah Terbesar

Berhasil menjadi petani, Edy bersama anggota kelompok tani Margi Rahayu mencoba keberuntungan di budidaya tanaman holtikultura yaitu cabai merah besar. Baginya, menanam cabai yang dinilai banyak orang sangat rentan resiko gagal panen mejadi tantangan, bukan sebagai halangan.

Potensi persawahan Jember yang memiliki tekstur tanah yang cocok untuk tanaman cabai merah besar menjadi potensi tersendiri. Apalagi, peluang pasarnya  sangat lebar.

Tidak hanya menanam cabai dengan teknik termutahir dan bibit paling berkualitas. Edy pun menyiapkan kelembagaan para petani cabai merah merah dengan naungan koperasi yang dia beri nama Koperasi Holtikultura Lestari Jember. Sama seperti merintis pertanian pangan, kelembagaan petani juga sangat dibutuhkan. Terutama sebagai media sharing segala hal tentang kebutuhan pertanian. Edy pun kemudian juga membentuk koperasi khusus petani holtikultur, Asosiasi Agrobis Cabai Indonesia (AACI) Cabang Jember. Yang diketuainya langsung.

Berkat kerja keras dan semangat membangun kelembagaan sebuah organisasi petani cabai, kelompok tani yang dirintisnya pun mendapat kepercayaan produsen saos sambal ternama di Indonesia.  ”Setelah jaringan kami dapatkan akhirnya ada tawaran menjadi pemasok cabai,” katanya.

Selain kepastian pasokan cabai yang tak terbatas jumlahnya, Edy merasa beruntung karena mitra yang bersedia membeli cabainya tersebut, juga menuntunkan harga jual cabai jauh sebelum cabainya dipanen. Jadi, tidak ada petani merugi karena harga cabai yang mereka jual harganya anjlok. Karena komitmen mitra kerja yang akan membeli cabai sesuai kesepakatan masa tanam.

Kepercayaan itu tidak disia-siakannya. Konsistensi pengiriman cabainya ke Jakarta terus digenjot. Per hari mampu mengirim lima truk cabai segar ke Jakarta. Alhasil tiga permasalahan petani seperti pasar, pendamping dan modal sudah bisa dijawab. ” Setelah ada kemitraan itu berapa pun jumlah cabai petani tidak lagi masalah mau dijual kemana lagi,” ujar pria yang juga penggerak seni Reog Ponorogo tersebut.

Bukan hanya memperoleh kepercayaan perusahaan saos sambel ternama. Kelompok tani yang dikomandoi Edy itu pun, kini menjadi salah satu kelompok tani binaan Bank Indonesia Cabang Jember. Bahkan untuk menunjukkan keseriusan binaanya, BI Cabang Jember mengirim pendamping khusus, seorang profesor.

”Pasar sudah kami dapatkan. Pembinaan sudah dilakukan Bank Indonesia. Masalah modalnya, koperasi bentukan petani ini yang mengelola,” terangnya.

Edy Suryanto telah menemukan “Berlian” di ladangnya sendiri. (234)