Adi Pramudya, Miliuner Lengkuas

Senin, 15 April 2019, 11:24 WIB

Adi Pramudya, Milyuner Lengkuas | Sumber Foto:Istimewa

AGRONET -- Adi Pramudya lahir dari keluarga pedagang. Keluarga yang memberikan jiwa berbisnis yang kuat dalam dirinya. Secara tidak langsung, Adi banyak belajar detil-detil bisnis dari sang ayah, seperti bagaimana berdagang yang baik, melayani pelanggan atau sekedar menghitung keuangan. Kehidupan yang memberinya mimpi besar, sukses sebagai seorang entrepreneur.

“Sejak sekolah dasar saya sudah membantu orang tua. Dari nimbang beras, nimbang kemiri. Jadi, praktek dasar berdagang itu ada di saya, makanya saya bersyukur,” ujarnya.

Menginjak usia 17 tahun, selepas SMA, Adi mendapatkan tawaran beasiswa dari salah satu perguruan tinggi di kota Bandung. Namun pemuda asal Pati, Jawa Tengah tersebut memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan tersebut dan lebih memilih kuliah di Jakarta. Pertimbangannya, yang pertama karena ada sang kakak yang telah terlebih dahulu berada di Jakarta dan alasan kedua pesona Jakarta yang menawarkan potensi bisnis dan berusaha yang lebih menjanjikan.

Keinginan Adi untuk menjadi pengusaha yang berpenghasilan, sudah ada sejak di bangku SMP. Saat itu, toko kelontong orang tuanya habis terbakar, sehingga mereka harus memulai usaha dari awal. Dari kejadian tersebut, Adi bertekad akan membahagiakan orang tua dengan memiliki penghasilan sendiri.

BERITA TERKAIT

Meski begitu, keputusannya menjadi seorang pengusaha saat itu bukan tanpa penolakan dari keluarga. Seperti kebanyakan orang tua Jawa, bapak ibunya lebih berharap Adi menyelesaikan kuliah dan menjadi pegawai negeri. Mereka kurang setuju anaknya bercita-cita menjadi pengusaha. Hal tersebut dianggap wajar oleh Adi. Namun, Adi tetap pada pendiriannya dan akan membuktikan bahwa menjadi pengusaha memiliki masa depan cerah.

Pemuda asal Pati ini pun mulai berbisnis saat memasuki kuliah. Sembari menjalankan kegiatan perkuliahan di Universitas Gunadarma, Depok, Adi mencoba peruntungan berbisnis di  bidang kuliner dengan menjual pisang cokelat menggunakan gerobak di daerah Jagakarsa, Jakarta.

Usahanya tersebut membuahkan hasil yang menggembirakan pada awal berdirinya. Berkembang hingga 4 gerai. Namun masalah kemudian mulai muncul, bertubi tubi hingga membuatnya menyerah. Kegagalan yang sempat membuatnya trauma menjalankan bisnis. Namun satu hal yang menguatkan dirinya adalah keyakinan bahwa kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika kita memutuskan berhenti berjuang. Dari situ Adi merasa tidak ada alasan untuk berhenti.

Adi kembali mencoba berbisnis kuliner. Dan tak dinyana memberi hasil yang sama, kegagalan.

Belajar tani ya dari petani

Adi sempat vakum berbisnis, sampai akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang bisnis di bidang pertanian ketika bertandang ke daerah Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Dari situ Adi bertekad untuk menekuni usaha agribisnis. Ide tersebut seperti mengalir begitu saja saat Adi melihat potensi besar dari sebuah lahan yang luas dan belum digarap. Bisnis pertanian, bidang usaha yang tergolong kurang diminati.

Saat itu, tahun 2011, pria lulusan Teknik Industri ini menyewa lahan dengan luas tidak sampai satu hektare seharga Rp 2,5 juta yang uangnya dia dapat hasil meminjam dari sang kakak. Sejak awal, Adi menyadari, memang tak tahu menahu tentang pertanian. Namun dengan tekad, ketekunan dan niat, ia belajar langsung budidaya singkong kepada petaninya selama tujuh bulan.

“Kalau mau belajar tani ya belajarlah kepada gurunya pertanian, yaitu ya petaninya. Jangan belajar dari buku karena buku dibikin kan supaya laku. Kalau buku menceritakan soal rugi, siapa yang mau beli,” ujar Adi.

Komoditas pertama yang dia tanam adalah singkong. Cukup berhasil, namun ternyata harga jual hasil panen singkong tidak stabil di pasar. Hal ini membuat laba bersih yang dia peroleh menjadi terlampau kecil.

Adi kemudian melihat peluang yang lebih menggiurkan dengan berbisnis rempah, saat berbincang dengan tetangga lahannya yang petani rempah. “Waktu itu dia menanam lengkuas. Cuma di lahan 1.000 meter, tapi bisa menghasilkan uang Rp 5 juta sekali panen. Dengan modal hanya sejuta, artinya untung Rp 4 juta. Luar biasa, keuntungan 400%. Akhirnya saya belajar dari dia,” cerita Adi mengenang.

Rejeki melimpah dari rempah

Tahun 2012, Adi mencoba peruntungannya dengan mulai menanam lengkuas di lahan seluas 2 hektare. Ternyata dengan modal 40 juta untuk satu hektare lahan lengkuas, Adi bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 90 juta tiap kali panen.

Seiring berjalannya waktu, Adi mampu memperluas lahan tanamnya menjadi lima hektare pada 2013. Empat hektare digunakan untuk menanam lengkuas dan sisanya untuk menanam kunyit dan kencur. Usahanya tersebut pun akhirnya juga menghasilkan keuntungan.

Bisnisnya berkembang pesat pada tahun 2014. Saat itu Adi telah mengelola lahan seluas 11,5 hektare. Sekitar 70 persen lahan masih dalam status sewa, sedangkan 30 persen sisanya sudah di atas lahan miliknya sendiri.  Setiap lahan bisa menghasilkan 35-40 ton rempah. Setiap kali panen omzetnya hingga Rp300 juta.

Kini Adi telah mengelola lahan seluas 27 hektare.  Dengan panen hingga 30 ton rempah dan menjualnya dengan harga Rp2.000 per kilonya. Dengan perkiraan mendapatkan Rp60 juta dalam satu hektarnya, maka dari 27 hektare lahan, omzetnya sekitar Rp1,6 M.

Hanya dalam kurun waktu dua tahun, Adi berhasil menguasai pasar-pasar induk di seluruh Jabodetabek sebagai salah satu pemasok bumbu dapur. Setelah menguasai pasar lokal, pangsa pasar ekspor mulai diliriknya dan berhasil. Ekspor rempah Adi  tembus hingga mencapai Eropa, dengan mengirimkan lengkuas ke Jerman dan Belanda.

Keberhasilan tersebut menjadikan bisnis pertanian milik pemenang Wirausaha Muda Berprestasi pada tahun 2014 Kemenpora kian berkibar.

Bagi Adi, bisnis yang digelutinya ini tak sekedar hanya memberikan profit finansial bagi dirinya, tapi juga memberikan kontribusi bagi lingkungan sosialnya. “Ada buruh tani yang sudah berumur 60 tahun bekerja di tempat saya mengatakan‘kami sangat berterima kasih Bapak sudah datang ke sini’. Hal yang membuat saya terharu adalah pengakuan dia setiap malam berdoa untuk saya. Dari situ saya benar-benar mencintai bisnis ini”, ujarnya.

Kecintaan itulah yang membuat Adi merasa wajib mensejahterakan juga orang-orang disekitarnya. Adi membentuk kelompok tani. Selain untuk berbagi kesejahteraan, juga untuk menguatkan pondasi usahanya. Supaya bisa terus memasok rempah-rempah sesuai permintaan pasar dan pasokan ke pasar induk tanpa henti, lantaran waktu panen yang cukup lama. Jika tidak berkelompok dan mengorganisir diri, produksi tanaman akan terbatas dan gagal memenuhi permintaan.

Bersama kelompok taninya, Adi juga membentuk koperasi yang memberikan pinjaman berupa bibit dan pupuk. Mengembangkan produk turunan dari hasil produksi rempah-rempahnya, yaitu produk sejenis minuman.

Tidak hanya ituAdi juga masih punya mimpi besar lain yaitu membuat agrowisata pada lahan pertaniannya. “Konsepnya mirip dengan Taman Buah Mekarsari tetapi berisi aneka rempah,” kata Adi, peraih penghargaan Young Heroes dari Program Kick Andy tahun 2016 lalu itu dengan penuh semangat.(234)

BERITA TERKAIT