Secangkir Kopi Maximus Lani

Selasa, 13 Agustus 2019, 12:01 WIB

Maximus Lani, dikenal di wilayah pegunungan tengah Papua sebagai petani kopi jenis Arabika yang sukses dan konsisten. | Sumber Foto:Katharina

 AGRONET -- Akhir tahun 2013, seorang laki-laki dari Lembah Baliem, Pegunungan Tengah Papua, mampir ke sebuah kedai kopi modern di Jakarta. Ia memesan secangkir kopi arabika Wamena.

Rasa kopi dia sudah terbiasa. Harga kopi yang membuat Maximus Lani, laki-laki 68 tahun itu tercengang. Kopi yang ditanamnya di Lembah Baliem ternyata mempunyai nilai ekonomi tinggi. Maximus senang mengetahui hal itu, tapi sekaligus miris. Pasalnya, ia tahu perkebunan kopi arabika di Pegunungan Tengah Papua belum dimanfaatkan secara maksimal.

Banyak petani lembah Baliem membiarkan biji-biji kopi yang ranum perlahan membusuk di pohon. Itu terjadi karena harga kopi di tingkat petani sangat rendah. Tengkulak hanya membayar Rp 5.000-Rp 10.000 per kilogram kepada petani. Akibatnya, petani tidak bergairah membudidayakan kopi secara serius. Hanya pasrah pada kebaikan alam yang telah memberikan kopi yang tumbuh begitu saja, tinggal dipetik kalau mereka sedang butuh duit dan juga sedang tidak malas.  

Secangkir kopi yang diminum Maximus di Jakarta telah membangun kesadaran dan membangkitkan tekadnya. Ia merasa wajib mengubah keadaan itu.  

BERITA TERKAIT

Maximus adalah seorang petani kopi Papua. Selain menjadi petani kopi, Maximus juga seorang kepala suku dan Kepala Kampung Yagara, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Maximus telah memiliki pengalaman menjadi petani kopi sejak usia muda dan pernah pula mengikuti program magang mengelola kopi di Jember, Jawa Timur pada September 2010 yang diselenggarakan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Saat itu, ia belajar, mulai dari cara menanam, mengolah biji kopi pasca panen, hingga mengemas biji kopi yang akan dijual.

Pulang dari Jakarta, pertama kali yang dilakukan Maximus adalah menyadarkan para petani bahwa kopi arabika dari Pegunungan Tengah Papua mempunyai nilai ekonomi tinggi sehingga harus dikembangkan untuk kesejahteraan petani.

Berikutnya, ia mengajarkan dasar-dasar pengolahan biji kopi arabika mulai dari pengupasan kulit, penjemuran, hingga proses fermentasi biji kopi dan pengemasan.

Laki-laki yang semula bertani sayur, ubi, dan beternak babi itu menularkan pengetahuannya kepada petani kopi di Pegunungan Tengah Papua. Melalui para tetua adat, ia temui para petani di sentra-sentra perkebunan kopi.

Dengan setengah nekat Maximus bersedia membeli kopi petani dengan harga yang lebih baik. Ia memberikan harga Rp 30.000-Rp 40.000 per kilogram biji kopi, bergantung pada kadar airnya. Harga itu 3-5 kali lipat dari harga yang dipatok tengkulak.

"Saya hanya modal nekat. Memasarkan biji kopi milik petani ke Jayapura dan Timika. Puji Tuhan, usaha saya berhasil," ujar Maximus.

Karena mendapatkan harga yang tinggi, petani semakin giat mengembangkan kopi. Perlahan tapi pasti, kegairahan petani untuk memproduksi kopi muncul.

Sejak pertengahan 2014, petani lebih bersemangat merawat perkebunan kopi mereka. Peningkatan kualitas ini berimbas pada meningkatnya produktivitas kopi dan harga jual yang naik berkali lipat. Jika pada tahun 2015 mereka hanya menghasilkan kopi 10 ton, tahun 2016 telah meningkat menjadi 11 ton. Bahkan di tahun 2017, produksi kopi meningkat dua kali lipat menjadi 28 ton, dari perkebunan kopi seluas 272 hektar. Perkebunan itu terdiri dari 152 hektar di Jayawijaya serta 120 hektar di Tangma dan Kurima yang masuk wilayah Kabupaten Yahukimo.

Dengan setoran kopi sebanyak itu, Maximus harus bekerja lebih keras memasarkan kopi yang dibeli dari petani ke distributor dan pabrik pengolahan kopi. Ia terbang ke Jayapura, ibukota Papua, membawa sampel kopi untuk ditawarkan kepada PT Garuda Mas. Ia juga menemui pengurus Koperasi Kopi Amungme bernama Arnold di Kabupaten Mimika.

Kini, di Jayapura, satu kemasan biji kopi arabika seberat 250 gram dijual pedagang Rp 70.000. Di Timika seharga Rp 80.000. Setelah masuk ke kota-kota besar lain, seperti Jakarta, harganya lebih tinggi lagi. Padahal dulu, kata Maximus, jangankan bermimpi menjual dengan harga tinggi, bisa laku terjual saja sudah bagus.

Harga penjualan masih tinggi karena biaya angkut kopi dengan pesawat dari Wamena cukup mahal. Meski begitu, permintaan kopi dari Pegunungan Tengah, yang di pasar sering disebut kopi wamena, terus mengalir. Dalam satu pengiriman, Maksimus bisa memasok 1 ton-2 ton kopi ke Jayapura dan Timika.

Heki Awolok, Hape Awolok.

Inilah prinsip hidup Maximus Lani. Dalam bahasa suku setempat di Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Heki Awolok Hape Awolok  berarti tangan bekerja, mulut makan. Prinsip hidup inilah yang membuat kakek dengan tujuh anak dan enam cucu ini  kini dikenal di wilayah pegunungan tengah Papua sebagai petani kopi jenis Arabika yang sukses dan konsisten.

Berkat  sukses dari usaha kopinya, Maximus  mampu menyekolahkan ketujuh anaknya hingga pendidikan tinggi. Ada yang sudah mengenyam pendidikan strata dua, ada pula yang sedang mengenyam pendidikan pilot. Dari kopi, semua itu terwujud.

Bukan hanya anaknya, cucunya pun mendapat buah dari kerja keras Maximus. “Cucu saya ada yang jadi Polwan, ada yang menjadi Barista, juga ada yang sekolah manajemen,” kata Maximus.  

Bagi Maximus, pekerjaan dan pendidikan merupakan hal yang paling utama. “Saya harus bekerja dengan keras, karena kalau tidak bekerja, maka tidak bisa terwujud semua keinginan mencapai pendidikan untuk anak cucu saya,” ujarnya.

Bukan hanya Maximus seorang. Kini semua petani kopi di Pegunungan Tengah Papua bisa tersenyum. Kopi telah menjadi penopang perekonomian banyak keluarga. Pada masa panen raya kopi, petani semakin rajin mendatangi koperasi untuk menyetor biji kopi.

Mereka berasal dari tujuh sentra perkebunan kopi di Jayawijaya, yakni Yagara, Piramid, Hubi Kosi, Muliama, Kurulu, Jalengga, dan Pugima, serta dua distrik di Kabupaten Yahukimo, yakni Tangma dan Kurima.

Kopi Yagara, Wamena, bahkan sudah mulai banyak dikenal. Sama seperti kopi Papua lainnya yakni Kopi Pegunungan Bintang dan Kopi Paniai Moenamani. Sejak awal, kopi yang diproduksi warga Kampung Yagara selalu menggunakan bahan-bahan alami.

“Kami sudah paham soal kopi, tapi secara tradisional. Dengan dukungan ahli kopi dan pengusaha yang datang kemari untuk melihat kopi kami, kini semua petani kopi sudah merawat kopi sesuai dengan standard,” jelas Maximus.

Dari perkebunan kopi di Lembah Baliem dengan ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut, di tengah udara yang sejuk, bumi Yagara menghasilkan kopi beraroma kuat dan harum.

Namun dengan semua pencapaian ini, Maximus masih belum merasa puas. "Saya ingin petani tak hanya memasok bahan baku. Suatu hari, kami mesti memiliki industri pengolahan kopi sendiri sehingga bisa mendapat keuntungan yang layak," tuturnya.(234)

BERITA TERKAIT