Kisah Malin, Peternak Sapi Tanah Datar

Jumat, 30 Agustus 2019, 17:21 WIB

Peternakan Malin layak menjadi tempat peristirahatan bagi sejumlah kalangan dan menjadi obyek agrowisata. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET -- Pandanglah kegagalan sebagai hal biasa dalam kehidupan sehingga Anda tidak perlu meratapinya.  Bahkan ada kata bijak, sukses hanya pantas disematkan kepada mereka yang telah lebih dulu mengalami kegagalan.

Pada kenyataannya, banyak orang-orang  sukses yang  dulunya pernah gagal bahkan berkali-kali. Sebut saja Bill Gates, Colonel Sanders dan masih banyak nama lainnya. Hal ini pula yang pernah terjadi pada Malin Nasir.

Sempat bangkrut menjadi petani cabai, pria Minang tersebut kini telah sukses menjadi peternak sapi. Namanya tak begitu asing di bisnis sapi Indonesia. Pria yang akrab disapa Malin itu adalah pemilik peternakan Tanjung Abadi. Usaha peternakan sapinya berlokasi di Tanjunglurah, Salimpauang, Tanah Datar, Sumatra Barat. 

Boleh dibilang, sukses yang diraih Malin  saat ini adalah buah dari gagalnya usaha pertanian yang pernah ia jalani sebelumnya. Jauh sebelum meneguk manisnya sukses bisnis sapi, Malin sudah merasakan kesuksesan dari dunia pertanian saat menjadi petani cabai.

Tanpa berbekal pengalaman sama sekali, Malin saat itu mengelola kebun cabai yang akhirnya mengantarkannya ke gerbang kesuksesan besar. Capaian itu bahkan ia raih saat Indonesia didera krisis ekonomi tahun 1988. Tentu saja, kesuksesan ini adalah sebuah hal langka saat  kebanyakan orang justru terpuruk secara ekonomi.

Berkat kesuksesannya bertanam cabai tersebut, ia bisa membangun rumah untuk keluarganya dan juga membeli mobil pick up untuk mendukung usahanya. Lepas beberapa tahun pasca masa keemasannya tersebut, kebun cabai Malin diserang hama penyakit.

Kondisi ini tak pelak membuat kondisi perekonomian keluarganya goyah.Rugi besar tak dapat dihindari. Bermodalkan sisa laba kebun cabai yang tersisa  Rp 9 juta, ia kemudian memutuskan untuk beralih profesi menjadi peternak.

Tak seperti saat menanam cabai yang tanpa bekal ilmu apapun, kali ini Malin lebih berhati-hati. Ia pun rajin menimba ilmu baik dari buku, majalah maupun mendatangi penyuluh serta  peneliti.

Malin memulai pergulatannya dengan dunia peternakan tak langsung dengan memelihara hewan ternak, melainkan dengan menanam lahannya dengan rumput dan membuat kandang kapasitas 12 ekor, serta sumur.

Modal Rp 9 juta yang ia miliki pun habis untuk kebutuhan tersebut.  Malin kemudian memelihara 2 ekor sapi milik orang lain dengan sistem bagi hasil.  Pola ini ternyata menjadi permulaan yang baik untuk bisnisnya. Keuntungan mulai bisa dirasakan Malin dan semakin lama ternaknya semakin berkembang.

Kebangkrutan di masa lalu sebagai petani cabai tanpa bekal pengalaman sepertinya menjadi pelajaran penting bagi Malin saat menekuni bisnis ternak sapi. Ia pun aktif tergabung dalam kelompok tani di daerahnya, yaitu di Tanjung Lurah. Bergabung  bersama beberapa peternak lain.

Berkat keseriusan Malin dan kelompoknya dalam beternak sapi, dinas terkait pun akhirnya memberi pembinaan dan bantuan peralatan serta  bangunan. Bantuan bentuk lainpun kemudian berdatangan, mulai dari sapi, kandang, peralatan chopper, biogas, rumah kompos, kendaraan angkut, dan berbagai hal lain yang dibutuhkan di peternakan sapi.

Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) setempat pun kemudian juga memberikan bimbingan ke peternakan Malin, terkait teknologi pakan dan pengolahan limbahnya. Sejauh ini teknologi yang telah diterapkan oleh peternakan tersebut adalah jerami fermentasi dan teknologi Ragur 100, untuk fermentasi kulit kakao juga teknologi pengolahan kompos. 

Teknologi Ragur 100 yang dimaksud adalah pencampuran ragi tape, gula, urea masing-masing 100 gram yang dilarutkan dalam 20 liter air, lalu diaerasi dengan aerator aquarium selama 48 jam atau 2 hari 2 malam. Larutan tersebut selanjutnya digunakan untuk memfermentasi kulit kakao.

Malin sendiri menggunakan ragur 100 tidak hanya untuk kulit kakao, melainkan juga untuk sayur afkir, terong, buncis dan lain-lain. Usai jadi, racikan tersebut lantas digiling dengan hamer mill, sehingga menjadi jus , baru kemudian diberikan pada sapi.

Di tengah bisnis peternakan sapinya yang mulai berkembang, Malin mulai berninovasi. Ia bahkan mampu membuat pupuk kompos dan pupuk cair dari air seni sapi yang memiliki nilai ekonomi. Hebatnya lagi, meski pupuk kompos dan pupuk cair dari hasil air seni sapi itu dibuat tanpa menggunakan alat modern, tetapi telah berhasil lolos uji laboratorium pertanian. Hal ini menandakan bahwa pupuk racikan Malin layak diperjualbelikan dan digunakan untuk petani. 

Dengan inovasi ini, tak dipungkiri Malin bisa mendapatkan penghasilan ganda. Bukan hanya dari usaha peternakan sapi, melainkan juga dari menjual pupuk racikannya tersebut. Satu hal yang dicontoh dari peternakan milik Malin adalah rapi, asri dan bersih. Peternakan Malin bahkan layak menjadi tempat peristirahatan bagi sejumlah kalangan dan menjadi obyek agrowisata. 

Kesuksesan yang telah diraih Malin membuatnya menjadi sosok penting di daerahnya. Di samping sibuk dengan usaha pembibitan dan budi daya sapi di peternakannya,  Malin sering  menerima kunjungan dari Dinas Peternakan daerah lain untuk studi banding.

Malin yang tak menempuh pendidikan tinggi di bidang peternakan,  kini justru menjadi  guru dan dosen  bagi para peternak pemula, mahasiswa serta para  praktisi peternakan dalam hal usaha pembibitan dan pembudidayaan sapi.  Pengalamannya beternak sapi telah memberinya banyak ilmu untuk dibagi.(234)

BERITA TERKAIT