Puasakan Belut untuk Hindari Stres Saat Pengangkutan

Sabtu, 13 Januari 2018, 21:39 WIB

Stres pada ikan dapat ditekan dengan peningkatan salinitas air. | Sumber Foto:Humas IPB

AGRONET - Pemberokan atau pemuasaan ikan yang dilakukan sebelum kegiatan pengangkutan hidup bertujuan menurunkan laju metabolisme, agar kualitas air pengangkutan lebih stabil. Selain itu, diharapkan dapat membantu pemulihan stres akibat penangkapan dan dapat mencegah kematian ikan selama pengangkutan. Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi stres adalah dengan peningkatan salinitas (kadar garam) air media pemberokan belut, yang diharapkan dapat menekan stres belut dan memulihkan kondisi fisiologis belut sebelum diangkut.

Tim peneliti yang terdiri dari Yani Hadiroseyani, Sukenda, Enang Harris Surawidjaja dan Nur Bambang Priyo Utomo dari Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB), beserta Ridwan Affandi Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK-IPB melakukan sebuah penelitian terkait efek pemberokan dalam media bergaram (bersalinitas) pada fisiologis belut. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons fisiologis ikan belut Monopterus albus pada pemberokan dengan tingkat salinitas berbeda.

 “Belut yang digunakan untuk penelitian berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Penangkapan belut menggunakan alat setrum ikan dan dilakukan pada malam hari pada pukul 22.00 – 02.00 WIB di area persawahan yang telah dipanen mengikuti prosedur yang biasa dilakukan para penangkap belut. Pukul 08.00 esok harinya, belut telah terkumpul dari lima orang penangkap,” tutur Yani.

Dalam percobaannya, peneliti ini menggunakan ikan belut berukuran panjang rata-rata 26,64 centimeter dengan bobot rata-rata 12,57 gram. Biomassa (bobot keseluruhan) belut adalah 1 kilogram dalam 5 liter air atau pada densitas (kepadatan) 200 kilogram per kubik. Pemberokan dilakukan pada wadah bak plastik berwarna coklat berukuran 80 cm x 40 cm x 30 cm sebanyak empat unit. Masing-masing diisi 5 liter air sesuai dengan salinitas yang diujikan, peningkatan salinitas dilakukan dengan menambahkan garam krosok (NaCl) sesuai dosis perlakuan. Belut diberok selama tiga hari dalam media air dengan perlakuan empat tingkat salinitas, yaitu nol gram per liter, tiga gram per liter, enam gram per liter, dan sembilan gram per liter.

Penelitian yang juga merupakan bagian dari disertasi Yani Hadiroseyani ini memberikan hasil tentang perubahan fisiologis yang diakibatkan pemberokan dengan media bersalinitas. Peneliti ini menemukan bahwa pemberokan mengakibatkan kadar kortisol meningkat. Akan tetapi peningkatan salinitas dapat menekan kadar hormon tersebut. Kadar natrium plasma darah ikan belut mengalami peningkatan sejalan dengan semakin tingginya salinitas.

Kadar glukosa belut yang diberok pada salinitas nol dan tiga gram per liter secara statistik lebih tinggi dan berbeda sangat nyata dibandingkan dengan belut pada salinitas enam dan sembilan gram per liter. Hal sebaliknya terjadi pada kadar glikogen hati, yaitu secara statistik lebih rendah pada salinitas 0 dan 3 gram per liter dibandingkan dengan belut pada salinitas 6 dan 9 gram per liter. Pemberokan selama tiga hari pada semua perlakuan salinitas tidak mengakibatkan perubahan nilai faktor kondisi belut. Namun demikian, ikan belut memberikan respons fisiologis yang paling baik pada pemberokan tiga hari dalam media air bersalinitas 9 gram L-1.

“Pemberokan dalam media air menunjukkan ikan belut mengalami stres dan memperlihatkan peningkatan kadar kortisol dan glukosa darah. Namun, stres tersebut dapat ditekan dengan peningkatan salinitas air yang mengakibatkan penurunan gradien osmotik, dan memperbaiki status fisiologis belut selama pemberokan. Respons fisiologis terbaik diperoleh pada pemberokan hari ketiga dalam media air bersalinitas 9 gram per liter, yaitu memiliki nilai gradien osmotik paling rendah (0,090 mOsmol kg-1) , kadar sodium plasma darah tertinggi (84,20 milimol L-1, kadar glukosa terendah (21,52 mg dL-1) dibandingkan dengan awal pemberokan dan dengan salinitas yang lebih rendah,” ujarnya. (Humas IPB/111)