Mentimun dan Belimbing Mujarab Turunkan Darah Tinggi

Kamis, 19 April 2018, 14:17 WIB
  • Mentimun
  • belimbing

AGRONET-Ini kisah nyata. Sekitar tiga tahun lalu, penulis hendak menyumbangkan darah di kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Selatan. Ketika dites kadar hemoglobin (Hb), hasilnya baik, yaitu 15,4.

Namun, dokter menolak penulis untuk menjadi donor karena tingginya tekanan darah saat itu. Saya pun tak jadi donor. Sorenya, saya memeriksakan tekanan ke dokter. Ternyata hasilnya memang tinggi, yakni 180/105.

Saat dokter menuliskan resep, saya sempat bertanya, apakah benar memakan mentimun bisa membantu untuk menurunkan tekanan darah? Dokter pun membenarkan hal itu. Menurut dokter itu, konsumsi rutin mentimun minimal dua hari sekali akan membantu menormalkan tekanan darah.

Pulang dari dokter, obat dari resep dokter tidak saya konsumsi. Saya hanya makan mentimun ukuran sedang dua buah. Itu terus saya lakukan selama lima hari dan tanpa mengonsumsi obat. Kemudian saya periksa tekanan darah dan ternyata sudah berada di posisi 130/85 atau tergolong normal untuk usia 50 tahun.

Sayangnya, saya tidak telatan untuk rutin mengonsumsi mentimun. Setahun kemudian, kepala saya tiba-tiba terasa berat. Saya mencoba mengukur tekanan darah, ternyata tensi saya mencapai 170/110.

Maka, konsumsi mentimun kembali saya lakukan secara rutin. Seminggu kemudian, tensi saya bisa mencapai 120/80. Lalu saya kembali menemjui dokter yang pernah memeriksa tekanan darah saya dan bercerita tentang kegunaan mentimun.

Sang dokter itu menjelaskan, bahwa konsumsi rutin mentimun bisa menurunkan tekanan darah tinggi. Namun, menurut dia, buah yang lebih efektif menurunkan tekanan darah tinggi adalah belimbing. Ini bukan belimbing untuk sayur (wuluh) yang rasanya asam akan tetapi buah belimbing yang segar.

Dokter itu juga berpesan, untuk gangguan tekanan darah tinggi yang akut jangan hanya diatasi dengan mengnosumsi belimbing atau mentimun. Dalam kondisi seperti itu, dia tetap menyarankan agar segera menghubungi dokter atau rumah sakit terdekat untuk menanganinya. Obatan-obatan medis tetap diperlukan untuk kondisi pasien seperti ini. (442)

BERITA TERKAIT