Budi Daya Udang Kualitas Ekspor Ini Murah, Alami, dan Untung Besar

Kamis, 01 November 2018, 10:45 WIB

Pembudi daya menyiapkan lahan sebagai kunci keberhasilan budi daya udang yang alami dan murah. | Sumber Foto:Puslatluh BRSDM KKP

AGRONET -- Dalam budi daya udang windu, kelompok pembudi daya ikan (Pokdakan) Cempae di Desa Waetuoe Kecamatan Lanrisang, Pinrang, Sulawesi Selatan, sudah terbiasa tidak menggunakan pakan buatan pabrik. Alasannya, selain dapat menghemat biaya produksi juga taat pada aturan yang dikeluarkan oleh eksportir udang windu PT. Alter Trade Indonesia (Atina).

Abd. Salam Atjo, Penyuluh Perikanan Madya, kemarin (31/10) menerangkan Pokdakan Cempae merupakan salah satu kelompok binaan khusus penyuluh perikanan. Kelompok tersebut masih belia dan berada pada kawasan kebangkitan udang windu. Menurutnya, secara perlahan teknologi budi daya udang mulai ditingkatkan namun tetap ramah lingkungan. 

Udang windu hasil budi daya tambak dari Pinrang sebagian besar diekspor ke Jepang. Konsumen udang di negeri tersebut sangat menyukai udang windu yang diproduksi secara alami dan ramah lingkungan, tanpa bahan kimia dan pakan buatan pabrik.

Pembudi daya udang  Pokdakan Cempae, Muh. Sukri,  menjelaskan dia bisa panen udang windu tanpa asupan pakan buatan pabrik. Di atas lahan tambak sekitar 1,5 hektare, setiap siklus ditebar benur udang windu sebanyak 20.000 ekor. Selain benur juga di atas lahan yang sama ditebar nener bandeng 1.500 ekor.

Kedua jenis komoditas perikanan air payau itu dipelihara secara polikultur (campuran) selama 90 hari hanya mengandalkan makanan alami dan ikan rucah. “Sebelum tebar kita lebih dahulu melakukan persiapan tambak selama kurang lebih 30 hari,” ungkap pria yang disapa Lakurri itu.

Persiapan tambak yang dilakukan meliputi pengeringan, perbaikan pematang dari bocoran, pengangkatan lumpur terutama dari sudut tambak, pemberantasan hama, dan pemupukan dasar tambak. Selama dalam persiapan tambak, Lakurri sangat pantang dengan bahan kimia.

Untuk memberantas hama ikan-ikan liar menggunakan pestisida organik berupa biji teh (saponin). Pupuk organik digunakan secukupnya agar makanan alami dapat tumbuh subur. “Jika semua kegiatan persiapan sudah kita jalani dengan sempurna maka dilakukan pemasukan air pada saat air pasang laut sedang naik,” jelasnya.

Cara memasukkan air dari saluran ke petakan tambak menggunakan saringan berlapis agar benih hama tidak ikut lolos masuk ke dalam tambak. Lokasi tambak yang ada di kawasan kelompok pembudi daya ikan Pokdakan Cempae termasuk kelas satu. Selain dekat dengan jalan raya, suplai air dari saluran ke petakan tambak tanpa perlu menggunakan pompa.

Dikatakan Sukri yang juga sekertaris Pokdakan Cempae, bertambak udang windu memerlukan ketelitian dan kedisiplinan yang ketat. Sebab, sedikit saja lalai dalam persiapan maka dapat berakibat buruk pada saat proses budi daya.

Menurutnya, kunci keberhasilan bertambak udang tradisional ada pada persiapan dalam menumbuhkan makanan alami. Banyak jenis makanan alami yang bisa tersedia dalam tambak, dan memiliki cara sendiri untuk menumbuhkannya.

Jenis makanan alami yang diperlukan di tambak disesuaikan dengan umur dan perkembangan udang. Jika udang masih kecil maka jenis makanan alami yang ditumbuhkan adalah zooplankton atau hewan-hewan halus. “Berbeda jika udang sudah masuk umur 25 hari ke atas memerlukan makanan alami yang sesuai dengan bukaan mulut udang seperti phronima sp dan cacing sutera,” kata Lakurri.

Meski demikian pertumbuhan plankton tetap dibutuhkan untuk menjaga netralitas air tambak. Plankton yang baik untuk pertumbuhan udang windu adalah jenis skletonema dan diatomae ditandai dengan warna air tambak coklat kehijauan.

Jika makanan alami sudah menipis sementara udang windu belum mencapai ukuran yang diinginkan maka petambak biasanya menggunakan ikan rucah. Jenis ikan rucah seperti mujair sebelum diberikan pada udang di tambak lebih dahulu dimasak atau direbus. “Ikan mujair lebih baik kita masak dulu agar telur mujair tidak menetas di tambak,” katanya.

Setelah dipelihara sekitar 90 hari,  Lakurri bisa panen udang windu 200 kilogram dengan ukuran 25-30 ekor per kilogram, dengan hasil penjualan Rp23 juta. Selain windu juga panen bandeng 300 kilogram dengan hasil Rp6.750.000.

Sedangkan biaya operasional meliputi persiapan tambak Rp1.500.000, benur Rp800.000 dan nener bandeng Rp200.000. Sewa lahan dan tenaga kerja sekitar Rp8 juta. Selama satu siklus (4 bulan), dia mendapatkan hasil bersih sekitar Rp19.250.000 atau Rp4.812.000 per bulan. “Sebelum ada pendampingan dari penyuluh perikanan hanya mampu panen sekitar 100 kilogram per siklus,” katanya. (591)