Mem’branding’ Ayam Geprek Hara Chicken

Kamis, 20 Juli 2017, 19:30 WIB

Sunan Hasan dan gerobak Hara Chickennya

AGRONET – Ayam geprek seolah identik dengan ’bisnis warungan’. Biasanya sangat enak, namun sering tidak menjadi tujuan para konsumen. Dianggap kurang bergengsi. Di tangan Sunan Hasan, MBA dari sebuah universitas di Filipina ini, ayam geprek menjadi berkelas. Sunan mem’branding’ ayam gepreknya dengan merek Hara Chicken.

Sunan, kelahiran Magetan Jawa Timur ini, memulai bisnis dari bidang komunikasi. Ia mengelola sejumlah majalah internal perusahaan, menjalankan usaha biro grafis, hingga ’visual branding’ di Jakarta. Pengalaman tersebut membuatnya berhubungan dengan banyak klien. Ia membantu banyak usaha untuk mengembangkan ’brand’. Mulai dari usaha kecil menengah (UKM), sampai dengan BUMN yang melakukan ’rebranding’.

Jogja mempertemukannya dengan ayam geprek. Itu diawali dengan interaksinya dengan para pegrafis Jogja. Jakarta punya selera, Jogja punya kreativitas. Sunan mempertemukan keduanya untuk mengembangkan ’branding’ berbagai usaha kliennya. Hal yang membuatnya memindahkan markas usaha dari Jakarta ke Jogja.

Di Jogja itulah ia merasakan ayam geprek di sebuah warung. ”Enak banget,” katanya. Namun ia tetap fokus pada biro grafisnya. Pelan-pelan ia mulai masuk ke bisnis ayam goreng karena diajak temannya yang telah usaha tersebut. Ia terlibat dalam dua usaha ayam yang berbeda. Meskipun demikian, ia belum tergerak masuk bisnis ayam geprek. Baru setelah ada yang datang padanya untuk mencari pekerjaan, Sunan mulai berpikir masuk ke bisnis itu.

Lokasi dan SDM selalu menjadi tantangan untuk memulai membangun gerai bisnis makanan. Tak terkecuali untuk ayam geprek. Hal itu tentu harus diatasi. Tetapi, buat Sunan, yang lebih menantang adalah bagaimana mem’branding’ bisnisnya itu. Ia banyak membantu mem’branding’ usaha lain. Tentu harus sukses mem’branding’ bisnisnya sendiri.

Dalam pandangan Sunan, ’branding’ tidak boleh dilepaskan dari kualitas. ”Buat apa ’brand’nya terkenal, tapi kualitas produknya tidak?” katanya. Justru landasan ’branding’, menurutnya, haruslah kualitas produknya. Maka, ia meriset sendiri ayam geprek yang hendak dijualnya. Mulai dari pemilihan ayam, marinasi, bumbu pilihan, hingga penggorengan deep fryer agar Hara Chicken memiliki standar yang bagus dan menghadirkan rasa yang lebih terjamin.

Soal nama ayam geprek Hara Chicken? Ini soal positioning. Ia ingin ayamnya yang enak itu dapat menjangkau masyarakat seluas mungkin. Gerai ayam gepreknya ditegaskannya untuk berbasis gerobak. Untuk itu, namanya harus gampang disebut disebut, merakyat, namun juga bergengsi. ”Hara itu harapan rakyat, murah harganya, mudah dicari, dan enak rasanya,” katanya.

Untuk memastikan keenakan rasanya, ia melakukan blind test. Pada para responden disajikan ayam geprek dari berbagai warung dan restoran lainnya. Mereka diminta makan ayam itu secara acak, tanpa mengetahui asalnya. Sebanyak 60% responden menyebut ayam geprek dari Hara Chicken yang terenak. Sisanya memilih dari beberapa usaha yang berbeda.

Merah dipilih sebagai warna gerobak Hara Chicken. Banyak pertimbangan dari aspek pewarnaan ’brand’ ini. Salah satunya adalah kecenderungan banyak penyuka ayam geprek soal pedas. Merah sedikit banyak identik dengan pedas.

Sejalan dengan itu, ia pun meluncurkan slogan atraktif. ’Hara Chicken, ayamnya nyuzz, gepreknya nyoozz.’ Slogan yang mengundang para penyuka pedas, walaupun yang kurang suka cabai pun dapat merasakan kelezatan ayam ini karena cabai untuk sambal gepreknya sesuai permintaan. Diulek dan digeprek langsung di hadapan konsumen.

Dengan ’brand’ Hara Chicken-nya itu Sunan percaya diri gerobak ayam gepreknya akan menjadi tujuan semua kalangan tanpa kecuali. Sebagai pendatang baru di bisnis kuliner di Jogja, ia segera merebut hati konsumen. Itu terlihat dari pembeli yang terus mengalir mendatangi gerobak Hara Chicken.

Sukses di Jogja, ia pun melebarkan sayap usahanya ke berbagai daerah. Klaten dan Boyolali pun dirambahnya. Selain itu, ia juga sudah mulai membuka gerai di Jakarta, yakni di kawasan Salemba. Langkah yang diharapkannnya dapat melahirkan ribuan pengusaha gerobak melalui ayam geprek.

”Saya ingin mereka benar-benar menjadi pengusaha gerobak, dan bukan sekadar bekerja untuk saya,” kata Sunan. Untuk itu, ia telah memulai langkah pertamanya. Yakni mem’branding’ ayam gepreknya sebagai ’Hara Chicken, ayamnya nyuzz, gepreknya nyoozz’. (312)

BERITA TERKAIT

Komunitas