Novi Kurnia Setiawati Pertahankan Kualitas Abon Warisan Leluhur

Minggu, 04 Pebruari 2018, 20:29 WIB

Novi Kurnia Setiawati

AGRONET - Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Purbalingga, Jawa Tengah tanpa membawa pulang abon legendaris ‘Cap Koki’.  Siapa sangka abon ‘Cap Koki’ ini sudah mulai diproduksi sejak Tahun 1940, meskipun saat itu belum bermerk.  Founder abon Cap Koki, Novi Kurnia Setiawati menyebutkan, “Awalnya Eyang Saya, Hj. Achwani, coba-coba membuat menu olahan sapi yang cocok untuk balita.  Kemudian turun ke Ibu Saya, Hj. Pujiati Subagyo, cucu dari Hj. Achwani.”

Hj. Pujiati mulai memproduksi sejak Tahun 1968.  Kala itu, Hj. Pujiati merintis dari nol.  Bermodalkan resep abon yang belum baku dari sang nenek, Hj. Pujiati dengan gigih terus menekuni produksi abon hingga memperoleh kuncian yang pas.  Dari tiga orang putra Hj. Pujiati, Novi lah yang meneruskan usaha abon ini.  Di tangan Novi, pada 28 Januari 2015, abon Cap Koki telah memperoleh HaKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).  Skala usaha pun meningkat, penerapan tekhnologi sudah mulai dijalankan tanpa meninggalkan pakem yang ada.

“Zaman Eyang dan Ibu saya belum ada mesin pembuat abon seperti sekarang.  Dengan perkembangan zaman Saya terus belajar menyesuaikan resep yang sudah ada agar cita rasa yang dihasilakn tidak berubah meskipun menggunakan mesin,” kata Novi.  Masa-masa kritis merintis usaha telah dilewati ibunda Novi, peranan Novi hanya mempertahankan abon warisan leluhur ini.  Meskipun hal itu tidak lah mudah.  Novi terus belajar, terus mendengarkan masukan, dan mempertahankan kualitas.

Konsisten dalam memilih bahan baku, baik daging maupun rempah, selalu Novi pegang teguh. “Hari ini sapi dipotong, hari ini juga produksi abon sapi diolah sampai jadi,” tegas Novi.  Rumah Potong Hewan (RPH) Purwokerto tempat yang Novi pilih untuk memperoleh daging kualitas terbaik.  Novi percaya RPH Purwokerto sudah terstandar ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). 

Novi juga mempersiapkan pasokan sapi.  Ia tidak ingin menjadi ‘besar’ sendirian, para petani ia libatkan dalam memelihara sapi.  Tidak tanggung-tanggung Novi membayar daging pesanannya di muka.  Petani hanya tinggal menyetor daging kualitas nomor satu pada Novi.  Secara berkala para petani diberikan edukasi oleh Dinas terkait agar kualitas ternaknya terjaga.

Tidak hanya satu atau dua orang petani yang menjadi mitra Novi.  Kelompok petani sapi lah yang terus memasok daging untuk dijadikan Abon Cap Koki.  Pasalnya, setiap kali produksi Novi membutuhkan daging sapi berkisar 60 sampai 80 Kg (kilogram).  Fantastis bukan? Kini pasar nasional sudah menerima produk olahan Novi, terlebih toko-toko premium di Karesidenan Banyumas.

Kerja keras dan kegigihan yang ditanamkan leluhur Novi mengantarkannya meraih berbagai penghargaan.  Tahun 2014, Novi mendapat penghargaan dari pemerintah dalam ketagori Pertanian Berdaya Saing.  Satu tahun berselang, lewat Satria Brand Award 2015, abon Cap Koki menjadi produk pilihan masyarakat Jawa Tengah dan dinyatakan sebagai Produk Usaha Kecil Menengah (UKM) berstandar Nasional.

Masih dalam tingkat UKM, Tahun 2016, abon Cap Koki memperoleh UKM Pangan Award.  Dan di tahun 2017 produk ini menjadi 10 besar food start up Indonesia serta masuk dalam grup penjualan terbaik.  Berbagai penghargaan yang sudah Novi raih tidak membuatnya terlena.  Seperti Ibundanya, Novi pun sudah memperisapkan putra putrinya untuk melanjutkan tongkat ekstafet ini.

Novi kerap mengajak keempat putra-putrinya ke pasar tradisional untuk mengenali bahan-bahan berkualitas. “Dengan cara seperti itu secara tidak langsung Saya mengajarakan pada anak-anak.  Saya tidak tahu mana yang nantinya akan serius meneruskan usaha ini,” jelas Novi.

Selain mempersiapkan kader penerus, Novi juga berinovasi dengan berbagai olahan.  Srundeng kacang, kering kentang, bumbu pecel, dan abon ayam, sederet produk yang Novi kembangkan.  Dengan berkembangnya usaha yang telah ia rintis, Novi berharap agar abon Cap Koki semakin maju, dapat menembus pasar mancanegara, membanggakan Purbalingga, serta anak cucu mampu pertahankan kualitas abon warisan leluhur. (269)

BERITA TERKAIT

Komunitas