Ayam Kampung Membawa Bambang Raup Omzet Ratusan Juta Rupiah

Minggu, 18 Pebruari 2018, 22:11 WIB

Bambang Krista saat mengadakan pelatihan betenak ayam kampung.

AGRONET - Membahas bisnis ayam dalam jumlah besar, tentu yang ada di benak kita adalah ayam petelur atau ayam pedaging. Amat jarang ada peternak ayam kampung yang bisa tumbuh besar. Salah satu di antara mereka adalah Bambang Krista.

Setelah lulus dari Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang, pria kelahiran Solo 5 Oktober 1963 ini  menggeluti usaha beternak ayam pedaging (broiler) di Bekasi, Jawa Barat pada sekitar tahun 1990. Bisnis ini tampaknya berjalan normal-normal saja, bahkan terlihat prospektif. Bambang pun merasa nyaman dengan usaha ternak ayamnya.

Tanpa diperhitungkan sebelumnya, terjadilah krisis ekonomi pada tahun 1998. Harga pakan ayam pun melonjak drastis, seiring menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, sedangkan harga ayam tak ikut terdongkrak naik. Akibatnya, banyak peternak ayam pedaging dan petelur yang gulung tikar. Demikian pula dengan Bambang. Pelan dan pasti, usaha ternak ayamnya kian surut. Dia pun tak kuasa menahan kerugian terus-menerus.

Akan tetapi, kecintaannya pada ayam tak jua hilang. Ia memutar otak untuk terus bergelut di bidang ternak ayam. Akhirnya, pilihan jatuh pada ayam kampung.

Kemudian Bambang melakukan riset untuk menemukan bibit ayam kampung unggul. Dia awali  dari mencari induk unggul hingga telur yang layak ditetaskan. Ia lakukan kawin silang beberapa jenis ayam kampung untuk mendapatkan hasil terbaik. “Saya sampai memerlukan enam kali kawin silang ayam kampung untuk mndapatkan jenis unggul,” paparnya.

Dia pun menemukan DOC (ayam umur sehari) ayam kampung unggul yang diberi nama DOC ayam kampung super.  Keunggulan DOC ayam kampung super itu terletak pada usia panen. Untuk membesarkan DOC ayam kampung biasa butuh waktu empat sampai enam bulan. “Kalau DOC ayam kampung super sudah bisa panen setelah usia dua bulan,” ungkapnya.

Dari temuan DOC ayam kampung super itu, Bambang memberanikan diri membuka peternakan ayam. Dia melakukan pembibitan DOC ayam kampung super untuk dijual kepada para peternak.

Lantaran amat produktif, DOC ayam kampung super itu digemari peternak ayam kampung. Alhasil, usaha Bambang dengan nama Citra Lestari Farm pun menjadi populer di mata peternak. Banyak peternak ayam kampung beralih membeli DOC milik Bambang karena lebih menguntungkan dari sisi produksi.

Di lahan peternakan yang kini mencapai 6 hektare itu, ada tiga produk utama yang dia jual, yaitu telur, DOC (super dan biasa/murni), serta ayam konsumsi (hidup atau siap diolah). Dia menjelaskan, DOC dari peternakannya, dalam seminggu bisa terjual 40.000 ekor dan  telurnya dapat mencapai 10.000 butir. Untuk ayam konsumsi, peternakannya bisa melayani 1.500 per hari. Selain penjual ayam goreng di wilayah Jadebotabek, produksinya juga sudah masuk ke pertokoan/swalayan besar di Jakarta dan sekitarnya serta Jawa Barat.

Bambang menjual DOC Rp4.000–5.000 per ekor. Telurnya ia jual Rp1.200–1.500 per butir, sedangkan ayam konsumsi seharga Rp25.000 Rp35.000/kg. Adapun untuk ayam hidup, ia memasang harga Rp28.000/kg.  

Tak semua pasokannya dikirim ke pembeli dengan jumlah besar (swalayan). Permintaan kecil pun dia layani. “Ibaratnya, saya juga mengumpulkan uang receh,” kilah Bambang. Pendek kata, pasar tradisonoal dan pasar modern juga sudah dimasuki Bambang.

Dalam sebulan, rerata Bambang bisa memperoleh pemasukan sekitar Rp300-400 juta. Suatu jumlah yang tak sedikit utuk peternak ayam lokal. Tentu tak semua cerita Bambang adalah manis belaka. Ada masa-masa dia kesulitan keuangan dan banyak bank yang menolak saat akan menngajukan kredit karena meragukan kelangsungan usahanya. Kini sebaliknya, perbankan justru yang menawarkan pinjaman untuk pengembangan peternakan Bambang.

Bambang memiliki prinsip, bahwa kesuksesan tak bisa dijalani sendirian. Dia pun menjalin kerja sama dengan masyarakat untuk dijadikan sebagai mitranya. Sekarang dia  memiliki 20 peternak binaan di Jonggol, Bogor. Semula warga di sana hanya menggantungkan hidup dari perdagangan saja.

Bambang memasok DOC pada peternak binaannya. Setelah dibesarkan peternak, Bambang akan membantu untuk memasarkannya. Para peternak di Jonggol itu kini bisa menghasilkan 5.000 ekor ayam kampung setiap panen (dua bulan).

Dia juga punya niat lain, yakni berbagi ilmu. Bambang mengaku sering memberi pelatihan beternak ayam kampung di pelbagai kota. Secara rutin, ia juga memberikan pelatihan di Bekasi dan Cibubur, Jawa Barat. Bantuan teknis secara cuma-cuma juga sering dia berikan pada peternak yang belum lama menjalankan usahanya.

Kini prospek bisnis ayam kampung kian cerah setelah Bambang memasyarakatkan cara beternak ayam kampung secara intensif. Cara-cara beternak ayam kampung tradisional, sekarang mulai berubah ke cara beternak yang lebih modern, sebagaimana laiknya memelihara ayam ras.

Bambang berharap agar beternak ayam kampung ini terus berkembang dan bisa menjadi besar. “Saat ini banyak yang berpandangan, bahwa bisnis ayam kampung ini merupakan usaha recehan,” kata dia. Pandangan itu yang ingin dia ubah.

Bambang sering berpesan agar para peternak baru senantiasa memperhatikan kondisi kandang ayam. Kesiapan kandang, urai Bambang, sangat penting untuk meminimalkan risiko kematian bibit ayam akibat virus. Sirkulasi udara dan lingkungan sekitar kandang yang steril akan sangat berperan penting bagi perkembangan ayam.

Dia menyarankan agar kandang berada di wilayah yang tenang dan tidak dimasuki oleh sembarangan orang. “Karakter ayam itu sensitif dan gampang stres kalau ada perubahan di sekitarnya,” tutur Bambang. (berbagai sumber/442)

BERITA TERKAIT