Mozzarella ... Hmmm ... Nyam ... Nyam ...

Kamis, 03 Agustus 2017, 23:34 WIB

Tri Haryanto dengan keju mozzarella buatannya

AGRONET - Apakah Anda penggemar Cheese Burger, Lasagna, Pizza, Pasta, Macaroni Schotel atau Kaasstengels ? Jika ya, dapat dipastikan Anda menyukai keju. Karena semua makanan tersebut di atas menggunakan keju sebagai salah satu bahan bakunya.

Ada beberapa jenis keju yang kita kenal, yaitu; keju Edam, Mozzarella, Chevre, Parmesan, Stilton, Emmental, Cheedar, dan Gouda. Apa pun jenis keju, bahan baku utamanya adalah susu. Umumnya adalah susu sapi, tapi dapat pula menggunakan susu kambing, kuda, unta, kerbau, atau unta.

Keju mengandung protein, lemak, dan kalsium, sama dengan kandungan susu. Untuk 100 gram keju kira-kira setara dengan 1 liter susu. Seperti kita ketahui protein hewani berfungsi sebagai penghasil energi, lemak untuk cadangan energi, dan kalsium berguna sebagai pembentuk massa tulang.

Kata keju yang sampai sekarang kita kenal berasal dari bahasa Portugis, Queijo. Secara sederhana keju dibuat dengan cara memisahkan zat-zat padat dalam susu melalui proses pengentalan atau koagulasi dengan bantuan bakteri atau enzim tertentu yang biasa disebut dengan rennet.

Saat ini keju tidak hanya di produksi di dalam pabrik. Kita dapat membuatnya di rumah, seperti yang dilakukan oleh Tri Haryanto. Bagi Tri, begitu ia akrab disapa, keju telah menjadi bagian dari hidupnya.

Sebelum menekuni pembuatan keju, Tri bekerja di perusahaan pertambangan dan pengeboran minyak. Oleh kantornya, Tri kerap mendapat tugas ke luar negeri. Dari sinilah ia mulai berkenalan dengan berbagai macam keju dari berbagai negara yang ia dapatkan pada saat sarapan di hotel tempat ia menginap. Akhirnya ia pun menjadi ketagihan makan keju.

Sayangnya, di Indonesia keju impor harganya cukup mahal jika dibandingkan dengan keju lokal. Akhirnya, Tri memutuskan untuk mencoba membuat sendiri dengan mencari resep pembuatannya di internet. Tidak mudah bagi pria lulusan UNJ ini untuk membuat keju dengan kualitas baik. ”Butuh waktu sampai 8 bulan sampai akhirnya saya bisa mendapatkan resep yang betul-betul pas,” ujarnya.

Kecintaannya pada keju akhirnya membuat ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan yang telah ia tekuni selama 15 tahun di perusahaan pertambangan. ”Pada akhir Januari 2011, saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus untuk membuat keju,” kata pria kelahiran Purwokerto 49 tahun yang silam.

Sejak saat itu Tri membuat keju jenis Mozzarella dengan merk ”Trie’s Cheese”. Ia termasuk salah satu orang pertama di Indonesia yang mengerjakan usaha pembuatan keju rumahan. Tri bekerjasama dengan seorang peternak dan dibantu 2 orang staff untuk menjalankan bisnis ini. Sampai saat ini Tri hanya fokus pada pembuatan keju mozzarella, namun ia telah merencanakan akan mencoba membuat keju muda yang tidak memerlukan waktu pemeraman yang lama.

Tri saat ini telah membuat keju mozzarella dalam 4 varian, yaitu; Mozzaretrie (original white) yang dikemas dengan berat 250 gram, dijual seharga Rp 33.000. Untuk Mozzanero (with bamboo charcoal), keju berwarna hitam, Tri menjualnya lebih mahal, Rp 75.000 untuk berat yang sama. Sedangkan Mozzarozzo (red with carrot) dan Pepperozza (with black pepper) masing-masing diberi bandrol Rp 50.000. dan Rp 40.000.

Awalnya, Tri kesulitan untuk memasarkan keju buatannya. Ia pernah mencoba menawarkan lewat ”toko on line”. Tapi hasilnya tidak memuaskan. Baru setelah ia menawarkan lewat mailing list yang anggotanya para ibu yang hobinya memasak, keju ”Trie’s Cheese” laris manis.

Menurut Tri, tantangan bisnis ini terletak pada bagian logistik. ”Keju hanya tahan 50 sampai 60 jam di luar pendinginan,” jelasnya. Tetapi hal ini tidak menyurutkan Tri untuk terus mengembangkan bisnisnya. Saat ini saja Tri telah mempunyai sekitar 40 agen yang tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Apa yang membuat bisnis kejunya berbuah manis ? Ternyata, selain harganya yang jauh lebih murah dari keju impor, rasa dan kualitasnya pun tidak kalah. ”Dibandingkan keju impor, keju buatan saya jelas lebih fresh. Jarak antara waktu pembuatan dan penyajian keju impor, bisa berbulan-bulan. Sedangkan keju saya paling lama hanya satu minggu,” jelas Tri.

Anda tertarik untuk mencoba sendiri membuat keju seperti Tri Haryanto ? Langsung saja menghubunginya, karena Tri memang membuka pelatihan perorangan.”Saya melayani untuk permintaan individual. Saya tidak bikin kelas, hanya bersifat private di lokasi produksi,” ujarnya. (Osa Andika)

 

 

BERITA TERKAIT