Gigin Sulap Kampung Jadi Agrowisata

Minggu, 29 April 2018, 16:58 WIB

Gigin Mardiansyah

AGRONET-Ingin berlibur? Kenapa tidak merencanakan liburan ke sebuah kampung?  Kampung yang bukan sembarang kampung.  Di tangan Gigin Mardiansyah, Kampung Horta menjadi yang bernilai jual.  Tidak sekadar berwisata, seperti namanya, di Kampung Horta pengunjung akan diajak untuk bertani sambil berwisata.

Horta berasal dari boneka serbuk kayu yang memiliki rambut dari bibit rumput yang ditanam.  Gigin membutuhkan waktu setidaknya 5 tahun untuk menyulap kampung ini.  Berawal dari turunya pasaran boneka horta di tahun 2011, Gigin terus memutar otak untuk meningkatkan pendapatan ratusan keluarga yang berada Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

Kehidupan masyarakat menjadi sejahtera berkat keseriusan Gigin dalam membagun kampung.  Namun, saat penjualan boneka horta yang sempat mendunia mengalamai penurunan, pundi-pundi rupiah yang masyarakat terima kembali menurun.  “Produk kedaluwarsa,” istilah Gigin. 

Dengan kondisi yang ada, Gigin kembali memutar otak.  Pemikirannya sangat sederhana, boneka horta yang biasanya diekspor ke berbagai negara, kini giliran orang asing datang ke Kampung Horta.  Gigin memanfaatkan blog untuk menarik pengunjung datang ke Kampung Horta.

Pengunjung pertama pun akhirnya tiba di Kampung Horta.  Butuh perjuangan untuk masuk ke lokasi tersebut.  Jalan yang sempit, melalui perumahan penduduk, kabel listrik yang menjuntai menjadi permasalahan tersendiri kala itu.  Dengan piawainya Gigin mengomunikasikan pada masyarakat sekitar, hal tersebut kini sudah teratasi.

Permasalahan lain Gigin peroleh.  Seperti halnya saat Gigin pertama datang ke kampung ini, penolakan pun Gigin peroleh.  Tahun 2004, Gigin memulai merintis produksi boneka horta, hanya seorang ibu yang mendukungnya.  Saat ‘merapikan’ kampung, tidak banyak warga yang serta merta mendukung pria kelahiran Purwakarta ini.

Gigin hanya membutuhkan seorang hero yang ingin belajar bersamanya dalam mengembangkan kampung.  “Saya didampingi orang-orang yang mau berjuang, mau bertanggung jawab, dan ikhlas dalam menyulap kampung ini,” kata Gigin.  Dengan berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat yang mendukung program Gigin.

Masyarakat kampung yang memiliki dasar bertani secara turun-temurun, Gigin poles dengan keilmuan yang ia miliki dari Institute Pertanian Bogor (IPB).  Kampung Horta menjadi semakin asri.  Lebih dari 21 kegiatan tersedia di Kampung Horta.  Pengunjung dapat memilih kegiatan apa saja yang mereka minati.

Pembuatan boneka horta, cincau, dan telor asin menjadi kegiatan yang paling banyak diminati pengunjung lokal.  Berbeda halnya dengan wisatawan dari mancanegara, mereka sangat bermain lumpur di sawah. 

Keberkahan itulah yang dicari master manajemen jebolan Ibnu Khaldun Bogor.  Sebelum serius mendalami boneka horta ataupun kampung horta, Gigin mendirikan sebuah lembaga pendidikan di kampung ini.  Bermodalkan empat juta rupiah untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kini lembaga tersebut sudah berkembang hingga sekolah menegah pertama (SMP).

Dari modal tersebut, Gigin juga mengembangkan lembaga keuangan syariah guna membantu pedagang-pedagang kecil.  Menjadi pengusaha memanglah cita-citanya sejak kecil.  Kegigihan dan ketekuanan mengembangkan usaha terus ia asah, namun Gigin tetap rendah hati.

Sifat Gigin yang membumi, membuat dia disenangi banyak orang.  Matsani, misalnya, seorang pengelola CSR (tanggung jawab sosial) perusahaan swasta, menilai Gigin orang gigih.  “Saat kuliah di IPB sudah berjualan roti, meskipun secara finansial Gigin mencukupi.  Nilai-nilai tersebut yang saya ingin terapkan ke masyarakat binaan perusahaan sehingga saya sering menggundang Kang Gigin ke Cibinong,” kata Matsani.

Keberkahan tidak hanya dapat diukur dari berapa jumlah rupiah yang diperoleh.  Impian menjadi pengusaha, kini sudah Gigin wujudkan.  Gigin tidak ingin sukses sendiri, masyarakat kampung terus ia motifasi untuk berinovasi agar semakin maju.  Ekonomi masyarakat kampung menjadi semakin makmur agrowisata. (269)

BERITA TERKAIT