Agus Supriono Kembangkan Talas Satoimo

Minggu, 13 Mei 2018, 18:41 WIB

Agus Supriono Petani Talas Jepang Satoimo | Sumber Foto:Agus Supriono

AGRONET - Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Bogor, Jawa Barat tanpa menjinjing Talas Bogor.  Di era kekinian seperti sekarang, pelancong tidak perlu berat-berat membawa umbi ini, cukup dengan membeli kudapan olahan talas, lengkap rasanya membawa cendera mata dari kota hujan.

Talas yang menjadi icon kota bogor ternyata juga dikembangkan di Jawa Timur.  “Sudah enam tahun saya mengembangkan talas di Kediri,” sebut Agus Supriono sang pengembang talas.  Satoimo, seperti namanya talas ini pertama kali dipopulerkan di negara Jepang.

Bukan sebuah kebetulan Agus mengenal talas satoimo.  Perusahaan ekspor menjanjikan menampung produksi talas satoimo yang Agus kembangkan.  “Dulu rencana yang ukuran besar akan diekspor ke jepang, yang kecil di buat tepung, dan  limbah kupasanya dibuat pupuk organik cair,” rinci Agus.

Menyanggupi tawaran tersebut, Agus mengajak petani lain untuk bergabung menyiapkan talas satoimo.  “Maksud hati mau meningkatkan pendapatan petani,” harap Agus.  Apa daya, talas satoimo saat panen pun tiba, namun sang eksportir tak kunjung datang. 

Tak lekas berpasrah diri, Agus mencoba menawarkan talas satoimo ke pabrik-pabrik pengolahan makanan.  Sayangnya harga yang disepakati dibawah biaya produksi petani.  Mencermati kondisi yang ada, berbekal pengalaman bertani dari Sumatra hingga Papua,  meyakini Agus untuk memasarkan sendiri talas satoimo.

Respon positif ia peroleh dari para pembeli.  Dengan memanfaatkan media sosial, Agus terus menyosialisasikan manfaat dari talas satoimo.  Seperti yang diceritakan Ali, warga desa disekitar daerah Agus, “Setelah rutin mengonsumsi talas jepang gula darah saya menurun dan tekanan darah yang semula tinggi berangsur-angsur normnal kembali.”

Kegigihan Agus mempromosikan talas satoimo membuat permintaan umbi ini meningkat.  Agus terus berinovasi dengan olahan berbahan dasar talas satoimo.  Dibawah asuhan Budi Kefir, Agus mulai membuat getuk, kripik, tepung, mie, ice cream, yoghurt, lulur, dan sabun.

Ada dua jenis sabun yang Budi dan Agus produksi.  Sabun talas satoimo yang berwarna kuning berfungsi untuk mengencangkan dan mencerahkan kulit.  Sedangkan sabun talas satoimo yang dipadukan dengan ekstrak kelor, berwarna hijau, berkhasiat untuk pemulihan jerawat.

Bagi penikmat umbi, tekstur talas satoimo yang lembut dan tidak berserat menjadi keunggulan talas satoimo.  Para petani pun bersemangat menanam talas satoimo.  Agus menyebutkan, “Talas satoimo mudah dan cepat panen.” Serumpun talas dengan masa tanam 5 bulan dapat menghasilkan 2 sampai 3 kg umbi. 

Melihat peluang yang menjanjiakan dari talas satoimo, Agus beserta para petani menyewa sebidang tanah hingga 8 hektar (ha).  Dalam 1 ha dapat menghasilkan 30 sampai 50 ton talas satoimo.  Tergabung dalam satu jaringan, berton-ton hasil produksi talas satoimo pemasaran mudah dilakukan.

Agus pun mulai menjual langsung talas satoimo ke kota-kota besar, seperti bertahun-tahun silam saat bertani diperantauan.  Perbedaannya, kini Agus menempuh puluhan kilometer untuk mengantar talasa satoimo ke kota besar, dulu lahan yang terletak dipedalaman sehingga menuntut Agus menempuh perjalanan yang panjang untuk sampai ke pasar.

Meski jauh dari hinggar bingar kota, saat diperantauan Agus tak perlu menyewa lahan.  “Di Papua lahan masih banyak, yang penting kita mau bersihkan, lahan bisa digarap semau kita,” ujar Agus.  Agus sudah kembali ke kampung halaman, hasil dari talas satoimo juga sudah mulai ia nikmati. 

Tak lantas puas, Agus masih berjuang hingga talas satoimo yang ia kembangkan mampu menembus pasar dunia.  Seperti yang telah dilakukan para petani di Makasar yang sudah sukses mengembangkan talas satoimo.  Agus juga berharap ekonomi masyarakat di Kediri dapat meningkat lewat talas satoimo. (Indri Novitasari/269)