Es Kelapa Pam-pam, Menu Berbuka Keluarga jadi Bisnis Kuliner

Minggu, 27 Mei 2018, 20:34 WIB

Reni Pamela | Sumber Foto:Dokumen pribadi

AGRONET – Segarnya es kelapa sangat dinanti kala berbuka puasa.  Kebiasaan ini juga menjadi tradisi bagi keluarga Reni Pamela, atau biasa dipanggil Pam-pam.  “Kalo bulan puasa, mamaku selalu bikin minuman ini,” sebut Pam-pam.

Pam-pam menilai, bukan hanya keluarganya yang sangat menyukai minuman kelapa, masyarakat umum juga kerap memburu es kelapa menjelang waktu berbuka puasa.  Peluang ini pun Pam-pam gunakan untuk menghidupkan kembali bisnisnya, yang kala itu sedang kolaps.

Bisnis sepatu Pam-pam yang sudah dijalankannya mengalami penurunan.  Tidak hanya berpasrah diri, Pam-pam memutar otak untuk mencari peluang bisnis baru yang sekiranya mampu ia jalankan.  Melihat teman-temannya yang sudah terlebih dahulu berbisnis kuliner, Pam-pam berkeinginan untuk ikut mengembangkan bisnis kuliner.

Bermodalkan 1 juta rupiah Pam-pam usaha es kelapa muda.  Untuk menarik minat pembeli, es kelapa Pam-pam dikemas dalam gelas plastik cantik yang ditutup rapat.  Namun sayang, es kelapa ini tidak mampu bertahan lama.  Setelah 3 jam, es kelapa menjadi terasa asam.

Menyiasati kendala tersebut, Pam-pam selalu menyajikan es kelapa saat baru ada pembeli yang memesan.  “Biar rasanya tetap segar,” kata Pam-pam.  Tak puas dengan kemasan gelas, Pam-pam mengganti kemasan menggunakan botol.  Pam-pam terus berinovasi agar es kelapa bikinannya tetap diminati pembeli.

“Di mana ada kemauan di situ ada jalan” pepatah yang dapat mewakili perjuangan Pam-pam dalam mengembangkan bisnis kelapa ini.  Siapa sangka, saat mengikuti sosialisasi Upakarti daerah Depok, Jawa Barat, Pam-pam bertemu dengan Masternya Kelapa Indonesia, Wisnu Gadjito, promotor ‘emas hijau’.

“Ternyata rumah saya dekat dengan rumah Prof. Wisnu,” ujar Pam-pam dengan gembira.  Dari sanalah Pam-pam mulai mempelajari lebih dalam tentang ‘perkelapaan’.  Prof. Wisnu dan Sang Istri, Bunda Vipie, tak segan-segan berbagi ilmu pada Pam-pam dan rekan-rekan yang tergabung dalam sebuah koperasi.

Khusus untuk penanganan es kelapa agar tidak cepat basi, Pam-pam diajarkan teknik sterilisasi.  Hasilnya, es kelapa Pam-pam dapat bertahan seharian dalam suhu ruang.  Dengan teknik sterilisasi ini, bila es kelapa ditaruh di lemari pendingin umurnya dapat mencapai 7 hari, bahkan 3 bulan jika es kelapa ini dalam keadaan beku. 

Pam-pam menjadi semakin bersemangat dalam mengembangkan bisnis kuliner ini.  Tawaran pun berdatangan, baik dari dalam maupun luar negeri.  Bali, menjadi daerah impian Pam-pam untuk membuka cabang di sana.  “Selain tempat wisata, Bali juga daerahnya banyak pantai jadi cocok buat jualan es kelapa, apalagi kelapa kan cuma ada di daerah tropis,” rinci Pam-pam. 

Negeri Jiran, Malaysia, pun berminat memesan 1 konteiner es kelapa pam-pam, namun tak serta merta Pam-pam penuhi, banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan dengan matang.  Terlebih, pemesan menginginkan pembayaran dilakukan saat barang tiba di Malaysia.

Meskipun demikian, Pam-pam tetap berkeinginan agar produknya dikenal masyarakat luas se-Indonesia dan mampu Go International.  Perlahan tapi pasti, Pam-pam didampingi Prof. Wisnu dan Bunda Vipie terus meningkatkan mutu dari es kelapa.  Es Kelapa Pam-pam dijual belikan pada pameran, bazar ataupun sebagai oleh-oleh.

Saat ini Es Kelapa Pam-pam sudah merambah seluruh Wilayah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).  Konsumen mengenalnya sebagai minuman sehat, Es Kelapa yang berbeda dari es kelapa pada umumnya. 

Es Kelapa Pam-pam terasa seperti kelapa kopyor.  Bahan bakunya hanya kelapa muda biasa, bukan kelapa kopyor sintetis.  Pam-pam menggabungkan kelapa muda dengan agar-agar sehingga tekturnya menyerupai kelapa kopyor.

Berbagai pilihan rasa Pam-pam tawarkan.  “Awalnya hanya buat rasa cocopandan, tapi sekarang sudah ada 4 varian rasa,” sebut Pam-pam.  Atas saran dari Prof. Wisnu, varian rasa Es Kelapa Pam-pam selanjutnya yakni dengan tambahan sirup gula.  Sirup yang Pam-pam gunakan adalah sirup istimewa, Sirkel, sirup air kelapa hasil temuan Prof. Wisnu.

Pam-pam juga berkeinginan, “Pengen ada varian yang seger-seger, jadilah varian Kejer atau kelapa jeruk.” Tak lama setelah itu, Pemerintah Kota Depok meminta Pam-pam untuk mengunakan ikon lokal untuk cita rasa berikutnya, dibuatlah Bekel atau Belimbing Kelapa.

Kedepannya, Pam-pam sedang menyiapkan varian dengan menggunakan gula kelapa merah.  Banyaknya varian yang ditawarkan menjadi strategi penjualan tersendiri bagi Pam-pam.  Tak banyak kendala dalam menjual Es Kelapa Pam-pam ini.  Meskipun musim hujan, penjualan masih tetap normal.

Pam-pam menduga stabilnya penjualan disebabkan karena kemasan botol yang mudah dimasukkan dalam lemari pendingin, produk yang higienis, tahan lama, dan praktis jika dibawa untuk perjalanan.  Tak lekas puas dengan apa yang sudah diperoleh, Pam-pam juga kerap membagikan ilmunya baik hanya sekedar menjelaskan cara membuat es kelapa kopyor agar-agar saat kunjungan siswa Taman Kanak-kanak maupun sebagai narasumber pelatihan.

Layaknya orang yang haus akan keilmuan, Pam-pam juga melakukan study banding dengan rekan-rekan lainnya.  Pam-pam terus menggali cara agar es kelapa muda tetap tahan lama.  Jika temuan lain dapat diaplikasi, sangatlah berguna untuk pengembangan bisnis Es Kelapa Muda Pam-pam maupun bisnis kuliner lainnya. (269)

BERITA TERKAIT