Octafyandy: Jatuh Bangun Bisnis Limbah Batok Kelapa

Senin, 27 Agustus 2018, 16:15 WIB

Octafyandy, eksportir briket batok kelapa

AGRONET--Setelah lulus dari kuliah dari Kairo, Octafyandy, pemuda sarjana syariah asal Bukittinggi ini, tidak memilih jalan hidup seperti teman-temannya yang menjadi guru atau mengajar agama. Ia bersama teman-temannya yang gemar berbisnis justru merintis bisnis bersama di kampung halamannya.

Latar belakangnya sebagai orang Minang memang membuatnya dekat dengan niaga.  Ide bisnisnya juga muncul begitu spontan dan sederhana. Melihat begitu banyaknya limbah batok kelapa di daerahnya, Andy, begitu pria berusia 26 tahun ini dipanggil, langsung mulai mengolah limbah batok kelapa tersebut menjadi asap cair.

Pada Agustus 2015, Andy sudah mulai memproduksi asap cair bersama timnya dengan memanfatkan limbah batok kelapa yang terbuang dari masyarakat. Produksinya difokuskan di Desa Batu Hampar, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Alasannya untuk memproduksi asap cair sederhana saja, karena produksi asap cair low budget.

Saat itu setiap bulannya Andy sudah sanggup memproduksi asap cair 1500 liter per bulan. Produksi asap cair berjalan lumayan lama dengan penjualan yang bagus. Andy tidak puas sampai di situ. Ia kemudian mengembangkan produk lain dengan memproduksi arang batok kelapa. Namun, ketika harga karet anjlok, Andy terkena dampaknya, penjualan produknya juga turut anjlok.

Februari sampai Oktober 2016 bisnis Andy jatuh. Ia bahkan sempat stagnan 3 bulan lamanya dari Oktober sampai Desember 2016. Namun, Andy tidak putus asa. Semangatnya kembali membara Pada awal tahun 2017. Kebangkitannya itu ditandai dengan mulai produksi kembali asap cair, arang batok kelapa, dan bricket batok kelapa. Namun, dengan lebih concern dan fokus pada briket batok kelapa.

“Karena suplai arang kita banyak, Kita berkeinginan untuk membuat bricket. Setelah kita pelajari, saat ini kita bisa memproduksi briket maksimal 24 ton per bulan. Dan produksi arang 100 ton per bulan, ” ujar Andy.

Dalam membangun bisnisnya, Andy sangat percaya dengan konsep pemberdayaan dengan melibatkan potensi masyarakat sekitar. Suplai batok kelapanya selama ini sepenuhnya datang dari masyarakat. Dengan bisnisnya ini, Andy juga berharap dapat mengubah konsep pemahaman merantau yang saat ini sudah bukan lagi konsep mengembangkan diri, tapi sudah lebih kepada pelarian diri dari kampung.

“Kalau di minang, ‘kan tren dengan konsep merantau. Kita ingin mengubah pola itu. Karena konsep merantau sekarang bukan lagi konsep mengembangkan diri, tapi sudah lebih kepada pelarian diri dari kampung. Maka, dengan ini kita menarik pemuda-pemuda yang ada di rantau untuk membangun nagari (desa),” ucap Andy penuh semangat.

Di Desa Batuhampar, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Andy dan tim telah melibatkan kepala daerah-kepala daerah yang ada untuk memotivasi masyarakat sebagai sarana edukasi. Sehingga lebih banyak masyarakat desa yang terlibat.

Sampai saat ini sudah ada tujuh kelurahan di Kabupaten Lima Puluh Kota yang menjadi supplier batok kelapa Andy. Dan tahun 2018 ini, seluruh briket batok kelapa itu sudah bisa diekspor ke Rusia. Benar. Habis sulit mudah kemudian. (222)

 

 

 

 

 

BERITA TERKAIT