Rendang Etha Pun Menyebar Hingga Mancanegara

Rabu, 19 September 2018, 14:49 WIB

Margaretha Sari (kanan), pemilik Rendang Den Lapeh, saat pameran di Agrinex 2018

AGRONET—Lidah siapa yang tak pernah bergoyang menikmati lezatnya makanan asal Minangkabau ini. Berbahan dasar dari daging sapi dengan bumbu kaya rempah ini memang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia dan negara serumpun. Karena kelezatannya itu, rendang bahkan pernah dinobatkan beberapa kali sebagai makanan terenak nomor satu di dunia oleh CNN Internasional. Kelezatan rendang mengalahkan sushi khas Jepang, tom yum, dan pasta Italia.

Salah satu produsen rendang yang belakangan ini kian terkenal adalah rendang Den Lapeh. Ini merupakan lauk yang jadi teman paling pas di kala lapar. Hanya perlu ditemani nasi hangat, sedikit irisan sayuran, seperti mentimun, rebusan daun singkong kering, atau rebusan bayam. Lapar pun akan segera padam.

Merek rendang ini mulai muncul pada Januari 2015. Rendang Den Lapeh kini telah dijual dalam bentuk kemasan.

Adalah Margaretha Chrisna Sari, perempuan muda asal Sumatera, yang merintis brand rendang Den Lapeh ini. Nama Rendang Den Lapeh ia ambil karena terinspirasi dari lagu rakyat terkenal asal Sumatra Barat, Ayam Den Lapeh.

Etha, begitu ia biasa dipanggil, memproduksi rendang Den Lapeh dari Depok, Jawa Barat. Setelah dua tahun perjalanan merintis bisnisnya, rendang Den Lapeh kian dikenal pada tahun 2017.

“Tahun 2017 Kami sudah melayani lebih dari 10.000 pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Bahkan rendang kami sudah menjangkau Amerika Serikat, Australia, Belanda, Spanyol, Jepang, dan Perancis,” ujar Etha bangga.

Penjualannya pun mencapai lebih dari 1.000 pak per bulannya. Isi atau berat minimal per pak sekitar 250 gram.

Namun, kesuksesan yang diraih Etha hari ini bukan seuatu yang instan. Sebelum menemukan kesuksesannya dengan berbisnis rendang Den Lapeh, Etha pernah mengalami kegagalan berkali-kali dalam berbisnis.

Berbagai bisnis kuliner --seperti jus buah dan catering untuk instansi-- pernah Etha lakoni. Membuka toko baju anak di mal juga sudah Etha rasakan manis dan pahitnya. Namun, keberuntungan belum menghampiri perempuan berperawakan tinggi ini.

Di tengah kebuntuan itu, Etha akhirnya memutuskan untuk belajar bisnis online (daring). Ia berpandangan, bahwa salah komoditas rendang kemasan bisa dikembangkan dengan bisnis daring.

“Sampai akhirnya saya belajar bisnis daring. Salah satu produk yang bisa dikembangkan secara daring adalah rendang kemasan siap saji ini,” ungkap Etha.

Saat awal mula merintis rendang Den Lapeh, Etha hanya menerima pesanan berdasarkan permintaan konsumen. Etha sama sekali tidak berani untuk menyimpan produk rendangnya. Lambat laun, karena permintaan mulai banyak, Etha kemudian memberanikan diri untuk menumpuk stok.

Saat ini penjualan dan pemasaran rendang Den Lapeh memang berfokus dengan cara daring. Ada dua laman yang dibuat oleh tim Etha untuk memasarkan dan menerima pesanan dari konsumen, yakni: www.rendangdenlapeh.id dan www.rendangdenlapeh.com. Selain dua laman itu, rendang Den Lapeh juga dapat dipesan melalui berbagai toko daring yang ada.

“Ini eranya digital. Kuliner kemasan Indonesia juga harus go digital,” kata Etha.

Karena itulah, untuk penjualan langsung rendang Den Lapeh memang masih dipusatkan di Depok. “Bisa dibilang penjualan retail ada di pusat (Depok). Walau beberapa ada yang daftar jadi agen, tapi itu untuk wilayah di luar depok,” ujarnya.

“Gerai kami ada di Transmart Depok. Letaknya di lobi utama booth nomor 7,” lanjut Etha yang merupakan alumnus Fakultas Sastra Indonesia Universitas Indonesia ini.

Etha tidak menyangka rendang Den lapeh bisa berkembang secepat ini. Saat ini ia sudah memiliki enam karyawan untuk mendukung operasional bisnisnya. Secara tampilan, kemasannya juga semakin dibuat menjadi modern. Awalnya kemasannya sangat sederhana. Kini kemasannya telah menggunakan sentuhan teknologi sehingga prosesnya menjadi lebih cepat.

Untuk menjaga kualitas produknya, Etha juga sudah menerapkan berbagai prosedur standar pengerjaan: SOP (prosedur operasi standar) produksi, kemasan, pengiriman, dan lain-lain. Ia berharap dengan adanya kontrol kualitas ini, konsumennya akan puas dengan pelayanan dan produknya.

Untuk memenuhi tuntutan masyarakat di era sekarang, Etha jug mengusahakan jaminan produk rendangnya pada konsumen. “Kami bersertifikat halal dan akan menjaga proses ini secara konsisten. Kami mengusahakan pelayanan yang terbaik untuk pelanggan. Kemasan kami telah lolos di bandara internasional,” ujarnya. (222)

BERITA TERKAIT