Ahli Elektro yang Memilih Hidup Bertani

Kamis, 27 September 2018, 19:22 WIB

Randi Giantara Pratama

AGRONET—Pada mulanya ia tidak pernah bercita-cita menjadi petani. Namun, siapa sangka, kegemarannya terhadap elektronika digital justru telah mempertemukannya dengan pertanian modern.

Pria yang berpenampilan tenang dengan sorot mata tajam ini bernama Randi Giantara Pratama. Orang tuanya tidak pernah mengizinkannya untuk sekolah di jurusan elektro. Ayahnya menganggap lulusan SMK jurusan elektro paling hanya berprofesi sebagai tukang servis.

Randi memang tak menampik anggapan orang tuanya itu. Ada benarnya. Hingga ia memendam panggilan jiwanya. Ia mematuhi larangan orang tuanya dengan tidak memilih teknik elektro di SMKN 2 Bogor. Ia justru memilih jurusan teknik arsitektur.

Namun, diam-diam, Randi terus mengembangkan minatnya. Ia belajar elektronika digital secara otodidak. Kegemarannya ia salurkan melalui berbagai komunitas yang diikutinya, diantaranya adalah dalam komunitas robotika di Depok.

Lulus SMK pada tahun 2009 kemampuan Randi dalam elektronika semakin terasah. Terbukti ia diterima sebagai staf mechanical engineering di perusahaan timah, PT Solderindo, Narogong, Bogor. Meski sudah bekerja sesuai dengan minatnya, Randi ternyata belum puas dengan pencapaiannya. Sambil bekerja, ia memutuskan untuk kuliah sistem informatika di STIKOM Bina Niaga, Bogor.

Saat masa kuliah, Randi kembali ikut komunitas yang berkaitan dengan hobinya. Ia ikut komunitas Cibubur Aeromodelling. Dalam komunitas inilah lompatan besar terjadi dalam hidupnya. Cara Randi bergiat di komunitas ini sungguh berbeda. Saat teman-temannya menerbangkan miniatur pesawatnya dengan pesawat pabrikan, Randi justru sudah menerbangkan pesawat buatannya sendiri dengan kustomisasi yang lebih canggih dari pesawat pabrikan.

Pesawat Randi sanggup terbang lebih tinggi, lebih jauh, dan lebih lama dari pesawat pabrikan teman-temannya. Pesawatnya ia kendalikan dari laptop dengan sistem yang telah full auto digital.

“Kalau sekarang disebut dengan drone. Tapi, bukan drone untuk foto selfie ya,” kelakar randi.

Pesawat Randi memiliki jelajah terbang 50-60 km dengan durasi 1 sampai 2 jam. Hal ini tentu tak seperti pesawat pabrikan teman-temannya yang hanya mengandalkan remote control.

Karena aeromodelling ini juga digemari oleh kalangan pebisnis sebagai ruang pelepas penatnya, potensi besar Randi ini kemudian dilirik oleh pengusaha sawit yang juga anggota komunitas Cibubur Aeromodelling. Randi kemudian diminta untuk memodifikasi pesawatnya untuk digunakan pemetaan (mapping) lahan sawit.

Proyek pertama Randi adalah mapping lahan sawit seluas 20.000 hektare milik PT Asam Jawa di Sampit, Kalimantan Tengah. Pesawat mapping Randi ternyata berhasil sempurna. Ia mendapatkan imbalan yang cukup fantastis. Sampai ia goyah dan akhirnya benar-benar keluar dari pekerjaannya di PT Solderindo.

“Saya mapping hanya satu minggu di Sampit dibayar 400 juta. Ini benar-benar membuat saya berpikir lebih enak wirausaha,” ujar Randi.

Dari proyek perdana itulah kemudian Randi memutuskan untuk fokus melakukan mapping lahan sawit. Ia cukup menikmati profesi barunya itu. Namun, seiring waktu, saingannya mulai banyak, dan harga jasa mapping tersebut juga jatuh. “Sekarang udah kayak kacangan,” kata Randi.

Makanya, Randi pun mulai berpikir untuk mengalihkan bisnisnya. Pada tahun 2016 saat sedang istirahat dari penatnya bisnis drone pemetaan yang sudah tidak sehat, Randi kemudian mencoba bercocok tanam dengan hidroponik. Ia menanam cabai di teras rumahnya sebanyak 50 tanaman. Ternyata, cabai yang ditanamnya subur dan bagus. Sehingga ia mendapat laba yang cukup besar karena juga bertepatan dengan sedang melonjaknya harga cabai yang mencapai Rp80 ribu per kg. Dari sinilah Randi berkeyakinan bahwa usaha yang dibutuhkan masyarakat dan cepat mendatangkan keuntungan adalah bahan pangan.

“Ini usaha yang mulai ditinggalkan orang. Siapa yang mau bertani? Padahal selama orang belum bisa makan kertas dan plastik, orang pasti butuh pangan,” ujar Randi.

Kemantapan pilihan Randi untuk bertani ini ternyata tidak membuat Randi melupakan skill yang dimilikinya. Dalam bertani ia tetap menggunakan teknologi modern. Salah satu metode hidroponik yang ia gunakan dalam menanam melon saat ini adalah fertigasi. Dengan teknik ini, irigasi pada tanaman dapat lebih terkontrol. Sehingga melon yang ia hasilkan lebih banyak dan lebih berkualitas.

Keberhasilan Randi dalam menerapkan fertigasi juga disebarkannya kepada petani sekitar rumahnya. Sampai kabar ini terdengar pihak CSR Indocement. Tak disangka, CSR Indocement mau memfasilitasi Randi untuk mengembangkan pola tanamnya di green house milik Indocement.

Di green house itu, Randi kerap melakukan pengembangan budi daya berbagai varietas melon. Sudah ada empat varietas melon yang berhasil Randi budi dayakan, yakni: Rock Melon, Cantaloupe Melon, Golden Melon, dan Hami Melon.

Randi sungguh senang mendapat fasilitas green house dari Indocement. Selain bisa mengembangkan budi daya berbagai varietas melon, saat ini Randi juga merupakan pemasok melon tetap untuk pasar Caringin, Bandung. Setiap minggunya 2 ton melon dari hasil kebunnya ia kirim ke pasar Caringin, Bandung.

Namun, Randi belum puas dengan pencapaiannya ini. Ia kini sedang berupaya keras mengajak anak-anak muda di sekitar Citeureup untuk bertani. Oleh karenanya, saat ini ia menggagas Komunitas Petani Anom Lulut di Desa Leuwikaret, Kecamatan Klapanunggal, Bogor.

Dengan komunitas tersebut, ia terus memotivasi anak-anak muda di Bogor, bahwa bertani bukanlah pekerjaan yang hina. Bertani adalah bisnis yang sangat menjanjikan. Apalagi tanah di Jawa Barat ini subur. Jadi, jangan disia-siakan anugerah Tuhan ini, kata Randi. (222)