Febri Melaju dengan Mengolah Paku

Rabu, 06 September 2017, 01:57 WIB

Febriyanti Wulandari. Herbalis obat dan kosmetik

AGRONET – Mengolah paku? Betul. Tentu saja paku yang bukan logam berujung runcing, yang dipukul dengan palu agar menancap di dinding. Paku ini adalah tanaman yang juga sering dianggap kerabat pakis. Tepatnya adalah jenis paku rane atau selaginella. Dengan paku selaginella inilah kini Febriyanti Wulandari maju menjalankan bisnisnya.

Febri, panggilan perempuan ini, tak pernah bermimpi berbisnis dengan mengolah paku. Di daerah asalnya, di Jawa Timur, ia tak akrab dengan tanaman ini. Selulus SMA, pikirannya sederhana saja. Yakni sebatas melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan yang memiliki banyak peluang kerja. Maka ia pun memilih kuliah di jurusan Farmasi.

Gambarannya jelas. Lulus kuliah dapat segera jadi apoteker. Atau bekerja di korporasi farmasi besar. Ia telah menyelesaikan pendidikan sebagai apoteker. Namun lambat laun perhatian Febri bergeser. Perlahan ia mulai kurang tertarik pada obat-obatan kimiawi. Sebaliknya ia malah antusias dengan tanaman obat. ”Saya lalu mengambil master herba di UI,” kata Febri. Langkah yang menegaskan pilihannya.

Selanjutnya, tak ada kata mundur lagi untuk menjadi herbalis. Berbagai produk herbal ia coba kembangkan. Tanpa kecuali yang relatif sederhana, seperti ramuan jahe untuk minuman. Tapi Febri tak ingin berhenti sebatas itu. Ia kembangkan berbagai produk lain yang memerlukan tingkat pengolahan lebih rumit. Di antaranya krim pereda luka bakar atau cold cream yang dilabelinya MYRRH berbasis paku rane itu.

”Saya sebenarnya hanya memanfaatkan kekayaan herbal di lingkungan sekitar,” kata Febri. Tinggal di daerah Bogor, ia merasa dikelilingi dengan beragam tumbuhan yang memiliki nilai pengobatan yang tinggi. Di antaranya adalah selaginella tersebut. ”Tanaman ini kan sangat banyak di Bogor,” ujarnya lebih lanjut. Selain tumbuh secara liar, paku rane juga banyak ditanam sebagai tanaman hias sebagaimana saudara jauhnya, yakni tanaman suplir.

Dijelaskannya bahwa bahwa daun paku rane mengandung senyawa ’flavonoid’ dan ’biflavonoid’. Dua senyawa yang efektif untuk menghambat pembentukan prostaglandin penyebab inflamasi pada luka bakar. Jangan salah dengan istilah luka bakar ini. Begitu Febri mengingatkan.

Luka bakar itu bukan berarti selalu akibat kulit terbakar api. Luka bakar itu juga terjadi karena penggunaan peeling kimiawi untuk merawat kulit. Bisa juga akibat perlakuan dengan sinar laser. Atau juga terbakar sinar matahari atau sunburn. Semua ditandai dengan warna yang memerah dan sedikit atau banyak rasa perih.

Febri meyakinkan bahwa krim dari daun paku rane tersebut mencegah akibat lebh lanjut dari luka bakar itu. Bahkan juga menyembuhkannya karena ramuan krimnya juga mengunakan berbagai bahan herbal lain. Seperti labu air, lidah buaya, serta daun antanan. ”Kalau suka makan asinan Bogor, daun yang digunakan itu daun antanan,” kata Febri.

Lidah buaya atau aloevera dipakainya buat sebagai penyejuk untuk mengurangi efek rasa terbakar. Fraksi buah labu air, atau ‘Lagenaria siceraria’ membantu proses penyembuhan luka karena asam amino dan ikatan peptidanya diperlukan dalam pembentukan kolagen dan elastin kulit. Sedangkan antanan atau pegagan difungsikan untuk memperbaiki bekas luka lewat senyawa ’asiatikosida’ dan ’madecasoside’-nya.

Febri yakin krim selaginella MYRRH yang diproduksi dan dipasarkannya itu efektif buat mengobati luka bakar. Ia bahkan berani menguji efektivitas krimnya dibanding krim serupa berbahan kimiawi produksi industri farmasi besar. Sebagai seorang farmasis Febri tahu soal obat-obatan kimiawi. Luka bakar, misalnya, antara lain juga akibat treatment berbasis kimiawi. Sedangkan sebagai herbalis, ia paham sejumlah keunggulan produk herba seperti paku-pakuan.

Beragam produk herba lain dikembangkan Febri, termasuk krim anti aging Sevinch. Ia pun mensosialisasikan inovasinya melalui berbagai pameran. Termasuk pameran inovasi produk pertanian yang digelar Dinas Pertanian Kabupaten Bogor, di kampus IPB akhir Agustus silam. Stannya cukup mengundang perhatian lantaran ia tak semata memajang produk krimnya. Febri juga memajang daun-daun yang telah mengantarkannya terus melaju dengan mengolah paku seperti sekarang. (312)