Balada Tempe Ali dan Kedelai Impor

Rabu, 24 Oktober 2018, 09:48 WIB

Alimun M. Nur, perajin tempe di Cinere | Sumber Foto:Ratno Fadillah

AGRONET—Pekerja itu terus membersihkan kedelai di ember-ember besar. Mereka memisahkannya dari kulit hingga benar-benar bersih. Hawa panas ruangan sempit dan remang-remang membuat peluhnya mengucur deras di sekujur tubuh.

Pekerja satunya sibuk menakar kedelai. Dengan sendok yang terbuat dari bekas botol cola plastik, ia kemudian memasukkanya dalam plastik bening. Bila bungkusan berisi kedelai itu sudah menumpuk, laki-laki muda bertubuh kekar ini akan mengelemnya dengan membakar ujung plastik dengan api lilin kecil.

Setiap hari kegiatan ini berlangsung dari usai subuh hingga kumandang azan zuhur terdengar. Pabrik tempe rumahan di Pangkalan Jati, Cinere, Depok, Jawa Barat, ini memang berproduksi setiap hari. Tak ada kata libur. Karena bila libur, pedagang-pedagang tempe di pasar Pondok Labu dan sekitarnya akan protes. Pendapatannya hilang. Dapur berhenti ngebul.

Begitulah Alimun M. Nur menjalani hidupnya setiap hari. Laki-laki berusia 31 tahun ini merupakan generasi ketiga penerus bisnis tempe keluarganya. Dari tahun 1992, Ali, begitu biasa ia disapa, sudah membuka usaha tempenya di Cinere ini. Sebelum tahun 1992, ia sempat menyewa rumah di Kalibata untuk menjalankan bisnis tempenya ini. Namun karena ia merasa kejauhan dengan pasar tempatnya memasarkan, ia pindah ke Pangakalan Jati, Cinere.

Ali tidak sendiri memproduksi tempe di Cinere. Di sekitar rumahnya ada sepuluh rumah dengan usaha sama. Seluruhnya berasal dari Pekalongan. Bisa dikatakan masih sedulur dengan Ali.

“Usaha tempe itu kan, usaha turun temurun. Jarang saya temui, orang yang usaha tempe dari hasil kursus,” ujar Ali.
Ali menjelaskan dua pegawai laki-laki yang saat ini bekerja dengan keluarganya ini juga masih saudara. Pekerjaan ini memang dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga. Di saat lengangnya, ibu Ali juga ikut membantu membungkuskan kedelai yang siap difermentasi.

Sistem usaha yang dilakukannya juga menerapkan prinsip kekeluargaan. Pekerjanya tidak dibayar dengan sistem gaji. Melainkan bagi hasil. Menurutnya, sistem tersebut lebih adil.

Saat ini, Ali dan keluarga memproduksi tempe sebanyak 150 kg per hari. Kedelai ia beli dari importir atau distributor kedelai. Setiap minggu ia bisa membeli 1 kwintal kedelai. Pembayaran bisa dilakukan tempo.

Diakuinya, seusai reformasi 1998, ia tidak lagi membeli kedelai dari KOPTI (Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia). Karena harga kedelai di KOPTI selalu lebih mahal dari harga importir atau distributor swasta itu. Ia tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi.

“Dahulu saat masih zaman Soeharto, perajin tempe diperhatikan. Dulu kedelai juga memang sebagian sudah impor. Tapi, harga kedelai di KOPTI dengan di swasta itu sama. Dan kita masih mau beli di KOPTI, karena kita masih diuntungkan. Ada sekian persennya menjadi tabungan kita di KOPTI. Dan tabungan itu bisa kita ambil tiap tahun,” ungkap Ali.

Rasa sesal inilah yang membuat Ali dan perajin tempe di Cinere untuk tidak membeli kedelai di KOPTI. Sekaligus memutuskan untuk tidak aktif di KOPTI.

Ali berharap pemerintah juga memperhatikan perajin tempe seperti dirinya. Karena sejak adanya perang dagang antara Amerika dan China, harga kedelai sering mengalami kenaikan.

“Dua bulan ini mulai terasa kenaikannya. Harga kedelai itu sekali naik, bisa berkali-kali ke depannya. Sedangkan turunnya susah sekali. Dan kita nggak berani untuk menaikkan harga jual tempe, paling hanya mengurangi ukuran dan beratnya. Kalau kita naikkan, pelanggan bisa pindah beli yang lain,” ujar Ali.

Menurut Ali, tempe ini kan makanan yang paling merakyat. Satu batang tempe bisa dimakan satu keluarga, bahkan bisa dibuat beragam menu. Jadi, sudah selayaknya, perajin tempe juga diperhatikan. Tidak hanya petaninya saja.
“Karena kalau makanan yang paling merakyat saja sudah mahal, masyarakat kecil mau makan apa?” tutur Ali. (222)

 

 

BERITA TERKAIT