Kelompok Tani, Kunci Semakin Sukses Abdul Qohar

Senin, 05 November 2018, 16:10 WIB

Abdul Qohar | Sumber Foto:Istimewa

AGRONET--Keberhasilan Abdul Qohar, petani dari Desa Candisari, Sambeng, Lamongan, Jawa Timur, bertani pepaya Calina telah menginspirasi petani petani lain di daerahnya. Setelah muncul banyak petani pepaya, Abdul Qohar pula yang kemudian mengajak para petani desa Candisari untuk membentuk kelompok tani yang kemudian mereka beri nama Kelompok Tani Godong Ijo Sejahtera.

Saat awal membentuk Kelompok Tani Godong Ijo Sejahtera, mereka hanya memiliki 32 anggota yang hanya berasal dari Desa Candisari. Kini, anggota kelompok tani yang secara khusus mengelola pepaya Calina, komoditas yang telah mengantar keberhasilan Abdul Qohar, sudah mencapai 112 orang yang tersebar di 8 desa di Kecamatan Sambeng.

Berkat kelompok tani, para petani Candisari dapat bermitra dengan distributor buah-buahan, sehingga mereka tidak perlu lagi memikirkan pemasarannya. Dengan keuletan dan kegigihan, kelompok petani pepaya Calina di lahan kering ini pun membuahkan hasil manis. Setidaknya, kini para petani memiliki pemasukan setiap minggu karena Pepaya Calina bisa dipanen dua kali dalam seminggu.

Distributor buah-buahan yang telah menjalin kemitraan dengan kelompok tani Godong Ijo Sejahtera mengklaim, dengan total kebun Pepaya Calina seluas 15 hektar di Kecamatan Sambeng, Lamongan sudah menjadi produsen terbesar ketiga di Jawa Timur. Selain dipasarkan di pasar lokal Lamongan, Pepaya Calina dari Sambeng sudah merambah hingga ke Tuban, Gresik dan bahkan Jakarta. Pepaya Calina dari Sambeng pun sudah memiliki merek dagang. Tantangannya tinggal bagaimana menjaga kualitas buah agar sama, meski ditanam di tanah yang berbeda.

Pembentukan kelompok tani Godong Ijo Sejahtera telah terbukti memberikan kesejahteraan bagi anggotanya. Dari hasil bertani pepaya Calina, omzet yang didapat Abdul Qohar dan teman teman taninya bisa mencapai Rp 18 juta per bulan. Dengan areal seluas 1 hektar, bisa ditanam hingga 1.500 an batang Pepaya Calina. Petani bisa mendapat omzet Rp 18 juta per bulan. Itupun sudah dihitung dengan adanya faktor kegagalan.

Jika faktor kegagalan panen bisa ditekan, beberapa petani bahkan bisa meraup Rp 20 juta per bulan dari kebun Pepaya Calina. Pepaya Calina sudah bisa mulai dipanen saat berusia 6 bulan 20 hari, dan akan terus berbuah hingga berumur tiga tahun.

Sebuah perjuangan yang berbuah manis semanis pepaya Calina dari seorang petani seperti Abdul Qohar. "Padahal saat pertama mulai menanam Pepaya Calina, Saya dianggap gila karena menanam pepaya di lahan kering." ujar pria kelahiran tahun 1958 ini. Apresiasi terhadap keberhasilan Abdul Qohar dan kelompok tani Godong Ijo Sejahtera secara langsung diberikan oleh Bupati Lamongan, Fadeli, saat mengunjungi hamparan perkebunan Pepaya Calina di Sambeng beberapa waktu lalu.

Fadeli bahkan minta memasukkan perkebunan Pepaya Calina dalam Program Gemerlap Kabupaten Lamongan. Pemerintah Daerah harus mendorong dan memberikan perhatian, buatkan koperasi, berikan pelatihan, berikan unit pengolah pupuk organik, pesannya. (MY)

BERITA TERKAIT