Sociopreneur Sukses

Aang Permana “Sipetek"

Kamis, 22 November 2018, 13:33 WIB

Aang Permana Saat Hadir di KMI-IPB 2018 | Sumber Foto:dok IPB

AGRONET -- Di acara Ekspo Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) 2018 yang diselenggarakan di Auditorium Sylva-Pertamina, Kampus IPB Dramaga, Bogor tanggal 10 November 2018 lalu, hadir seorang pemuda yang menarik perhatian. Seorang wirausahawan muda yang sukses bergerak di bidang technopreneur, Aang Permana, CEO Crispy Ikan Sipetek. Menjadi salah satu dari dua nara sumber yang dihadirkan panitia dalam Talkshow Kewirausahaan.

Aang Permana memilih untuk berwirausaha setelah sempat bekerja di instansi minyak dan gas di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Saat masih bekerja, Aang bertugas keliling Indonesia untuk mencari lahan gas di pelosok nusantara. Setelah dua tahun bekerja, Aang memutuskan berhenti dan kembali ke kampung halaman, memilih bisnis olahan Ikan Petek lantaran potensi ikan  dengan nama latin Prambassis Ranga itu cukup besar, namun belum dioptimalkan masyarakat.

“Karena potensi yang belum termanfaatkan itu, saya berinisiatif membuat produk olahan dengan bahan dasar Ikan Petek. Sambil ikut andil memberdayakan masyarakat sekitar sehingga saya tidak sukses untuk diri sendiri saja,” ujar Aang, yang mendapatkan Ikan Petek dari nelayan di Waduk Cirata, Cianjur, Jawa Barat.

“Ikan Petek memiliki kandungan kalsium dan protein yang tinggi, 16 kali lebih banyak dibandingkan segelas susu pada takaran yang sama. Dari sisi lain, peluang pasar sangat terbuka. Jumlah penduduk Indonesia usia 5-15 tahun cukup besar sehingga pasar untuk produk olahan ini sangat menjanjikan,” jelasnya.

Aang mulai merintis usahanya sejak tahun 2014, produk olahan ikan yang kemudian dia beri nama Ikan Crispy Sipetek.  Awalnya, Aang hanya menawarkan Sipetek di situs jejaring sosial dan menitipkannya di toko oleh-oleh. Merasa kurang puas dengan hasil yang diperoleh, Aang lantas merekrut sejumlah anak muda untuk mengembangkan bisnis Masperfood. Mereka bertugas melakukan inovasi produk dan marketing. Temuannya antara lain terkait kemasan, inovasi rasa dan target pasar yang beralih dari anak muda ke ibu-ibu. Dalam pengembangan pemasarannya, Aang kemudian menggandeng 500 agen/ reseller di sejumlah kota di Indonesia untuk ikut memasarkan Sipetek.

Kini setiap hari, ia bisa memproduksi sekitar 500 hingga 1000 kantong. Jika satu kemasan dibanderol dengan harga Rp 25 ribu, maka setiap bulan, omset yang dicapai lebih dari 500 juta rupiah. Dalam setahun, perputaran modal Masperfood bisa mencapai miliaran rupiah. Padahal, modal awal Aang saat memulai usaha Sipetek hanya berkisar 2 juta rupiah saja.

Sipetek telah mengantar Aang menjadi sociopreneur yang tidak hanya berhasil untuk diri sendiri, namun juga untuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya. ’’Dengan sistem agen, kami tidak untung sendiri,’’ jelas pria kelahiran Subang tahun 1990 tersebut. Untuk menggoreng ikan, ia memberdayakan para ibu yang sudah tua di lingkungan tempat tinggalnya untuk bekerja. Aang melakukan itu karena ingin membantu perekonomian keluarga para tetangganya.

“Penghasilan para petani di kampung saya sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh ribu rupiah per hari. Makanya, saya ajak kaum ibu yang merupakan istri petani untuk bekerja di tempat saya,” kata Aang yang merupakan alumni dari Fakultas Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor,  dan pemenang penghargaan Wirausaha Inovatif Berbasis Lingkungan dan Sosial tahun 2015–2016.

 “Pengusaha itu gigih dan tahu risiko apa yang dihadapinya. Namun demikian, mereka bisa menghadapinya. Sebuah masalah tidak hanya dapat diselesaikan dengan satu solusi, tetapi banyak cara untuk menyelesaikannya,” tegas Aang saat kembali ke kampus dan berbagi ilmu di ajang KMI 2018. Usaha yang dijalankan harus unik, beda dan konsisten agar mampu bertahan. Selain itu, setiap entrepreneur harus memiliki tiga hal kunci: niat yang harus lebih dari sekadar uang, sikap tidak “gengsian” dan menghasilkan inovasi.

Ilmu berbasis pengalaman yang dibagikan Aang, senada dengan yang disampaikan Direktur Inovasi dan Kewirausahaan IPB, Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah, M.Sc.Agr dalam sambutannya saat membuka Talkshow Kewirausahaan di Ekspo KMI 2018,  bahwa entrepreneur merupakan orang-orang yang berani tampil beda. Mereka membuat kreasi, inovasi dan menambah nilai tambah suatu produk. Hal inilah yang membedakan entrepreneur dengan pedagang. (KMI 2018 IPB dan berbagai sumber./234)

BERITA TERKAIT