Deden Melambung dengan Kayu Lengkung

Minggu, 29 Oktober 2017, 23:01 WIB

Deden Darmawan Sugara Bersama Wahyu Dwianto

AGRONET - Kayu lengkung?  Betul. Bukan hanya soal tahu kudapan, Sumedang ternyata juga terkenal dengan kayu lengkungnya. Adalah Deden Darmawan Sugara yang kini usahanya melambung berkat kayu lengkung. Di tangannya, usaha perkayuan yang sudah turun temurun di Sumedang mendapatkan darah baru. Yakni melalui kayu lengkung itu.

Bagi Deden, usaha kayu sama sekali bukan hal baru. Orang tuanya sudah mengembangkan usaha itu sejak lama. Bahkan mendirikan CV Putra Lingga Jaya sebagai badan usahanya.  Ia mewarisi usaha tersebut 17 tahun silam. Merombak manajemen badan usaha tersebut dan melanjutkan usaha sebagaimana adanya dirasa belum cukup oleh Deden. Ia terus mencoba inovasi  untuk usahanya tersebut, namun belum kunjung mendapatkan hasil memadai.

Deden terus saja menekuni usaha tersebut. Sempat menjabat sebagai Kepala Desa tidak membuatnya melepaskan profesinya sebagai ‘tukang’ kayu. Keteguhan Deden untuk terus menjalankan usaha perkayuan itu pada akhirnya mendapatkan hasil baik. Tahun 2014, ia bertemu dengan adik kelasnya semasa sekolah, Sasa Sofyan Munawar.

Sasa seorang peneliti di Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kegiatan Ilmu Pengetauan dan Teknologi Daerah (IPTEKDA) yang diselenggarakan di Sumedang, mempertemukannya kembali dengan Deden. Doktor LIPI itu melihat potensi usaha milik Deden yang dapat dikembangkan hingga melambung bila menggunakan inovasi yang tepat. Maka Sasa pun mengenalkan Deden pada Wahyu Dwianto.

Saat itu Wahyu tengah melakukan riset perkayuan. Antara lain soal teknik pelengkungan kayu. Ia berharap hasil penelitiannya di LIPI dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Usaha yang dikembangkan Deden lewat  CV. Putra Lingga Jaya menarik perhatian Wahyu.  Deden pun diundang untuk mengikuti pelatihan penerapan teknologi oleh Pusat Inovasi LIPI, Salah satunya menyangkut teknik pelengkungan kayu tersebut.

Pasca pelatihan, pendampingan intensif terus dijalankan.  Dirasa sudah mumpuni menerapkan teknologi yang diberikan, Deden mendapat alat klem untuk memproduksi kayu lengkung pada tahun 2016. Pada Agustus 2017, CV Putra Lingga jaya bahkan menekan kerjasama resmi dengan LIPI untuk dapat mengunakan alat yang selama ini digunakan lembaga tersebut.

“Kami tidak boleh memproduksi, tidak ada tenaga kerja, dan tidak boleh jualan,” kata Wahyu. Dengan kerja sama itu, CV  Putra Lingga Jaya secara resmi menjadi pembuat kayu lengkung di bawah supervisi LIPI. Keberadaan alat tersebut memudahkan Deden untuk lebih berkreasi untuk mebel kayu yang diproduksinya.

“Di wilayah Sumedang kursi seperti ini masih jarang,” kata Deden menunjukkan hasil produknya.  Kebanyakan pengerajin, menurutnya,  tidak berani menggunakan lengkungan kayu. Pada mulanya, Deden pernah mencoba untuk membuat sendiri teknik pelengkungan secara manual. Namun upaya tersebut masih jauh dari efektif. Alat manualnya hanya dapat dipakai sekali. Maka ia sangat bersyukur atas keberadaan Pusat Inovasi LIPI. Hasil riset yang dilakukan lembaga itu tinggal diterapkan secara langsung oleh masyarakat seperti dirinya.

Sejak itu, menurut Deden, membuat kursi lurus ataupun kursi lengkung nyarus tidak ada bedanya.  “Dulu membuat kursi lengkung butuh kayu lebar-lebar. Sekarang hanya tinggal stel klem yang ada, jari-jari kelengkungan kisaran 5 sampai 15 cm,” papar Deden. “Hanya perlu waktu 2 sampai 3 jam untuk melengkungkan kayu. Awalnya membutuhkan waktu 1 hari 1 malam,” tambahnya.

Kursi Kayu Lengkung

Dengan menerapkan teknologi itu, kini keuntungan usaha Deden meningkat hingga 100 persen.  Sebuah kursi kayu dihargai yang dulu berharga Rp 150 ribu, kini dihargai sekitar Rp 250-350 ribu dalam  bentuk ‘mentah’ atau belum dipelitur. Semua itu adalah berkah makin banyak ilmu yang diperoleh Deden, yang membuatnya makin inovatif.  Pantaslah jika usaha Deden semakin melambung dengan kayu lengkung. (269)

BERITA TERKAIT

Komunitas