Willy Djoeragan Pik-koen Maju Bareng Perajin

Senin, 27 November 2017, 20:58 WIB

Willy Heryanto

AGRONET - Merek ini sangat kontroversial namun justru mengudang perhatian. Ya namanya Djoeragan Pik-koen (baca : juragan pikun).  Tanda minus yang menghubungkan kata ‘Pik’ dan ‘Koen’ menandakan kata pikun di sini bukan arti yang sesungguhnya.  Djoeragan Pik-koen adalah merek dagang keripik hasil kreatifitas Willy Heryanto.

Willy, begitu ia kerap disapa, menyebutkan “Pik-koen itu keripik sukun”.  Sudah sejak 2015 Willy menjadi Djoeragan Pik-koen.  Sebelumnya Willy seorang karyawan perusahaan konveksi di Jawa Barat.  Empat belas tahun, Willy berkiprah di sana.

Selama bekerja di perusahaan konveksi, Willy diamanahi menjadi pimpinan sebuah cabang.  Sebagaimana lazimnya perusahaan, tentunyamereka  memiliki office boy  (OB), Pak Ujang namanya.  Di sore hari, mana kala tidak ada aktivitas, Pak Ujang sering kali menggoreng sukun. 

Sukun diperoleh dari pekarangan perusahaan.  Berawal dari situ, Willy meminta Pak Ujang untuk membuat keripik.  Hasilnya kurang memuaskan.  Akhirnya Willy mencoba sendiri hingga diperoleh hasil yang pas.

Kini Willy dan Pak Ujang sudah tidak lagi bekerja di perusahaan konveksi.  Pak Ujang menjadi partner Willy dalam mengembangakan usaha Pik-koen.  “Saya berdayakan Pak Ujang yang saya sebut perajin,” kata Willy.  Maju bareng perajin, merupakan pola kerja sama yang Willy kembangkan.  Si perajin berperan memproduksi sesuai standar yang ditetapkan dan Willy bertugas memasarkannya.

Dari produk yang Willy pasarkan, sangat terasa idealisme dari sosok sarjana pendidikan bidang tata Nnaga ini.  Memanfaatkan bahan-bahan alami, ia mengolahnya  menjadikan Pik-koen yang merupakan produk kripik sehat, tanpa pengawet, dan tanpa pewarna buatan .

Niat mulia Willy menyuguhkan jajan ramah anak masih belum sepenuhnya berhasil dari segi tampilan.  Dalam memanfaatkan bahan-bahan yang aman, ia masih menghasilkan produk berwarna coklat.  “Saya terus melakukan uji coba sampai nanti dapat kripik yang tampilannya cantik dengan bahan-bahan alami," kilahnya.

Sambil mempelajari penyajian kripik sukun yang sedap dipandang mata, Willy malah menemukan strategi membuat pisang vakum yang renyah.  Bermodalkan dua mesin produksi pengolah pisang vakum, Willy kembali memberdayakan masyarakat.

Dia masih berprinsip ingin maju bersama perajin.  Sebuah alat produksi ia percayakan pada perajin, sebuah lagi ia taruh di rumahnya.  Alat produksi diberikan untuk menjaga kestabilan kualitas dari pisang vakum.

Kualitas kripik sukun dijaga dengan memanfaatkan listrik dan gas dalam pengelolaannya.  “Kalau salah satu mati harus segera diangkat sukun yang sedang diolah dan segera diganti jika tabung gasnya habis,” jelas Willy.  Lamanya proses pengolahan kripik menghabiskan waktu 2,5 sampai 3 jam.

Proses produksi yang membutuhkan waktu membuat harga produk Djoeragan Pik-koen lebih tinggi dari harga kripik sejenis.  “Mahal itu relatif,” kata Willy.  Dengan harga yang ditawarkan, konsumen dijamin memperoleh produk kualitas terbaik.

Susutnya berat bahan dasar hingga menjadi setengah dari berat asal inilah yang mempengaruhi harga.  Harga berapa pun yang ditawarkan Djoeragan Pik-koen nyatanya laris manis terjual di pusat oleh-oleh, seperti di Bandara Husein Sastranegara, dan Rest Area KM 97 Purwakarta. 

Raosnya (enaknya),” kata konsumen yang mencicipi Pik-koen yang disodorkan Willy.  Produk Djoeragan Pik-koen juga menjadi oleh-oleh khas Bandung.  Oleh-oleh khas Bandung lainnya yang diproduksi Willy, yaitu kripik talas bali. 

Menurut Willy, kripik itu unik.  “Namanya talas bali, tanamnya di Tasikmalaya, dan pengolahnya di Bandung. Susah kalau mau membuat KTP untuk kripik itu,” candanya.  Kripik talas yang olah Willy tidak meninggalkan rasa gatal di lidah, usai memakannya. 

Produk talas bali belum sebanyak kripik sukun dan pisang vakum.  Willy terkendala dengan pasokan bahan baku yang agak sulit.  Meskipun sudah mencoba untuk membudidayakannya sendiri, kadang talas bali tidak dapat dipetik. 

Berbagai kendala yang dihadapi Willy untuk mengembangkan olahan makanan menjadi kripik justru memantapkannya untuk berwirausaha.  Silaturahim, tutur dia,  adalah kuncinya. Dengan silaturahim semakin banyak relasi dan semakin banyak yang membantu.  Willy pun terus semakin memupuk diri untuk maju bareng perajin. (269)

Agro Pilihan