Ada Koi Mizumi di Sukabumi

Senin, 29 Januari 2018, 23:03 WIB

Mizumi Koi | Sumber Foto:Priatna Pay

AGRONET -- Semilir angin mengusap-usap siang menjelang sore itu. Yakni di sebuah pesawahan yang seperti menyeruak di balik kerimbunan kebun di Caringin, Sukabumi. Dari Jalan Raya Sukabumi, sekitar 8 km dari arah Cibadak, ada belokan ke kiri berupa jalan kecil beraspal yang meliuk ke lereng gunung Pangrango. Di sisi kirinya, di samping tanah lapang yang lebih rendah dari jalan, terdapat jalan setapak mengarah ke bawah.

Kami menyusuri jalan setapak tersebut. Tidak jauh. Cuma beberapa bidang kebun dan satu rumah kecil yang terlalui. Selanjutnya terhampar lahan seperti sawah berupa petak-petak memanjang. Yang membedakan dengan sawah biasanya, pinggir pematang sawah ini diplester semen. Padi yang ditanam di sana pun tampak jarang dan tak seteratur sawah pada umumnya.

“Ini tempatnya, “kata Nuril, pegiat kemasyarakatan Sukabumi yang memandu kami. Ia pun mengajak menuju sebuah bangunan bertingkat dua yang ada di tengah kawasan itu. Lantai atas dibiarkan sebagai beranda terbuka. Satu set sofa serta beberapa kursi terdapat di sana. Dengan usapan lembut angin sejuknya, suasana di situ sungguh menggoda buat memejamkan mata.

Tapi, jangan. Lingkungan sekitar terlalu indah untuk tidak dinikmati. Gemericik air jernih di saluran sampingnya menjadi aksentuasi ketenangan permukaan air di petak-petak panjang itu. Di samping tanah itu, hamparan sawah melandai. Di kejauhan tampak puncak Gunung Walad -- gunung yang menjadi pusat laboratorium lapangan serta pusat kajian konservasi IPB Bogor. Sesekali terdengar pula kokok panjang Ayam Pelung yang juga dipelihara khusus di kawasan itu.

Satu hal lagi yang segera mengundang mata.  Sebuah patung ikan dengan warna putih dengan bercak merah dan hitam berada sejajar dengan beranda itu. Posisinya menghadap tanki-tanki beton dengan air tiga perempat penuh. Ratusan ikan tampak memutari lingkaran tanki itu. Patung itu menjadi simbol usaha yang tengah dikembangkan di sana. “Di sini ini tempat pembesaran ikan koi kami,” kata Haji Asep Syamsul Munawar,  sang tuan rumah.

Haji Asep itulah ketua kelompok peternak ikan koi di sana. Kelompok yang mereka namai Mizumi, dan menjadi salah satu kelompok peternak ikan yang terpandang di Sukabumi. Sebuah pencapaian yang tentu tak dapat diraih dalam sekejap oleh mereka.

Seperti dituturkan Haji Asep, ia dan kawan-kawannya memang tidak asing dengan budidaya ikan tawar. Berlimpah air membuat warga setempat, khususnya di Desa Sukamulya, biasa beternak ikan. Terutama ikan untuk keperluan konsumsi seperti ikan mas, nila, dan juga gurame. “Sebagian besar penduduk punya kolam. Begitu juga keluarga saya,” tuturnya.

Di tahun 1980-an, banyak yang mulai mencoba beternak ikan hias. Yang paling diminati saat itu, menurut Haji Asep, ikan mas koki. Jenis ikan mas kecil, berbadan menuju buntal, dan memiliki semacam jambul di kepalanya. Banyak petani beralih usaha ke ternak ikan itu. Namun memasuki tahun-tahun 2000-an, usaha ikan mas koki mengalami kejenuhan. Haji Asep dan kawan-kawan peternak ikan lain terus memutar otak.

Ikan koi menjadi salah satu alternatifnya. Seorang senior peternak ikan di Sukabumi diketahui telah memelihara koi sejak lama. Kaum muda peternak ikan di Sukamulya pun mencoba mengikuti jejak mereka. Tidak mudah langkah tersebut. Mereka harus belajar mulai dari nol. Selain itu, mereka juga tidak memiliki indukan koi yang berkalitas bagus. Mereka tidak menyerah.

Ketekunan warga pun mendapatkan buahnya. Sebuah perusahaan milik negara, yakni Bio Farma, menggandeng para peternak ikan setempat untuk menjadi binaannya dalam Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Bio Farma bahkan mengimpor khusus induk koi dari Jepang. “Kami dikirim 18 induk koi,” kata Haji Asep. Resmi menjadi binaan BUMN farmasi, warga pun resmi membentuk kelompok.

Sepuluh orang bergabung dalam kelompok tersebut. Nama yang mereka pilih bernada ‘kejepang-jepangan’.  ‘Mizu’ berarti air, sedang “Mi’ adalah penggalan suku kata terakhir dari nama Sukabumi. “Jadi Mizumi berati air Sukabumi,” kata Haji Asep sambil tersenyum. Disebutkannya lebih lanjut bahwa pilihan nama tadi usulan dari istri Direktur Utama Biofarma saat itu, Iskandar. “Keluarga Pak Iskandar sangat peduli pada pengembangan usaha kami,” kata Haji Asep.

Perlahan Desa Sukamulya, tepatnya kampung Cisitu, pun menjadi sentra terpenting ikan koi di Sukabumi. Hal yang dipandang Haji Asep sebagai salah satu upaya mengembalikan pusat koi nasional ke kabupaten itu. Disebutkannya bahwa Sukabumi termasuk sangat awal mengembangkan ikan koi. Dulu para petani ikan dari Blitar disebutnya belajar ke  Sukabumi, hingga Blitar saat ini terkenal sebagai pusat koi Indonesia. “Sekarang kami seperti mengembalikan Sukabumi jadi pusat koi,” kata Haji Asep.

Langkah ke arah itu tampak jelas. Setahun pertama kelompok itu berdiri, Koi Mizumi telah juara dalam lomba tingkat kabupaten. Di tahun berikutnya, ikan-ikan dari Mizumi juga menang dalam Kontes Koi tingkat provinsi dan bahkan nasional. Kelompok peternak ikan Mizumi juga sempat ikut serta dalam pameran koi di Singapura. Sebuah pengalaman yang membanggakan bagi para peternak ikan di kampung Cisitu tersebut.

Di Sukabumi, keberhasilan Mizumi juga mendorong tumbuhnya peternakan ikan koi lebih banyak lagi. Namun Mizumi tetap menjadi standar acuannya. Di kawasan Sukabumi bawah, jika ada yang hendak membeli ikan koi jenis Showa yang dianggap prestisius, umumnya akan dijawab: “Coba ke atas saja, ke Mizumi.”  Berada di posisi atas yang dekat dengan mata air membuat koi Mizumi memiliki kelebihan karena airnya masih bersih dari pencemaran.

Para penggemar koi nasional, yang suka mengikuti kontes, banyak yang mengambil ikannya dari Mizumi. Nama Mizumi pun makin terkenal di kalangan penggemar koi. Namun hal itu tak dapat dipisahkan dari upaya keras anggota kelompok untuk mempertahankan kualitas ikannya. Sebuah gambar besar ikan koi berkualitas istimewa dipajang di ruang kantor kelompok tersebut. “Itu acuan kami. Kami harus dapat memproduksi ikan seperti itu,” kata Haji Asep.

Di samping kantor itulah, induk koi dipelihara dalam bak-bak beton besar.  Pemijahan ikan juga dilakukan di lingkungan tersebut. Baru kemudian anak-anak ikannya dipindahkan ke kolam pembesaran berupa petak-petak sawah yang memanjang seperti disebut di atas. Padahal sebenarnya itu bukan sawah melainkan kolam pembesaran ikan. Padi dan juga beberapa gulma dibiarkan rumbuh di kolam tersebut.

Menurut Iing, salah satu anggota kelompok Mizumi, dengan kolam semacam sawah, ikan-ikan koi akan dapat tumbuh alami. “Ikan dapat memakan larva-larva yang tumbuh di sawah,” katanya. Hal itu menurutnya juga dilakukan oleh para peternak ikan koi di Jepang untuk membesarkan ikan-ikan tersebut. Setelah tumbuh lebih besar, ikan pun dipindahkan ke tempat pembesaran tahap kedua.

Di kolam pembesaran itu, selain makan berupa makanan alamiah, ikan juga diberi makanan tambahan. “Pada tahap ini, kandungan proteinnya perlu sangat tinggi agar ikan cepat besar,” kata Iing. Selanjutnya ikan dipindahkan ke bak penampungan yang melingkar seperti tanki-tanki beton. Jenis makanan yang diberikan sudah berbeda. Bukan lagi yang tinggi protein, melainkan yang banyak mengandung spirulina agar warna-warna pada ikan menjadi semakin tajam.

Dari bak penampungan, ikan dipilah-pilah lagi sesuai jenisnya. Di bak terakahir itulah penguatan warna ikan makin ditekankan melalui makanan berspirulina tinggi. Apalagi untuk ikan yang disiapkan mengikuti kontes-kontes koi. Di bak itulah koi-koi siap jual itu berputar dan melenggok dengan anggunnya. Lenggokan yang sungguh menawarkan keindahan surgawi yang tak ternilai.

Ikan-ikan itu tak hanya membuat sehamparan wilayah di Caringin, Sukabumi menjadi seperti surga. Ikan-ikan itu juga ikut mengantarkan para pemeliharanya, yang banyak membantu dan membiayai kegiatan sosial masyarakatnya, pada surga sesungguhnya kelak. Ikan-ikan itu tak lain ada Koi Mizumi yang tumbuh di kemurnian air yang terusap-usap oleh semilir angin pegunungan Sukabumi. (312)

Agronesia Utama
Komunitas