Darul Fallah: Pesantren ‘Kloning’ Tanaman

Senin, 31 Juli 2017, 20:41 WIB

Nursyamsu Mahyuddin, Direktur Operasi PT Dafa

AGRONET – ’Kloning’ tanaman? Ya, ini keahlian pesantren tersebut. Selain tentu saja penguasaan dalam ilmu-ilmu agama. Itulah Pesantren Darul Fallah, yang berada di sebelah barat kampus IPB, Darmaga Bogor. Tepatnya di sebelah kanan Jalan Bogor-Leuwiliang, di tanah membukit yang dibelah sungai di Cinangneng, Bogor.

Di dunia pembibitan tanaman, saat ini ‘kloning’ bukan hal baru. Memperbanyak bibit tanaman dengan cara menumbuhkan langsung dari sel sudah banyak dilakukan di dunia. Meskipun demikian, ini belum menjadi cara utama pembibitan di Indonesia. Bahkan sampai sekarang. Apalagi di tahun 1980-an.

”Pesantren ini termasuk yang paling awal mengembangkan teknik kultur jaringan,” kata Ustad Hanan, pengasuh pondok Darul Fallah. Kultur jaringan adalah istilah lain dari teknik ’kloning’ Itu terjadi saat dosen IPB, Profesor Azis Darwis, baru pulang studi dari Amerika. Tempatnya mendalami ilmu dan teknik ’kloning’ tanaman.

”Beliau mengajarkan teknik itu di sini,” lanjutnya. Sosok yang berjasa itu berpulang ke rahmatullah JulI 2017, persis saat naskah ini ditulis dan dimakamkan di komplek pesantren pertanian ini.

Darul Fallah memang didedikasikan sebagai pesantren pertanian. Pesantren untuk melahirkan para ustad yang mahir bertani. Secara resmi, pesantren berdiri pada tahun 1960. Yakni setelah seorang konglomerat pribumi, RHO Djunaedi mewakafkan tanahnya buat pesantren. Di adalah pemilik koran Pemandangan di Jakarta pada tahun 1950-an.

Atas arahan para tokoh Islam saat itu seperti Muhammad Natsir, Safruddin Prawiranegara, hingga Kiai Sholeh Iskandar, pesantren ini ditegaskan sebagai pesantren pertanian. Nama Darul Fallah juga berarti ”rumah pertanian.” Wajar bila sosok yang mengembangkannya antara lain adalah dosen IPB senior, almarhum Soleh Widodo yang juga menantu M. Natsir.

Pelatihan-pelatihan keagamaan dilakukan di pesantren ini. Pelatihan pertanian menjadi menu wajibnya pula. Maka ketika para ustad menyebar ke berbagai pelosok daerah, mereka bukan hanya mengajar agama. Mereka juga mengajarkan cara bertani pada masyarakat. ”Seperti penyuluh pertanian-lah,” kata Ustad Hanan.

Seiring perjalanan waktu, Darul Fallah mengembangkan kompetensi khusus. Yakni kultur jaringan alias ’kloning’ atas bantuan Prof. Aziz Darwis tersebut. Untuk itu, mereka membangun perusahaan yakni PT Dafa Agrotekno Mandiri. ”Dafa itu singkatan dari Darul Fallah,” kata Nursyamsu Mahyuddin, Direktur Operasi PT Dafa.

Menurut Nursyamsu, kultur jaringan bukan teknik yang sangat sulit. Meskipun demikian, teknik ini memerlukan ketekunan dan kesabaran ekstra dari pekerjanya. Budaya pesantren sedikit banyak menunjang hal tersebut. Maka Darul Fallah menjadi salah satu dari sedikit pemain kultur jaringan.

Pesantren ’kloning’ tanaman ini melakukan pembibitan berbagai jenis tanaman. Yang terbanyak adalah pisang, kentang, anggrek, dan juga nanas. ”Semua tanaman bisa di’kloning’. Tinggal mengambil sel dari bagian mana saja, pada dasarnya selalu dapat ditumbuhkan,” katanya.

Tentu saja Darul Fallah hanya mengambil sel tanaman dari bagian tertentu yang memang paling efektif untuk ditumbuhkan. Pada pisang, sel tersebut adalah bagian inti dari bonggolnya yang menancap di tanah. Bagian yang memang paling terlindungi dalam tanaman. ”Setelah kebakaran besar pun pisang selalu dapat tumbuh sendiri.” kata Nursyamsu. Hal tersebut terjadi karena sel tumbuhnya sangat terlindungi.

Setidaknya ada 20 jenis pisang yang kini pembibitannya dilakukan dengan teknik kultur jaringan di pesantren ini. Baik pisang yang memiliki nilai komersial tinggi maupun untuk keperluan konservasi. Bibit pisang komersial hasil kultur jaringan yang paling banyak dicari adalah pisang barangan dan pisang cavendis.

Dengan Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Darul Fallah juga membiakkan pisang lokal daerah tersebut. Yakni Pisang Mas Kirana. Kini pesantren ini juga tengah menjalin kerja sama dengan sebuah pemerintah daerah di Maluku Utara untuk pembibitan ’pisang raksasa’. Pisang yang buahnya seukuran lengan manusia dewasa.

”Soal (pembibitan) pisang insyaAllah, kami cukup menguasai,” kata Nursyamsu. Ungkapan yang memang terbukti karena sebagian besar pekebun pisang umumnya biasa mengambil bibit dari pesantren ini.

Kesadaran untuk mendapatkan bibit yang benar-benar bagus melalui teknik kultur jaringan umumnya sudah dipunyai oleh para petani pisang. Kesadaran itu juga mulai tumbuh di kalangan petani kentang. Sekitar 10 persen bibit kentang nasional saat ini berasal dari kultur jaringan.

Jawa Barat sebagai salah satu sentra produksi kentang, angka tersebut telah mencapai 30 persen. ”Alhamdulillah mereka banyak mengambil dari sini,” kata Nursyamsu. Teknik kultur jaringan disebutnya menjaga kualitas bibit terstandarisasi. Daya produksi jelas unggul dan daya tahan terhadap penyakit juga relatif baik.

Selain menjual bibit tanaman hasil kultur jaringan, pesantren ini juga menawarkan pelatihan kultur jaringan. Banyak pekebun bunga yang ikut pelatihan ini untuk mampu membibitkan bunga kesayangannya dengan kualitas terjaga. ”Terutama adalah para penggemar anggrek,” kata Nursyamsu.

Tentu saja Darul Fallah juga mengembangkan pembibitan bunga-bunga lainnya. Mawar, krisan, hingga bunga zodia. “Zodia itu bunga anti nyamuk. Lebih ampuh dari lavender,” jelasnya.

Di kehijauan barat daerah Bogor, diselingi gemericik kali yang membelah 26 hektar areal, Pesantren ini siap menyambut para pengunjungnya. Baik yang hendak memesan bibit berkualitas untuk kebun komersial maupun mengonservasi tanaman langka. Tentu saja juga untuk belajar teknik kultur jaringan. Inilah pesantren ’kloning’ tanaman satu-satunya di Indonesia, dan bahkan di dunia. Darul Fallah. (312)

BERITA TERKAIT

Komunitas