Sawah Terasering. Perkawinan Teknologi dan Keindahan

Kamis, 30 November 2017, 20:54 WIB

Sawah terasering Banaue yang terletak di Filipina bagian utara adalah sawah terasering tertua. Sawah terasering ini diperkirakan berusia 2.000 tahun.

AGRONET – Masih ingat Barack Hussein Obama, presiden ke-44 Amerika Serikat berlibur ke Bali bulan Juli yang lalu ? Salah satu yang ia kunjungi adalah kawasan terasering, persawahan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Karena keindahan dan sarat dengan nilai budaya setempat, UNESCO menetapkan Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia (World Heritage) pada 2012.

Selain Jatiluwih, Bali juga memiliki kawasan terasering lain, yaitu Tegalalang yang berlokasi di desa Ceking, Kabupaten Gianyar. Tegalalang juga sering dijadikan tujuan wisata, khususnya bagi mereka yang menginap di kawasan Ubud.

Sebenarnya, sawah atau berkebun dengan cara terasering telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Secara sederhana terasering dapat didefinisikan sebagai salah satu cara konservasi tanah dan air secara mekanis dengan cara memperkecil kemiringan lereng atau mengurangi panjang lereng. Caranya, dengan menggali dan mengurug tanah melintang lereng.

Dapat pula terasering diartikan sebagai suatu teknik bercocok tanam dengan sistem bertingkat atau berteras-teras. Salah satu tujuannya adalah untuk mencegah erosi. Dengan demikian terasering dapat meningkatkan penyerapan air dan mengurangi jumlah aliran permukaan sehingga akan memperkecil resiko pengikisan tanah oleh air.

Dalam perjalanan peradaban manusia sejak pertama kali mengenal terasering, telah dilakukan beberapa modifikasi. Hal ini dilakukan karena terasering dibuat dengan menyesuaikan kondisi lereng (kemiringannya), jenis tanah, peruntukannya, iklim, dan faktor lain. Oleh sebab itu, hingga kini dikenal beberapa jenis terasering, yaitu : teras datar, teras kebun, teras kredit, teras bangku (tangga), teras guludan, teras saluran, teras batu, dan teras individu.

Pada lahan pertanian di Indonesia, jenis terasering yang banyak dipakai adalah jenis teras bangku dan jenis teras gulud. Sedangkan jenis teras kredit dipakai untuk menyiasati mahalnya biaya pembuatan jenis teras bangku. Jenis terasering lainnya -teras kebun dan teras individu- dipilih jika tumbuhan yang ditanam adalah tumbuhan tahunan, khususnya tumbuhan perkebunan dan buah-buahan.

Hampir semua negara di Asia seperti Indonesia, Filipina, Vietnam, dan beberapa negara lainnya menggunakan sistem terasering untuk menanam padi di lereng gunung atau perbukitan. Sawah dengan sistem terasering secara luas dipakai untuk menanam padi, gandum, dan tumbuhan biji-bijian di Asia Tenggara, Selatan, dan Timur.

Perkebunan di negara dengan iklim lebih kering seperti di Catalonia, Cadaques, Mallorca (Spanyol), dan Cinque Terre (Itali) juga menggunakan sistem terasering. Umumnya mereka menanam pohon anggur, zaitun, dan kayu ek. Demikian pula dengan beberapa tempat yang lebih banyak terdiri dari daerah perbukitan seperti pulau Canary. Untuk bercocok tanam, pilihannya hanya dengan cara terasering.

Sejauh ini, sawah terasering tertua yang diketahui terdapat di Filipina bagian utara, tepatnya di gunung Ifugao. Sawah terasering yang diperkirakan berusia 2.000 tahun disebut dengan nama Banaue. Orang lokal Filipina menyebut sawah terasering Banaue sebagai ’Keajaiban Dunia Kedelapan’.

Sawah terasering ini dibuat oleh nenek moyang penduduk asli dengan cara memahat gunung hanya dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana. Karena keunikan teknik yang digunakan, maka UNESCO menetapkan Banaue sebagai warisan budaya dunia.

Sawah terasering Banaue terdapat pada ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Penduduk lokal saat itu menggunakan sistem irigasi kuno dengan mengandalkan air hujan yang mengalir dari hutan di atas sawah terasering dan kemudian membaginya secara adil ke seluruh lahan sawah di kawasan terasering. Saat ini sawah terasering Banaue masih digunakan oleh penduduk setempat untuk menanam padi dan sayuran.

Terasering lainnya yang unik terdapat di lereng pegunungan Andes dan dikenal dengan nama Andenes. Terasering ini dibangun oleh suku Inca. Dari peninggalan yang ditemukan, diketahui bahwa suku Inca saat itu telah memiliki pengetahuan yang mumpuni soal astronomi, konstruksi bangunan, metalurgi, dan lainnya.

Lebih dari 1.000 tahun yang lalu terasering Andenes dipakai untuk menanam kentang, jagung, dan tanaman lokal lainnya. Terasering yang terdapat di di sebuah tempat yang disebut dengan Maras City ini memiliki bentuk yang unik, yaitu bulat dengan tinggi teras sekitar 2 meter. Setiap dinding teras diperkuat dengan cara memasang batu.

Terasering Andenes dibangun untuk mengatur irigasi dan memanfaatkan kedalaman tanah yang dangkal. Dengan membangun sebuah sistem saluran air terpadu, air dari atas mengalir ke daerah yang kering sehingga tingkat kesuburan dan pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik.

Sebenarnya di setiap perkampungan yang terdapat di sepanjang pegunungan Andes, dapat ditemukan perkebunan dengan sistem terasering. Saat itu, masyarakat Inca bercocok tanam selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga untuk mendukung kebutuhan kota-kota besar suku Inca dan pusat keagamaan mereka seperti Machu Picchu.

Terasering selain memiliki fungsi untuk pengairan dan konservasi tanah, juga membuat pemandangan di lingkungannya menjadi lebih indah. Seperti halnya Barack Obama, banyak orang berkunjung ke sawah terasering hanya sekedar untuk menyaksikan keindahannya. Beberapa negara yang memiliki sawah terasering yang indah adalah :

1. Indonesia, di Desa Jatiluwih (Tabanan) dan Tegalalang (Gianyar).
2. Filipina, terasering Banaue
3. Peru, terasering Andenes di daerah Maras City
4. Nepal, di lembah Kathmandu.
5. Tiongkok, terasering Longji di desa Ping dan Jinkerg di Timur Laut Propinsi Guangxi dan Yunnan. Juga terasering Yuanyang dekat kota Xiejiezhen, sekitar 3 jam perjalanan dari kota Kumming ke arah selatan.
6. Bhutan
7. India, sawah terasering yang indah terdapat di daerah Himalaya, khususnya di Sikkim dan Himachal Pradesh.
8. Afrika Timur, di daerah perbukitan di Rwanda, Burundi, sekitar danau Bunyoni di Uganda.
9. Vietnam bagian utara, di distrik Mu Cang Chai
10. Laos bagian utara
11. Maroko, di pegunungan Atlas

(555)

 

BERITA TERKAIT