Irigasi Kabut. Solusi Cerdas untuk Lahan Pasir

Minggu, 21 Januari 2018, 20:29 WIB

Irigasi kabut | Sumber Foto:posyanteksanden

AGRONET – Tiga tahun yang lalu Penghargaan Nobel Fisika diberikan untuk sebuah penemuan yang kelihatannya sederhana. Temuan itu adalah LED (Light Emitting Diode) biru yang melengkapi diode merah dan hijau sudah ada sejak lama.

Penemuan ini membuat cahaya putih dapat dihasilkan dengan cara yang lebih hemat energi. ”Penemuan mereka revolusioner. Lampu pijar menerangi kita pada abad ke-20, abad ke-21 diterangi oleh LED" demikian pernyataan Panitia Nobel. Selain hemat energi, pemakaian material untuk lampu LED biru juga lebih sedikit. Lampu LED biru dapat bertahan hingga 100.000 jam, sedangkan lampu pijar hanya 1.000 jam dan lampu fluorensens 10.000 jam.

Ilmuwan yang berhasil menemukan LED biru adalah Isamu Akasaki dan Hiroshi Amano dari Nagoya University serta Shuji Nakamura dari University of California, Santa Barbara. ” "Mereka sukses ketika yang lainnya gagal. Temuan mereka revolusioner", demikan pernyataan Panitia Nobel lebih lanjut.

Apa yang dilakukan oleh ilmuwan penemu LED biru itu, juga dilakukan oleh Sumarno dan teman-temannya di Kelompok Tani Pasir Makmur, Dusun Ngepet, Srigading, Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam bentuk yang berbeda. Sumarno dan teman-temannya berhasil mengubah lahan pasir yang semula gersang dan tidak produktif menjadi lahan yang subur.

Awalnya, petani di daerah pesisir selatan itu harus menghabiskan sekitar 400 galon air hari untuk menyiram lahan. Tidak hanya itu. Mereka juga harus menyiram dengan cara manual; mengangkut dan menyiram tanaman. Sudah pasti ini melelahkan.

Sumarno berhasil menemukan cara sederhana yang lebih praktis. Sebelumnya tidak seorang pun memikirkan cara ini. Ia menggunakan selang karet yang diberi lubang-lubang kecil. Jarak antara lubang sekitar 10 cm.

Air untuk keperluan menyiram tanaman dipompa melalui selang-selang yang diletakkan di antara tanaman, sepanjang lahan pasir. Air bertekanan rendah ini akan memuncrat dari setiap lubang ke arah atas membentuk butiran-butiran air, mirip kabut. Dengan cara ini, maka semua tanaman akan tersiram merata. Oleh Sumarno dan teman-temannya, cara menyiram tanaman dengan cara ini diberi nama Irigasi Kabut.

Irigasi Kabut berhasil menghemat pemakaian air sebanyak 60%. Selain itu juga tidak lagi dibutuhkan tenaga untuk mengangkut air. Tinggal nyalakan pompa, airpun mengalir menyirami tanaman.

Diperlukan waktu masing-masing sekitar 10 menit pada pagi dan sore hari untuk meyiram tanaman. Menyiram dengan cara Irigasi Kabut ini berhasil membuat suhu dan kelembaban tanah yang pas untuk ditanami. Lahan pun juga menjadi lebih subur. ”Bisa ditanami segala macam tanaman,” ujar Sumarno.

Selain tanah menjadi subur, udara pun menjadi lebih sejuk. ”Udara menjadi sejuk. Kalau sejuk pertumbuhan tanaman bisa maksima,” ujar Subardjo, seorang petani di Srigading.

Irigasi kabut telah berhasil membuat sekitar 154 ha lahan di Kabupaten Bantul memberikan hasil yang menggembirakan. Paling tidak dalam setahun dapat diperoleh hasil 17 sampai 20 kwintal bawang merah atau cabai per ha. Hasil yang nyaris sama juga diberikan oleh padi dan sayuran.

Namun masih terdapat kendala. Biaya investasi Irigasi Kabut sekitar Rp 15 juta untuk melayani lahan seluas 1 ha, masih terasa mahal bagi petani. Bagaimanapun juga, di luar masalah biaya, inovasi Sumarno dan teman-temannya harus diacungi jempol. Irigasi Kabut harus terus dikembangkan dan akan dicoba pada lahan yang rawan kekeringan. (555)

 

Agronesia Utama
Komunitas