Untuk Hasilkan Nila Jantan, Gunakan Pasak Bumi

Sabtu, 14 Oktober 2017, 18:36 WIB

Jantanisasi diperlukan pada budidaya ikan nila untuk mengendalikan reproduksi secara liar


AGRONET – Pada budidaya ikan nila, jantanisasi sangat penting dilakukan untuk mengendalikan reproduksi secara liar. Cara ini juga untuk mengoptimalkan pertumbuhan ikan jantan lebih tinggi dibandingkan betina.

Proses jantanisasi dapat dilakukan dengan menghambat kerja enzim yang mengatalis perubahan dari androgen menjadi estrogen. Penghambatan aromatase dapat dilakukan dengan pemberian hormon androgen dari bahan alami maupun sintetik. Bahan alami yang dapat digunakan yaitu pasak bumi. Sedangkan untuk hormon yang sintetik yaitu 17a-metiltestosteron (MT).

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian terkait jantanisasi ikan nila menggunakan ekstrak pasak bumi dan hormon 17alfa-metiltestosteron. Mereka adalah Rinaldi, Prof. Muhammad Zairin Junior, Dr. Dinar Tri Soelistyowati, dan Imron.

Prof. Zairin mengutarakan, budidaya ikan nila monoseks jantan memungkinkan ikan tumbuh lebih cepat, ukurannya seragam, dan tidak bereproduksi secara liar di kolam budidaya. Teknik jantanisasi di antaranya dengan pemberian hormon androgen.

Salah satu jenis hormon yang sering digunakan adalah 17a-metiltestoteron (MT). Namun, penggunaan MT sudah dibatasi karena dapat meninggalkan residu berbahaya pada ikan dan lingkungan.

Prof. Zairin juga mengatakan, selain bahan kimia jantanisasi ikan dapat juga dilakukan dengan menggunakan tanaman pasak bumi atau tongkat ali. Tanaman pasak bumi mengandung senyawa flavonoid sebanyak 6,1 persen, mineral (Fe, Co, Mg, Zn), saponin, sterol, dan isoprenoid yang diperlukan untuk mensintesis hormon steroid, salah satunya berupa testosteron. Dengan demikian, efektifitas pasak bumi untuk jantanisasi ikan nila perlu dibandingkan dengan bahan sintetik (17a-MT).

”Dosis pasak bumi yang digunakan yaitu 0, 20, 40, dan 60 miligram per liter. Sedangkan 17a-MT menggunakan dosis 500 µg L dengan frekuensi perendaman berbeda yaitu satu kali, dua kali, dan tiga kali perendaman lama, dengan perendaman delapan jam,” ujar Prof. Zairin.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa jantanisasi pada perlakuan perendaman dengan pasak bumi dosis 60 mg/L menghasilkan jantan 67,4 persen. Penggunaan 17a-MT dosis 500 µg/L dengan frekuensi perendaman dua kali menghasilkan nisbah kelamin jantan sebanyak 87,04 persen dan pada perendaman tiga kali mengalami penurunan sebesar 4,63 persen.

”Penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pemanfaatan bahan alami yang diekstrak dari tanaman pasak bumi sebagai pengganti MT untuk jantanisasi ikan nila, serta efektifitas dosis MT dengan frekuensi perendaman yang berbeda terhadap ikan nila,” katanya.(Humas IPB/AT/ris/555)