’Kalung Pintar’ di Leher Sapi

Rabu, 22 November 2017, 13:56 WIB

Dengan menggunakan 'kalung pintar', kondisi tubuh dan perilaku sapi dapat diketahui segera. Data akan dikirim ke laptop dan smartphone | Sumber Foto:Pixabay

AGRONET – Pernah menonton film Rocky IV ? Dalam film yang diputar tahun 1985 itu dikisahkan sang jagoan Rocky Balboa melawan Ivan Drago, seorang petinju dari Uni Sovyet. Ivan Drago adalah seorang petinju yang dihasilkan dengan bantuan teknologi mutakhir.

Dalam satu penggalan film itu, diperlihatkan bagaimana Ivan Drago berlatih fisik dengan berlari di dalam ruangan. Pada tubuh Ivan Drago terdapat beberapa sensor yang setiap saat mengirim data ke komputer yang terdapat di pinggir lapangan. Dari data yang diterima, pelatih dan tim kesehatan dapat mengetahui kondisi tubuh Ivan Drago, seperti tekanan darah, denyut jantung, VO2 max, dan data penting lainnya.

Saat ini dengan peralatan yang lebih sederhana tapi tetap mumpuni, kita dapat memantau kondisi tubuh kita saat sedang berolahraga lewat ’jam tangan pintar’ yang dipakai di pergelangan tangan. Pada layar ’jam tangan pintar’, kita dapat membaca data seperti tekanan darah, denyut jantung per menit, jumlah langkah, dan jarak tempuh.

Dengan teknologi yang sama, kini perangkat tersebut dipakai untuk memantau aktivitas sapi di peternakan. Sudah barang tentu desain dan variabel yang diukur berbeda.

Desain alat untuk memantau aktivitas dan kondisi tubuh sapi terinspirasi dari lonceng sapi tradisional yang biasa dikenakan oleh sapi di pegunungan Alpen. Hanya saja ukurannya dibuat lebih kecil. Alat yang berbentuk ’kalung’ ini juga dibuat tahan benturan, untuk mencegah agar tidak rusak saat terbentur dengan pagar atau bak tempat makanan sapi. ’Kalung pintar’ ini juga cukup mudah untuk dilepas jika ingin dibersihkan atau baterainya diisi ulang.

Beberapa tahun yang lalu ’kalung pintar’ ini telah dipakai di Skotlandia untuk memantau tingkat kesuburan sapi dengan melihat aktivitasnya. Diketahui, jika sapi bergerak lebih banyak dibandingkan biasanya, maka sapi tersebut sedang dalam masa subur. Ini mengingatkan pada pertenak agar sapi tersebut segera dikawinkan. Hebatnya, pesan ini dikirim dari kalung yang digantung di leher setiap sapi ke laptop atau smartphone si pemilik sapi.

’Kalung pintar’ ini juga akan memantau pergerakan sapi sepanjang hari. Dari data yang dikirim dan kemudian dianalisa hubungannya dengan produksi susu serta tinggi tanaman rumput, akan diperoleh pola menggembala sapi yang lebih baik.

Tidak hanya itu. ’Kalung pintar’ ini juga dapat mengirim data peringatan jika sapi akan sakit dengan memantau waktu rata-rata yang dibutuhkan sapi saat makan dan mengunyah. Sinyal peringatan akan dikirim jika waktu makan dan mengunyah menurun.

Walaupun begitu tidak semua variable yang berkaitan dengan kesehatan sapi dapat dipantau seperti; perilaku sapi yang tiba-tiba berubah dan sulit dipahami serta hubungannya dengan kesehatan, sapi yang mendadak pincang, atau kelebihan asam dalam tubuhnya. Hal ini memaksa tim riset untuk mengembangkan algoritma ’kalung pintar’ agar dapat memanfaatkan semua data yang berhasil dikumpulkan.

Sejalan dengan pengembangan kemampuan ’kalung pintar’, kini juga telah dipelajari bagaimana menganalisa keton dan sulfida yang dikeluarkan bersama hembusan nafas sapi untuk mengetahui apakah sapi kekurangan makan, mengalami kerusakan jaringan, atau terdapat kelebihan protein pada makanan.

Untuk melengkapi pekerjaan’kalung pintar’, digunakan pula kamera pendeteksi panas yang dipasang di kandang. Dengan melihat pola panas tubuh sapi maka gangguan yang mengancam kesehatan sapi dapat diketahui lebih dini. Radang ambing – sering disebabkan karena infeksi bakteri – adalah salah satu ancaman terbesar di industri peternakan sapi perah. Penyakit ini dapat menyebabkan produksi susu menurun, bahkan kematian.

Layaknya manusia, kehidupan sapi pun tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi. Tujuannya, selain untuk menaikkan standar kehidupan sapi juga untuk meningkatkan produksi susu dan daging.

Untuk mencapai tujuan itu, Irlandia misalnya, mengeluarkan dana penelitian yang tidak sedikit. Biaya ini dibutuhkan untuk mengembangkan sistem penggembalaan sapi, sensor dan biosensor, desain database, pola algoritma untuk pengolahan data, dan lainnya. Akhirnya, optimalisasi pemanfaatan teknologi ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan lingkungan dan ekonomi berbasis peternakan sapi. (555)

 

Komunitas