Saatnya Robot Mengganti Petani

Jumat, 23 Juni 2017, 11:44 WIB

Robot Traktor

AGRONET -- Beberapa tahun yang lalu, ketika Indonesia kekurangan produksi kedelai untuk membuat tahu, tempe, dan kecap, supir saya yang kebetulan asal Wonosari, Jawa Tengah, mengeluhkan tidak adanya generasi penerus para petani. Kebanyakan anak-anak para petani lebih suka bekerja di pabrik atau kantor, karena lebih bergengsi. Apalagi harga jual hasil pertanian sering tidak memberikan kesejahteraan bagi petani. Akibatnya, tidak ada lagi yang melanjutkan mengurus pohon-pohon kedelai. Lebih parah lagi jika lahan perkebunan dijual dan berubah fungsi menjadi perumahan atau lainnya.

Persoalan yang sama sebenarnya juga terjadi di negara lain. Namun, tata niaga hasil perkebunan dan pertanian lebih diperhatikan pemerintah. Tidak ada permainan tengkulak. Para petani pun dapat hidup lebih baik.

Persoalan tidak adanya generasi penerus petani, seharusnya dapat diatasi dengan robot. Teknologi robotik yang telah berkembang pesat, mampu untuk mengganti hampir semua pekerjaan petani, seperti membajak tanah, menanam bibit tanaman, menyiangi tumbuhan liar, menyemprot peptisida, dan bahkan sampai memanen hasil perkebunan dan pertanian. Lebih lanjut, robot juga telah dimanfaatkan untuk mengerjakan pengepakan hasil pertanian untuk selanjutnya dikirim ke pasar.

Saat ini telah tersedia begitu banyak variasi robot yang dapat melakukan pekerjaan di lahan pertanian. Bayangkan ada beberapa robot yang masing-masing bekerja sesuai dengan fungsi. Semua robot bekerja dengan cara dikontrol oleh seorang petugas yang mengawasi dari sebuah ’dangau’ di tengah lahan pertanian.

Beberapa negara maju telah melibatkan robot untuk mengerjakan semua pekerjaan di lahan pertanian. Jepang sebagai salah satu negara yang paling maju dalam teknologi dan pembuatan robot, juga merupakan negara yang paling banyak memanfaatkan teknologi robot untuk membantu pekerjaan petani.

Kubota Corporation dan Iseki & Co adalah perusahaan Jepang yang telah memperkenalkan model-model robot pertanian (agro-bots) secara luas. Perusahaan ini telah memproduksi robot traktor untuk mengangkut hasil pertanian. Robot jenis ini telah dipakai secara luas di Jepang. Saat ini, telah menjadi kecenderungan di Jepang, robot mengambil alih seluruh pekerjaan di lahan pertanian.

Selain di Jepang, negara di Amerika Utara dan Australia adalah yang terbesar dalam pemanfaatan teknologi robot dalam bidang pertanian. Dapat dibayangkan, para petani di Amerika Utara dan Australia, mereka tidak mungkin harus mengurus lahan pertanian yang begitu luas dengan hanya mengandalkan tenaga manusia. Jadi, pemakaian robot sangat membantu.

Tiongkok pun tidak mau ketinggalan. Robot telah banyak digunakan untuk mengerjakan pekerjaan di sawah atau di kebun. Bahkan Robot dapat mengganti peran petani saat harus memanen buah.

Saat panen buah tomat misalnya, robot dengan mudah memilih dan memetik buah tomat yang telah matang. Sebenarnya caranya tidak terlalu sulit. Pertama, robot memindai posisi semua buah tomat di sebuah pohon. Kedua, robot akan menyeleksi buah tomat berdasarkan warnanya. Jika warnanya telah sesuai dengan program yang dibuat, maka buah tomat akan dipetik. Selain untuk memanen, robot juga dapat melakukan pekerjakan penyemprotan pestisida. Salah satu keuntungannya, para petani tidak lagi terpapar pestisida secara langsung.

Namun sayangnya, pemanfaatan robot ini tidak serta merta diikuti oleh para petani di negara berkembang. Mereka masih jauh tertinggal dalam pemanfaatan robot dan masih mengandalkan metoda tradisional untuk mengerjakan pekerjaan di lahan pertanian. Sebenarnya, dengan memanfaatkan robot untuk mengerjakan pekerjaan di lahan pertanian, maka efisiensi dan produktivitas akan meningkat. Karena, kita tidak akan menemukan robot yang malas bekerja atau robot yang mogok bekerja karena upah belum dibayar. Robot mampu bekerja sepanjang dibutuhkan, asalkan dirawat dengan benar.

Indonesia sebenarnya telah mengenal teknologi robot sejak lama. Terbukti para mahasiswa Indonesia sering kali menjuarai kontes robot di luar negeri. Sayangnya, hanya berhenti sampai di situ. Pemanfaatannya pun belum diarahkan untuk aplikasi pekerjaan di lapangan sehari-hari. Sudah saatnya kita mulai mengembangkan teknologi robot untuk pekerjaan di lahan pertanian. Sebelum terlambat. (555)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komunitas