Bertani di Gurun Pasir

Minggu, 31 Desember 2017, 17:03 WIB

Proyek Hutan Sahara di Yordania

Orang bilang tanah kita tanah surga,
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman,
(Kolam Susu, Koes Plus)

AGRONET – Sepenggal syair lagu ”Kolam Susu” karya Koes Plus menggambarkan betapa suburnya tanah di Indonesia, layaknya negara yang berada di daerah tropis. Sejak abad 8 Indonesia sudah dikenal dengan sebutan Jawadwipa (Yavadvipa) yang bermakna pulau Jawa penghasil padi.

Hidup di negara hanya dengan 2 musim –musim hujan dan kemarau- membuat kita dimanjakan oleh alam. Beda dengan mereka yang hidup di negara 4 musim (panas, gugur, dingin, semi). Mereka harus pandai mengatur cadangan makanan, karena di musim dingin tidak ada tanaman yang berproduksi. Semua tertutup salju.

Lain lagi dengan mereka yang hidup di wilayah gurun, seperti negara Timur Tengah dan Afrika. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya hamparan pasir dengan suhu udara yang sangat panas. Agar dapat bertahan hidup, mereka harus menyesuaikan diri dengan alam. Tanaman dan hewan yang adapun adalah yang dapat hidup pada kondisi gurun.

Setelah sekian lama hidup dengan kondisi ”apa adanya”, beberapa negara Timur Tengah mencoba melakukan terobosan lewat sebuah proyek yang diberi nama ’Sahara Forest Project’ (Proyek Hutan Sahara). Proyek ini bertujuan untuk menyediakan air tawar, makanan, dan energi terbarukan di daerah gurun yang panas dan kering.

Proyek ini menggunakan rumah kaca yang didinginkan oleh air laut dengan teknologi energi matahari. Pilihan teknologi energi matahari dapat secara langsung yaitu memakai Photovoltaic (PV) atau tidak langsung dengan memakai concentrated solar power (CSP).

Selain itu diperlukan juga teknologi khusus untuk menumbuhkan tanaman di daerah gurun. Pemanfaatan teknologi ini diyakini akan mampu membuat sumber energi, makanan, tanaman, dan air pada Proyek Hutan Sahara dapat bertahan lama dan sekaligus menguntungkan.

Proyek Hutan Sahara Skala melibatkan air laut dalam jumlah yang sangat besar. Air laut ini diuapkan. Namun, dengan mengambil lokasi di bawah permukaan laut, biaya pemompaan dapat dieliminasi.

Sebuah proyek di Qatar telah selesai, dan proyek lainnya di Yordania dan Tunisia telah dimulai. Proyek percontohan pertama Proyek Hutan Sahara telah dibangun di Qatar dan pada bulan Desember 2012 lalu telah diresmikan. Uji coba memberikan hasil yang lebih baik dari perkiraan. Ini berguna untuk memandu langkah selanjutnya, antara lain perencanaan skala komersial pertama dari keseluruhan rantai proyek Proyek Hutan Sahara.

Di Yordania, sejak beberapa tahun yang lalu juga telah disiapkan Proyek Hutan Sahara skala penuh di luar kota pelabuhan Aqaba, Yordania, seluas 3 hektar. Proyek Hutan Sahara di Qatar yang telah dibongkar pada tahun 2016, akan dipasang di Yordania. Diharapkan akan beroperasi pada 2017.

Proyek Hutan Sahara di Aqaba ini hanya menggunakan teknologi yang telah terbukti telah berhasil dan digabung dalam sistem baru. Proyek ambisius ini diwujudkan dengan dukungan finansial dari dari dua donor terbesar, pemerintah Norwegia dan Uni Eropa. Paling tidak telah dikeluarkan dana lebih dari 160 juta Euro hingga saat ini.

Proyek Hutan Sahara sejak awal digagas karena ingin membuat padang pasir menjadi hijau. Proyek ini akan membuka jalan bagi perluasan pertanian di Yordania dengan melakukan restorasi secara besar-besaran. Pada akhirnya, Proyek Hutan Sahara di Yodania akan mempunyai luas 20 hektar.

Teknologi yang sama juga tengah dirancang oleh para periset di Aston University bekerjasama dengan perusahaan Inggris, Seawater Greenhouse. Proyek ini mengambil tempat di benua Afrika, di salah satu tempat terpanas dan terkering di permukaan bumi.

Pada tempat ini suhu rata-rata di atas 40 derajat Celcius. Air langka dan pangan sangat sulit diperoleh. Kondisi iklim semacam ini membuat pertanian konvensional menjadi terpinggirkan dan situasinya memburuk. Proyek ini bertujuan untuk mengatasi kondisi tidak ramah di wilayah ini dan membantu petani agar dapat meningkatkan hasil panen mereka. Sehingga petani dapat memperoleh pendapatan berkelanjutan yang konsisten.

Saat ini di Somalia hanya 1,5 persen dari tanah negara yang dibudidayakan dan rata-rata hasil panen tahunan per hektar hanya 0,5 ton. Bandingkan dengan 700 ton per hektar di rumah kaca komersial. Produktivitas dan kualitas tanaman yang dibudidayakan di rumah kaca umumnya jauh lebih baik daripada budidaya di lapangan terbuka tradisional. Penggunaan air dan nutrisi juga jauh lebih ekonomis.

Setelah dipasang, rumah kaca inovatif ini akan memompa air dari laut dengan menggunakan energi matahari dan mengubahnya menjadi air tawar untuk irigasi melalui proses desalinasi. Di dalam rumah kaca juga dihembuskan udara sejuk dan lembab untuk mengurangi penguapan tanaman. Sedangkan garam yang diekstraksi dari air laut akan dimanfaatkan untuk memasak dan mengawetkan makanan.

Semua usaha ini harus dilakukan agar pada tahun 2050 hasil pertanian global dapat meningkat 60 persen untuk memenuhi kebutuhan pangan. Pada kondisi itu, sumber daya akan menjadi masalah serius. Air akan menjadi masalah akut. Penggunaan teknologi desalinasi dan rumah kaca air laut diperkirakan akan meningkat dengan cepat untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. (555)

 

 

 

Komunitas