Petik Jeruk Dekopon di Lembang

Minggu, 09 Desember 2018, 21:28 WIB

Jeruk Dekopon yang berasal dari Jepang kini dapat dipetik langsung di agrowisata Mupu Jeruk | Sumber Foto:Mupu Jeruk

AGRONET – Pernah coba jeruk yang satu ini. Namanya jeruk Dekopon. Kabarnya jeruk Dekopon dibudidaya pertama kali di Jepang tahun 1972 dengan menyilangkan jeruk Kiyomi Tangor dan Ponkan jeruk mandarin (Chinese Honey Orange). Di Jepang, jeruk Dekopon disebut dengan Shiranuhi atau Shiranui.

Jeruk Dekopon adalah varietas jeruk Mandarin tanpa biji dan rasanya manis. Dibandingkan jeruk jenis lain, kulit jeruk Dekopon lebih tebal dan daging buahnya tidak mempunyai biji. Ciri khasnya adalah adanya tonjolan di bagian atas buah. Nama dekopon berasal dari bahasa Jepang, yaitu kata deko dan pon yang berarti tonjolan dan buah indukan.

Selain itu, ukuran jeruk Dekopon lebih besar dibandingkan jeruk sejenis. Berat setiap buahnya bervariasi antara 400 hingga 700 gram, bergantung pada cara pemeliharaan dan kondisi alam seperti suhu, kelembaban udara, kualitas tanah, dan intensitas sinar matahari. Dengan ukuran yang lebih besar, jumlah vitamin C yang dikandung jeruk Dekopon juga lebih banyak. Cukup mengonsumsi satu buah jeruk Dekopon, kebutuhan vitamin C per hari telah tercukupi.

Awalnya, di Jepang jeruk ini memiliki beberapa nama. Dekopon dipakai sebagai merek dagang untuk produk dari Kumamoto dan himepon untuk buah yang berasal dari prefektur Ehime. Sedangkan yang berasal dari Hiroshima dipasarkan dengan nama hiropon. Namun, kemudian terjadi kesepakatan. Siapa saja dapat menggunakan nama dekopon asalkan membayar sejumlah biaya dan kualitas buahnya memenuhi standar tertentu.

Di Jepang biasanya buah ditanam di dalam rumah kaca untuk menjaga suhu lingkungan tetap konstan. Jeruk Dekopon umumnya dipanen pada musim dingin (di Jepang), dari Desember hingga Februari. Untuk jeruk Dekopon yang ditanam di tanah perkebunan Jepang, masa panennya berbeda. Jeruk Dekopon dipetik dari Maret hingga April.

Setelah dipetik biasanya jeruk Dekopon dibiarkan selama 20 sampai 40 hari agar kadar asam sitrat dalam buah turun dan kadar gula bertambah. Hanya jeruk dengan kadar gula di atas standar tertentu dan asam sitrat di bawah limit yang ditentukan dapat dijual dengan nama dekopon.

Selain di Jepang, jeruk Dekopon juga ditanam di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Brasil. Di Korea Selatan, jeruk Dekopon dikenal dengan nama Hallabong dan di Amerika Serikat diberi nama Sumo.

Petani Indonesia yang dikenal kreatif tidak mau ketinggalan. Sejak sekitar 4 tahun yang lalu jeruk Dekopon mulai dibudidayakan di daerah Bandung Selatan. Tepatnya di Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey.

Para petani di daerah ini tertarik menanam jeruk asal Jepang ini karena perawatannya mudah dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Apalagi hasil setiap pohonnya cukup besar, sekitar 15 sampai 25 kg. Harga jualnya pun lumayan mahal.

Di Jepang, harga satu buah jeruk Dekopon sekitar Rp 110.000. Di Indonesia lebih murah. Satu kilogram dengan jumlah sekitar 3 buah, dijual dengan harga sekitar Rp 80.000 sampai Rp 100.000. Dengan produktivitas per pohon yang dapat mencapai sekitar 15 hingga 25 kg, jelas jeruk dekopon cukup menggiurkan untuk terus dikembangkan.

Nah, jika penasaran dengan jeruk Dekopon, coba mampir ke agrowisata Mupu Jeruk. Lokasinya di jalan Dr. Setiabudi No.380B, Isola, Sukasari, Bandung. Agrowisata ini yang buka setiap hari ini memiliki lebih dari 1.000 pohon jeruk Dekopon yang ditanam di atas lahan seluas 3 hektar. Pengunjung yang ingin merasakan sensasi memetik langsung, dapat merasakannya di sini. Sesuai dengan namanya, ”Mupu” yang berarti ”petik” dalam bahasa Sunda.

Selain wisata petik jeruk Dekopon, agrowisata Mupu Jeruk juga menyediakan wisata panen sayuran dan rumah makan. Saat ini ”Mupu Jeruk” tengah menyiapkan wisata kebun binatang mini dan wisata pemancingan ikan.

Tunggu apa lagi. Liburan akhir tahun telah di depan mata. Coba rasakan nikmatnya memetik jeruk di pohon dan langsung dimakan di tempat. Sejuknya udara Bandung Utara juga akan menemani Anda berlibur. (555)