Si Perkasa, Kambing Rocky Mountain

Minggu, 18 Pebruari 2018, 20:26 WIB

Kambing Rocky Mountain

AGRONET – Masih ingat Alain Robert ? Pria asal Perancis yang dijuluki ”Manusia Laba-laba” ini telah memanjat lebih dari 80 gedung di dunia, nyaris tanpa menggunakan tali pengaman. Beberapa di antaranya adalah gedung yang pernah tercatat sebagai gedung tertinggi di dunia seperti ; Burj Khalifa (Dubai), Menara Eiffel (Paris), Menara Kembar Petronas (Kuala Lumpur), Sears Tower (Chicago), dan Aspire Tower (Doha).

Di Indonesia, ia pernah memanjat Gedung BNI 1946 (2002), Gedung Indosat (2004), dan Bakrie Tower (2012). Setiap kali memanjat gedung, Alain Robert terlihat bagai laba-laba yang sedang merayap di dinding gedung. Bergerak perlahan menuju ke puncak. Jarinya yang kuat mencengkram setiap lekukan yang ada pada dinding gedung dan menarik tubuhnya bergerak ke atas.

Layaknya Alain Robert, ada hewan yang juga pandai memanjat. Keterampilannya memanjat kerap membuat kita kagum. Hewan ini dikenal sebagai kambing Rocky Mountain (Oreamnos americanus) atau lebih dikenal sebagai kambing gunung. Namun, kambing gunung memanjat bukan karena hobi seperti Alain Robert dan yang dipanjat pun bukan gedung, melainkan gunung dan tebing.

Kambing gunung adalah mamalia terbesar yang ditemukan di habitat dataran tinggi mereka, di ketinggian lebih dari 4.000 m. Hewan ini memang hidup di daerah pegunungan dan kondisi ini mengharuskannya memanjat dan merayap di tebing gunung untuk mencari makan.

Kambing gunung adalah herbivora. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk merumput. Makanan mereka meliputi rerumputan, tumbuh-tumbuhan, pakis, lumut, ranting dan daun dari tumbuh-tumbuhan di habitat dataran tinggi mereka.

Sebenarnya hewan ini bukan kambing, melainkan sejenis antilop seperti halnya kijang dan rusa. Kambing gunung dapat dijumpai di wilayah yang memiliki tebing-tebing terjal, mulai dari Alaska hingga Amerika Serikat (Rocky Mountain). Populasinya menyebar ke daerah-daerah seperti Idaho, Wyoming, Utah, Nevada, Oregon, Colorado, South Dakota, dan Semenanjung Olimpiade Washington.

Kambing jenis ini dapat ditemukan juga di pegunungan Himalaya di daerah Nepal, Tibet, Cina, India, Pakistan, dan Bhutan. Di daerah ini, kambing gunung disebut dengan bharal atau kambing biru himalaya.

Kambing gunung adalah mamalia berkuku yang mempunyai ekor pendek dan tanduk hitam. Panjang tanduk yang berbentuk agak bengkok sekitar 15 hingga 28 cm. Pada tanduknya juga terdapat cincin pertumbuhan tahunan. kambing gunung memiliki jenggot yang khas.

Tinggi kambing gunung jantan hingga ke bahu dapat mencapai 1 m. Sedangkan bobot tubuhnya dapat mencapai 90 kg. Bobot kambing jantan lebih berat sekitar 30?ri betina. Selain itu kambing jantan memiliki tanduk dan jenggot lebih panjang dari betina.

Kambing gunung betina lebih banyak menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama anak-anaknya. Sedangkan yang jantan biasanya hidup menyendiri atau berkumpul dengan satu atau dua kambing jantan lain. Pada musim semi, kambing betina melahirkan satu atau dua anak.

Di alam liar, kambing gunung umumnya hidup 12 sampai 15 tahun. Masa hidup mereka biasanya dibatasi oleh keausan gigi mereka. Di kebun binatang, mereka bisa hidup selama 16 sampai 20 tahun.

Tak jarang kambing gunung di habitatnya harus berhadapan dengan para predator: serigala, beruang, dan puma. Atau, burung elang yang selalu mengincar anak-anak kambing.

Kambing betina yang lebih sering menemani anak-anak mereka, saat terdesak kadang terpaksa harus menghadapi musuh semampunya. Jika masih dapat menghindar, biasanya mereka akan memilih menuruni tebing dengan posisi induk kambing ada di bagian bawah anak-anaknya. Posisi memang disengaja untuk menjaga jika ada anak mereka yang terpeleset saat menuruni tebing.

Kambing gunung mempunyai bulu yang tebal, berwarna putih, dan membentuk bulu tengkuk dipunggungnya. Bulu tebal ini terdiri dari dua lapis. Pada lapisan bawah, tubuhnya dilindungi oleh bulu yang halus dan padat. Sedangkan pada lapisan sebelah luar, tubuhnya dibungkus oleh bulu yang panjang dan berongga.

Bulunya yang tebal ini berfungsi layaknya mantel hangat. Bulu tebal ini dapat menahan suhu dingin hingga -46 derajat Celcius dan tiupan angin hingga 160 km per jam. Selain itu, bulu yang berwarna putih juga membantunya untuk bersembunyi di antara salju agar terhindar dari intaian musuh-musuhnya.

Kambing gunung berganti bulu pada musim semi dengan cara menggosok-gosokkan tubuhnya ke batu dan pohon. Kambing jantan akan mengawali mengganti bulu dan yang terakhir adalah kambing betina yang sedang hamil.
Keetrampilan memanjat kambing gunung melebihi hewan lain, bahkan melampaui manusia. Hewan ini adalah pendaki yang terampil dan dapat berjalan pada tebing yang curam serta melintasi es.

Kemampuan ini disebabkan karena kambing gunung memiliki kuku yang terbelah dengan dua jari kaki yang dapat melebar untuk meningkatkan keseimbangan. Bantalan kasar di bagian bawah telapak kakinya memberikan cengkeraman seperti layaknya sepatu pendaki alami. Pinggiran kukunya yang tajam, layaknya paku baja yang menancap pada batu, membuatnya tidak tergellincir.

Selain itu, kambing gunung memiliki otot bahu dan leher yang kuat sehingga dapat mendaki lereng curam dan berbatu dengan sudut lebih dari 60 derajat. Kambing gunung juga pelompat yang andal. Dalam satu lompatan, kambing gunung dapat melompat hampir 3,5 meter.

Tuhan memang Mahaadil. Di habitatnya yang mengharuskan menyusuri gunung dan tebing hanya untuk mencari makanan, kambing gunung diberi kelebihan agar dapat bertahan hidup. (555)