Vertical Indoor Farming. Pertanian Masa Depan

Senin, 12 Maret 2018, 00:09 WIB

Vertical Indoor Farming

AGRONET – Menurut laporan Departemen Populasi Divisi Urusan Sosial dan Ekonomi PBB, diperkirakan populasi dunia saat ini mencapai hampir 7,6 milyar. Pada 2030, akan meningkat menjadi 8,6 milyar, pada tahun 2050 menjadi 9,8 milyar, dan pada tahun 2100 menjadi 11,2 milyar. Pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat ditambah dengan dampak perubahan iklim, meningkatnya tingkat geografis lahan kering, dan berkurangnya pasokan air tawar membuat penurunan jangka panjang lahan pertanian per kapita.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengungkapkan bahwa lahan subur per orang diproyeksikan akan menurun pada tahun 2050, menjadi hanya sepertiga dari jumlah yang tersedia pada tahun 1970. Kecenderungan ini berarti bahwa planet ini akan kekurangan lahan subur pertanian untuk memberi makan penduduknya yang semakin banyak.

Ancaman lain adalah penurunan pasokan ikan. Ini akan mendorong beban makanan yang lebih besar pada produk berbasis lahan. Lainnya, meningkatnya urbanisasi, biaya agribisnis yang semakin tinggi (misal; pupuk, bahan bakar, pestisida ), deplesi tanah, degradasi dari pertanian berlebih, dan praktik produksi yang buruk.

Untuk menghadapi masalah ini, salah satu solusi yang paling mungkin dikerjakan untuk meningkatkan produksi pangan di masa depan adalah pertanian vertikal dalam ruangan (vertical indoor farming) di perkotaan. Cara ini akan melibatkan lebih banyak penggunaan teknologi dan otomasi untuk optimasi penggunaan lahan.

Strategi indoor farming bertujuan meningkatkan produktivitas secara signifikan. Diklaim bahwa indoor farming memberikan banyak keuntungan sebagai sumber makanan bersih dan hijau, bebas hama, kekeringan, dan pengurangan penggunaan transportasi dan bahan bakar fosil. Keuntungan lain, dengan indoor farming, kegiatan pertanian dapat dilakukan di gedung-gedung tinggi.

Tidak seperti bercocok tanam di lahan terbuka, indoor farming tidak mengenal gagal panen karena cuaca, seperti hujan terus menerus. Perubahan iklim yang tidak menentu, juga bukan ancaman. Model pertanian indoor farming ada beberapa pilihan seperti hidroponik, aquaponic, dan aeroponic.

Saat ini, sebagian besar indoor farming menggunakan kombinasi hidroponik dan cahaya buatan. Namun, beberapa metode indoor farming seperti yang diterapkan di rumah kaca, dapat menggunakan kombinasi sumber daya alam dan buatan.

Negara dengan teknologi pertanian yang maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, telah giat mengerjakan indoor farming dengan serius. Indoor farming telah dijadikan sebagai pilihan pertama. Bahkan, kualitas produk yang dihasilkan lebih unggul dari hasil pertanian biasa.

Namun bukan berarti indoor farming tidak memiliki kekurangan. Biaya indoor farming sangat mahal. Selain itu, harus melibatkan teknologi, software dan hardware. Suhu, kelembaban, hingga cahaya harus dikontrol dengan baik. Selain itu, indoor farming juga dianggap menghasilkan CO2 lebih banyak daripada pertanian di sawah. Masalah terakhir ini yang membuat hingga sekarang indoor farming masih dalam perdebatan.

Di Jepang usaha pertanian indoor telah memberikan hasil yang sangat sukses. Dengan lahan seluas sekitar 2.300 meter persegi dihasilkan 10.000 pucuk selada per hari. Hasil ini sekitar 10 kali lebih banyak per meter persegi dari cara tradisional, dengan daya 40% lebih sedikit, 80% lebih sedikit nutrisi, dan 99% lebih sedikit penggunaan air (karena tidak ada air yang terbuang terserap ke dalam tanah) dari pada di luar ruangan. Limbah pun nyaris tidak ada.

Walaupun begitu, saat ini proses indoor farming di Jepang masih ”setengah otomatis”. Beberapa pekerjaan memang telah dikerjakan oleh mesin, tapi untuk pekerjaan memetik masih dilakukan secara manual. Untuk ke depan, robot akan banyak mengambil alih pekerjaan manusia, seperti memanen, transplantasi bibit, dan mengangkut hasil panen.

Selain pemakaian robot, lampu LED (Light Emitting Diode) yang diproduksi khusus –meniru sifat cahaya matahari- untuk keperluan indoor farming, akan meningkatkan hasil panen indoor farming. Siklus siang dan malam di lingkungan buatan ini dapat diperpendek sehingga tanaman tumbuh lebih cepat. Dengan cara ini, indoor farming tidak lagi bergantung pada cahaya matahari. Variabel lain seperti suhu dan kelembaban dioptimalkan.

Jika Amerika Serikat, Jepang, dan beberapa negara telah menggarap indoor farming dengan serius untuk mengantisipasi kekurangan pasokan makanan di masa depan, bagaimana dengan Indonesia ? Sebenarnya di Indonesia indoor farming telah dikerjakan sejak lama. Hidroponik bahkan dengan green house, telah dikerjakan sejak tahun 1990-an. Namun, sayangnya belum ada yang menggarap indoor farming dalam skala industri. (555)