Nelayan Maladewa, Bekerja dan Bersahabat dengan Laut

Minggu, 01 April 2018, 22:44 WIB

Menangkap ikan dengan cara pole and line

AGRONET – Maladewa. Negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan atol di Samudra Hindia ini terletak sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka. Ekonomi Maladewa bergantung pada dua sektor utama, pariwisata dan perikanan. Negara ini memiliki banyak pantai yang indah dan pemandangan bawah laut yang menarik. Sekitar 700.000 turis setiap tahunnya datang ke negara ini.

Di bidang perikanan, Maladewa merupakan salah satu ekportir ikan –khususnya ikan tuna- ke beberapa negara Asia dan Eropa. Kegiatan ekspor ikan ini menjadi salah satu tambang devisa penting. Sebanyak 90?ri total produk perikanan yang diekspor oleh Maladewa merupakan produk tuna segar, tuna kering, tuna beku, tuna yang diasinkan, dan tuna kaleng.

Namun, hal yang paling menarik dari Maladewa adalah cara nelayan lokal menangkap ikan. Mereka sangat menjaga keseimbangan alam. Jadi, jangankan cantrang, jaring biasapun hanya dipakai untuk menangkap ikan untuk umpan. Nelayan lokal di Maladewa menggunakan cara pole and line. Cara ini lazim disebut juga dengan ”pancing gandar”, karena menggunakan gandar atau joran.

Secara sederhana pole and line dapat dimaknai dengan menangkap ikan dengan menggunakan pancing. Umpan yang digunakan, dapat umpan tipuan atau umpan sungguhan yang telah mati. Mata pancing yang dipakaipun tidak memiliki mata tajam yang menghadap ke bawah. Sehingga pada saat ikan terkait mata pancing, mudah dilepaskan.

Pada saat operasional menangkap ikan, kapal nelayan biasanya akan mencari daerah laut yang di atasnya banyak burung camar laut yang terbang berputar-putar. Ini menandakan di bawah permukaan laut sedang terjadi perburuan ikan-ikan kecil oleh sekelompok ikan yang lebih besar, seperti tuna. Cara lain, Atau, dapat dengan cara menggunakan peralatan modern yang menggunakan teknologi sonar. Ikan-ikan kecil yang berenang ketakutan tanpa arah karena dikejar ikan tuna ini, menjadi incaran burung camar juga.

Jika posisi kapal nelayan telah dirasa pas, maka para nelayan akan berdiri di bagian dek kapal di sebelah depan atau samping sambil memegang joran pancing. Sementara itu, salah seorang dari mereka akan melempar umpan ikan-ikan kecil- biasanya ikan makarel atau teri- ke laut, agar ikan tuna berenang naik ke permukaan. Cara lain, dengan menggunakan semprotan air yang sudah dicampur dengan ikan-ikan kecil. Air disemprotkan ke arah muka para nelayan yang telah memegang joran pancing, untuk menciptakan ilusi umpan yang lebih besar. Secara umum 1 kg umpan diharapkan dapat memperoleh 10 kg tuna.

Ketika ikan tuna telah dekat dengan permukaan laut, para nelayan segera menurunkan pancing. Segera saja ikan tuna menyambar umpan pada mata kail. Dengan gerakan yang seragam, para nelayan menarik joran yang mata kailnya telah disambar ikan ke arah belakang, dan ikan dengan mudahnya terlepas dan berkumpul di geladak kapal. Joranpun diayunkan ke depan lagi. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang.

Gerakan menarik joran sepintas terlihat sederhana. Namun cara ini membutuhkan keahlian khusus. Nelayan harus tahu betul kapan momentum yang pas untuk menarik joran. Di Jepang, pekerjaan menarik joran ini sebagian telah digantikan oleh robot.

Menangkap ikan dengan cara ini diyakini oleh nelayan Maladewa dapat menjaga keseimbangan jumlah ikan diperairan mereka. Selain itu, Maladewa tidak mengizinkan kapal-kapal asing menangkap ikan dalam radius 200 mil dari garis pantai perairan Maladewa.

Para nelayan lokal Maladewa sebenarnya menggunakan cara ”kuno” yang telah sejak lama digunakan. Hanya saja pada awalnya joran masih menggunakan bahan tradisional seperti bambu. Saat ini joran telah menggunakan metal atau fibreglass.

Menangkap ikan dengan cara pole and line atau dapat dimaknai juga dengan menangkap ikan ”satu per satu” bukannya tanpa kekurangan. Untuk skala industri, cara ini jelas tidak menguntungkan. Jumlah tangkapan harus lebih besar dari biaya operasional. Belum lagi jumlah tangkapan harus dapat memenuhi kebutuhan pasar.

Namun, bagi nelayan lokal Maladewa bekerja haruslah tetap menjaga kearifan lokal. Dalam hal ini, para nelayan lokal telah sejak lama memiliki hubungan yang intim dengan laut. Geografi mereka –dengan banyak pulau kecil di karang atol – membuat mereka paham betul bagaimana hidup dan bekerja seimbang dengan laut. Nelayan Maladewa tahu bahwa kegagalan untuk bekerja dengan laut berarti kegagalan untuk mempertahankan keluarga dan komunitas. (555)

 

BERITA TERKAIT