Ini yang Membuat Melon Sangat Mahal di Jepang ?

Minggu, 13 Mei 2018, 22:03 WIB

Muskmelon di supermarket Jepang

AGRONET – Tahukah Anda, dari sepuluh jenis buah termahal di dunia, delapan di antaranya dihasilkan oleh pertanian Jepang. Jenis buah ini adalah melon, semangka densuke, anggur ruby roman, mangga ’taiyo no tamago’, semangka kotak, stroberi sembikiya queen, jeruk dekopon, dan apel ’sekai ichi’.

Jepang adalah negara yang memiliki tradisi panjang memperlakukan buah sebagai barang mewah. Namun, tidak ada buah di Jepang yang dapat mengalahkan kemewahan melon yang telah memiliki peran penting sejak tahun 1885 sebagai buah mewah tertua dan paling terkenal di Jepang. Oleh sebab itu tidak heran jika orang Jepang kerap memilih melon sebagai hadiah untuk orang yang dihormati atau dicintai.

Tradisi ini dimulai sejak abak ke-13, ketika itu para samurai lazim menghadiahi pemimpinnya dengan buah melon sebagai tanda hormat dan kesetiaan. Sebagai hadiah, melon biasanya dikemas dalam kotak yang dibungkus dengan kertas kado dan diikat dengan pita cantik.

Di Jepang, melon dapat dibeli di supermarket. Melon kualitas biasa dibandrol sekitar Rp 1,3 juta sampai Rp 5,5 juta. Namun, melon kualitas istimewa, seperti melon Yubari, pernah terjual dengan harga sekitar Rp 300 juta pada sebuah lelang. Harga ini membuat melon produksi pertanian Jepang tidak hanya sebagai buah termahal di Jepang tapi juga di dunia.

Di negara lain seperti Australia, melon dijual dengan harga sekitar 15 dolar Australia (sekitar Rp 160 ribu) per buah. Di Indonesia lebih murah lagi. Melon dapat dibeli dengan harga kurang dari Rp 100 ribu per buah. Jadi, apa yang membuat melon sangat mahal di Jepang ?

Para petani melon di Jepang setiap tahunnya mengirimkan hasil terbaik hasil panennya untuk diadu dalam sebuah kompetisi yang dikenal dengan nama Crown Melon Show. Pada dasarnya kompetisi ini untuk mencari siapa yang memiliki melon terbaik. Melon dinilai berdasarkan bentuk, rasa manis, aroma, dan warnanya.

Para pemenang Crown Melon Show tahun-tahun sebelumnya berasal dari Prefektur Shizuoka. Memang, melon terbaik di Jepang biasanya dihasilkan dari lahan pertanian Shizuoka. Rasa melon dari Shizuoka begitu lezat dan juicy (mengandung banyak air). Banyak petani di sana yang mendedikasikan hidupnya untuk pengembangan melon. Biasanya melon tersedia dari bulan Juni hingga November.

Ternyata, untuk dapat menghasilkan melon yang memiliki kualitas istimewa, diperlukan proses yang sangat ketat dan panjang. Pertama, petani harus bergerak cepat melakukan penyerbukan silang tiga bunga pada setiap tanaman dengan menggunakan sikat kecil untuk menghasilkan buah terbaik. Tanaman mulai berbunga sekitar 25 hari setelah ditanam. Tanaman melon ditanam dalam rumah kaca yang panas dan lembab dibandingkan dengan kondisi di luar.

Rumah kaca ini sepenuhnya transparan agar dapat menyerap sinar matahari secara maksimum. Suhu di dalam rumah kaca dengan sangat cermat. Sekitar 42 derajat Celcius. Kelihatannya petani di Shizuoka ingin menyesuaikan kondisi dalam rumah kaca dengan kondisi di Mesir, asal buah melon.

Setelah sekitar sepuluh hari kemudian, ketika buah melon telah tumbuh sebesar telur, petani akan memilih dan hanya menyisakan satu melon terbaik pada setiap tanaman. Dengan demikian, melon yang tersisa akan menyerap seluruh nutrisi dari tanaman dan dapat tumbuh lebih cepat. Buah melon yang telah dipilih dibungkus kertas tipis dengan lembut untuk mendapatkan permukaan yang seragam dan berwarna sempurna. Melon yang telah melalui proses ini akan memiliki batang berbentuk T.

Pada perkembangan selanjutnya, akan muncul banyak retakan pada kulit buah melon. Tetapi tanaman melon akan melakukan retikulasi, mengisi retakan-retakan pada kulit buah dengan gula. Sehingga pada pada saat retakan-retakan telah tertutup, akan tercipta semacam guratan-guratan pada pada seluruh kulit buah melon.

Kualitas retikulasi sangat bergantung pada seberapa banyak dan sering tanaman disiram. Petani yang berpengalaman akan memantau tanaman secara intens dan memberi tanaman jumlah air yang sempurna.

Umumnya, semakin halus retikulasi maka rasa melon akan semakin enak dan juicy. Untuk dapat menghasilkan melon terbaik, petani di Shizuoka telah menggunakan sistem komputerisasi untuk mengatur jumlah air yang harus diberikan, suhu dan kelembaban dalam rumah kaca.

Setelah proses retikulisi selesai, petani akan melakukan ”tama-fuki”, yaitu petani menggosok perlahan buah melon dengan menggunakan sarung tangan katun. Cara ini dipercaya akan merangsang melon dan menambah rasa manis. Untuk satu baris tanaman melon, petani dapat menghabiskan beberapa pasang sarung tangan, karena robek. Proses ”tama-fuki” ini dilakukan beberapa kali sampai melon siap dipanen.

Menjelang melon siap dipanen, petani akan membungkus melon dengan hati-hati mengggunakan lapisan pelindung. Petani yang berpengalam tahu kapan buah melon harus dipetik. Lebih awal atau lambat satu hari saja akan membuat perbedaan besar pada rasa, tekstur, dan wangi buah.

Masa kematangan melon adalah beberapa hari setelah dipetik. Kematangan melon mulai dari bagian bawah. Ketika matang sempurna, kulit buah melon akan berubah sedikit kuning dan aroma khas melon dapat tercium. Rata-rata siklus pertumbuhan melon dari awal penanaman hingga panen membutuhkan waktu sekitar 100 hari.

Di Shizuoka, melon terbaik disebut dengan Crown Melon. Melon ini adalah hasil persilangan dari beberapa jenis melon terbaik dan ditanam pertanam kali di kota Fukuroi, prefektur Shizuoka, pada tahun 1924.

Crown Melon terbagi dalam enam tingkatan. Tingkat tertinggi untuk melon dengan kualitas terbaik disebut dengan Fuji. Selanjutnya diikuti oleh tingkat Yama, Shiro, Yuki dan seterusnya. Dari sekitar seribu melon yang dipanen, biasanya hanya diperoleh satu melon yang memenuhi tingkatan Fuji.

Budidaya melon di Jepang ternyata memang menuntut kecermatan dan ketekunan yang tinggi. Bahkann resikonya pun tinggi. Seperti kata seorang petani di Shizuoka, ”Setiap hari saya harus menyesuaikan jumlah air untuk pertumbuhan melon. Saya benar-benar tidak punya waktu luang, bahkan untuk berlibur bersama keluarga.”

Pengorbanan petani di Jepang rasanya sepadan dengan hasilnya atau paling tidak dapat menjawab mengapa harga melon di Jepang begitu mahal. (555)

BERITA TERKAIT