Ini Minuman Paling Populer di Dunia

Minggu, 12 Agustus 2018, 00:38 WIB

Suasana perkebuanan teh di Indonesia | Sumber Foto:Wikipedia

AGRONET – Pernah baca komik Asterix dalam kisahnya bersama Obelix membantu Inggris melawan pasukan Romawi ? Pertempuran yang sedang berjalan seru tiba-tiba saja harus berhenti, karena pasukan Inggris harus menjalankan ”ritual” minum teh di sore hari.

Di Inggris, teh memang sangat populer. Tapi, teh tidak hanya populer di Inggris. Beberapa negara juga memiliki tradisi minum teh, seperti Jepang misalnya. Di Negara Matahari Terbit ini, tradisi minum teh telah menjadi tradisi turun menurun. Bahkan pelaksanaannya cukup rumit.

Di Cina, budaya minum teh bahkan telah dimulai sejak 2.000 tahun yang lalu. Tidak heran, karena di negara ini awal teh mulai dikenal sebagai minuman sejak 200 tahun sebelum masehi, pada masa pemerintahan dinasti Han.

Sebelumnya, teh di Cina digunakan sebagai bahan obat-obatan, sekitar 800 tahun sebelum masehi. Saat itu teh tidak diminum, tapi dikunyah. Saat mengunyah, ada rasa enak yang terasa di mulut. Selain sebagai obat, teh saat itu juga dipakai sebagai campuran masakan, khususnya sop.

Di awal pemakaiannya sebagai minuman, pemrosesan teh sangat sederhana. Daun teh dibentuk bulat, dikeringkan, dan kemudian disimpan. Ketika akan dipakai, baru daun teh diseduh dengan air panas. Kadang dicampur dengan ramuan lain, seperti jahe. Pada saat pemerintahan dinasti Ming, berbagai jenis teh mulai ditemukan dan kemudian dikembangkan di daerah Canton (Guangdong) dan Fukien (Fujian).

Hingga saat ini teh masih menjadi minuman paling populer di dunia. Walaupun demikian jumlah produksi teh dunia masih kalah dengan kopi. Cina sebagai penghasil teh terbesar dunia, mampu menghasilkan teh sebesar 2,4 juta ton per tahun. Sedangkan Indonesia berada di posisi ke tujuh dengan jumlah produksi sekitar 140 ribu ton per tahun.

Sebagai minuman paling populer, saat ini berbagai jenis teh dapat dijumpai di pasar. Teh dapat dikelompokkan berdasarkan cara pengolahannya. Pengolahan daun teh sering disebut sebagai ”fermentasi". Pemakaian istilah ini sebenarnya tidak tepat, karena pemrosesan teh tidak menggunakan ragi dan tidak ada etanol yang dihasilkan seperti layaknya proses fermentasi yang sebenarnya. Di bawah ini beberapa jenis teh yang telah kita kenal.

1. Teh putih
Teh jenis ini dibuat dari pucuk daun yang tidak mengalami proses oksidasi. Sebelum dipetik, daun teh dilindungi dari pancaran sinar matahari untuk mencegah pembentukan klorofil. Teh putih diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan teh jenis lain, sehingga harga jualnya menjadi lebih mahal. Teh putih kurang terkenal di luar Cina.

2. Teh hijau
Untuk membuat teh hijau, daun teh yang telah dipetik langsung diproses. Setelah daun mengalami oksidasi dalam jumlah yang minimal, proses oksidasi dihentikan dengan cara pemanasan. Cara tradisional di Jepang, cara pemanasan dilakukan dengan menggunakan uap panas. Sedangkan di Cina dilakukan dengan cara menyangrai di atas wajan.

3. Teh Oolong
Pada proses pembuatan teh Oolong, proses oksidasi dihentikan di tengah-tengah antara teh hijau dan teh hitam. Biasanya memakan waktu 2 sampai 3 hari.

4. Teh hitam atau teh merah
Berbeda dengan teh putih, pada pembuatan teh hitam atau teh merah, daun teh dibiarkan teroksidasi secara penuh selama sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Orang timur menyebut jenis teh ini dengan teh merah karena seduhan dauh teh yang dihasilkan berwarna merah. Sedangkan  orang barat menyebutnya dengan teh hitam, karena daun teh yang digunakan berwarna hitam.

Teh hitam adalah jenis teh yang paling banyak di produksi di Indonesia. Teh jenis ini juga yang paling umum dihasilkan di Asia Selatan (India, Sri Langka, dan Bangladesh), dan sebagian besar negara-negara di Afrika seperti Kenya, Burundi, Rwanda, Malawi, dan Zimbabwe.

Teh tidak hanya dimanfaatkan sebagai minuman. Ada juga yang mengaitkan manfaat teh dengan kesehatan. Teh hijau dapat digunakan untuk diet dan menjaga kesehatan, karena teh hijau mengandung anti oksidan yang tinggi. Jika dikaitkan dengan keseimbangan yin-yang, teh hijau cenderung yin dan teh hitam cenderung yang. Sedangkan teh oolong dianggap seimbang.

Ada juga yang menggunakan kuncup bunga melati yang hampir mekar sebagai campuran teh. Sebelum dicampur dengan kuncup melati, terlebih dahulu daun teh dilembabkan agar harum melati dapat menempel pada daun teh.

Hampir sebagian besar teh yang dijual di pasar dengan merek terkenal merupakan hasil ramuan ahli teh. Berbagai jenis daun teh yang berbeda dicampur untuk menghasilkan cita rasa yang khas, sehingga kualitas teh dapat meningkat dan harga jualnya lebih mahal. Beberapa di antaranya adalah :

1. Teh Darjeelings
Teh yang berasal dari daerah Darjeelings, India ini juga banyak disukai orang selain jenis earl grey. Teh ini memiliki dua jenis rasa yaitu original dengan rasa sepat menyegarkan dan rasa buah yang agak asam.

2. Earl Grey
Jenis teh ini paling populer. Terdiri dari campuran daun teh hitam dan minyak bergamot, yaitu sejenis jeruk yang banyak tumbuh di wilayah Italia dan Prancis. Earl grey memiliki rasa sepat dan asam yang khas. Untuk dapat mencicipi nikmatnya earl grey, disarankan disajikan dengan cara diseduh air panas tanpa tanpa diberi gula atau susu.

3. Teh Chamomile
Teh ini berasal dari bunga chamomile yang dikeringkan. Seduhan teh chamomile memiliki tampilan coklat bening dengan rasa seperti buah apel. Umumnya disajikan panas tanpa diberi campuran apa pun.

4. Teh Hitam Assam
Sesuai namanya, teh ini berasal dari daun teh yang dipetik di wilayah Assam, India. Warnanya coklat gelap dan memiliki rasa yang kuat. Oleh sebab itu, agar rasanya lebih seimbang kadang diberi tambahan sedikit gula dan susu.

5. Teh Lavender Herbal
Dibuat dari kelopak bunga lavender yang dikeringkan dan dicampur dengan bahan lain seperti chamomile, mint, dan jenis rempah lain. Kombinasi ini menghasilkan rasa manis alami disertai wangi yang harum menyegarkan.

6. Teh Rose Congou
Teh hitam jenis ini berasal dari Cina yang dicampur dengan kelopak bunga mawar kering. Kombinasi ini menghasilkan rasa asam yang kuat. (555)

BERITA TERKAIT

Komunitas