Irigasi Pintar di Padang Pasir

Minggu, 02 September 2018, 23:11 WIB

Instalasi pipa air pada sistem irigasi di Israel. | Sumber Foto:Wikimedia

AGRONET – Kehadiran musim kemarau setiap tahunnya, selalu memunculkan masalah bagi para petani di sawah dan perkebunan. Salah satunya adalah persoalan irigasi yang selalu menjadi masalah utama. Masalah ini semakin bertambah rumit karena suhu bumi telah bertambah panas, naik sekitar 1 derajat dibandingkan seratus tahun yang lalu.

Sebenarnya persoalan pertanian di negara Timur Tengah lebih rumit. Hampir sebagian besar wilayah negara-negara Timur Tengah adalah gurun pasir. Suhu di negara Timur Tengah pada siang hari kadang-kadang di atas 50 derajat Celcius dan di malam hari dapat turun hingga di bawah 30 derajat. Persoalan lain, sumber air tawar sangat terbatas.

Berbagai macam teknologi telah digunakan untuk mengatasi masalah kekeringan ini, di antaranya Sahara Forest Project yang menggunakan rumah kaca dan padi yang toleran terhadap garam. Setiap teknologi pasti memiliki kelebihan dan sekaligus kekurangan. Biaya operasional Sahara Forest Project dinilai terlalu mahal. Sedangkan padi yang toleran terhadap garam, sampai saat ini masih dalam taraf pengembangan. Belum ditanam secara luas.

Di Indonesia, beberapa cara juga telah diterapkan untuk mengatasi kekeringan di musim kemarau. Pembangunan waduk dan embung, perbaikan sistem irigasi, dan pengembangan jenis padi di lahan kering, adalah beberapa usaha yang telah dilakukan di Indonesia.

Beberapa macam cara irigasi untuk menghemat air juga telah dipraktekkan, seperti irigasi lodong, irigasi gondok, irigasi botol plastik, irigasi botol infus, irigasi kendi, dan irigasi tisu. Namun, cara irigasi seperti ini penerapannya masih sangat terbatas. Masih sebatas di perumahan dan di perkebunan dengan skala kecil.

Mungkin tidak ada salahnya jika kita menengok keberhasilan Israel mengatasi masalah irigasi di negaranya. Negara dengan luas sekitar 4 kali luas pulau Bali ini telah mengembangkan sistem irigasi untuk pertanian di negaranya dengan menggunakan teknologi terkini.

Banyak negara terutama di Afrika yang memang kesulitan dengan sumber daya air, belajar pada Israel. Bahkan Cina, negara dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang paling mengagumkan saat ini, juga belajar pada Israel untuk soal irigasi.

Israel dengan teknologi irigasi pintarnya, telah berhasil mengubah padang pasir menjadi lahan pertanian yang produktif. Buah dan sayuran tumbuh subur di padang pasir. Pertanian negara ini menghasilkan banyak jenis buah-buahan seperti jeruk, alpukat, anggur, plum, cherry, lemon, dan apel, dengan kualitas jempolan.

Berkat kemajuan teknologi pertanian mereka, Israel berhasil memperluas lahan perkebunannya dari sekitar 1.650 km2 di tahun 1948 menjadi sekitar 4.300 km2. Produksi pertaniannya meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan laju pertumbuhan penduduknya. Sehingga saat ini negara ini menjadi penghasil sayuran terbesar nomor empat di dunia. Padahal, 85?ri tanah di negara ini adalah padang pasir. Hanya 15% tanah yang subur.

Keberhasilan Israel mengembangkan produksi pertaniannya berawal dari pengamatan Simcha Blass, seorang ahli pengairan Israel pada tahun 1930-an. Ia mendapati ada satu tanaman yang tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan tanaman lain di pekarangannya. Ternyata ada tetesan air yang keluar dari pipa air yang bocor yang membasahi tanah di sekitar tanaman itu.

Dari penemuan inilah kemudian Blass mulai mengembangkan sistem irigasi tetes. Gagasan utama irigasi tetes menurut Blass adalah air hanya menetes di tempat yang tepat, yaitu akar tumbuhan dengan jumlah yang tepat.

Blass meyakini kalau sistem irigasi tetes dapat meningkatkan hasil pertanian sekaligus menghemat air. Pada tahun 1959, Blass meluncurkan model pertama sistem irigasi ini, yaitu selang plastik yang diberi lubang-lubang kecil. Cara ini dapat menghemat air hingga separuh dari pemakaian sebelumnya.

Pada tahun 1990 hingga 1991, Israel menghadapi masalah kekeringan. Pasokan air untuk petani dikurangi hingga 50%, karena air harus dihemat. Tapi, berkat irigasi tetes yang terkomputerisasi, masalah ini dapat diatasi.

Begitu pula antara tahun 2000 hingga 2005. Walaupun pasokan air untuk irigasi berkurang rata-rata sebesar 35%, namun jumlah produksi pertanian dapat meningkat sampai 42%. Semua ini dapat terwujud karena Israel berhasil mengembangkan sistem irigasi tetes menjadi lebih efisien dan efektif dengan memanfaatkan teknologi komputer.

Air yang menetesi akar tanaman, jumlahnya tidak sama untuk semua tanaman. Jumlah tetesan air sangat bergantung pada jenis tanaman, usia tanaman, dan juga kondisi cuaca. Bersama dengan air, juga dialirkan pupuk cair yang jumlah takarannya dikontrol oleh komputer.

Sistem irigasi ini juga dilengkapi dengan sistem irigasi semprotan air. Jenis semprotannya pun bermacam-macam. Ada yang lurus, menyebar, dan menyebar berputar. Bergantung pada jenis tanaman.

Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah cara Israel berhasil mendapatkan air untuk keperluan irigasi. Mengandalkan air hujan jelas tidak mungkin, Curah hujan di negara ini sangat sedikit. Air dari sumber mata air juga terlalu mewah jika hanya dipakai untuk mengairi lahan pertanian. Seperti diketahui air tawar sangat berharga bagi negara yang ada di daerah Timur Tengah.

Jalan keluarnya adalah dengan memanfaatkan air limbah rumah tangga. Saat ini 75?ri air limbah berhasil dimanfaatkan untuk irigasi. Israel berusaha meningkatkannya hingga 90%. Sedangkan untuk keperluan air minum, Israel membangun 39 pabrik pengubah air asin menjadi air tawar (desalination plant) di sepanjang garis pantainya dan membangun danau-danau buatan di padang pasir untuk menampung air hujan. (555)

 

BERITA TERKAIT

Komunitas