Lebih Hemat Air dengan Irigasi Linier dan Berputar

Senin, 01 Oktober 2018, 20:24 WIB

Sistem irigasi linier dan irigasi berputar telah banyak dipakai di negara maju untuk menggantikan sistem irigasi banjir berbasis gravitasi | Sumber Foto:valleyirrigation.com

AGRONET – Musim kemarau mulai menampakkan pengaruhnya. Beberapa waktu yang lalu diberitakan kalau sejumlah waduk di Indonesia airnya mulai menyusut. Di Jawa Tengah, empat waduk dengan kapasitas 6 juta – 10 juta meter kubik mulai mengering. Kondisi ini membuat sekitar 5.000 hektar lahan pertanian terancam tidak mendapat pasokan air irigasi.

Beberapa waduk di daerah lain juga mengalami hal yang sama. Pemakaian air di beberapa waduk selain untuk keperluan cadangan irigasi juga untuk air minum. Ada juga yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, seperti waduk Cirata.

Dalam kondisi semacam itu, pengaturan pemakaian air harus dilakukan dengan sangat cermat. Lahan pertanian tetap harus mendapat pasokan air untuk irigasi, namun kebutuhan lain seperti pembangkit listrik atau air minum juga tidak dapat diabaikan. Pembuatan sumur bor dapat menjadi alternatif, namun biaya dan kondisi tanah harus diperhatikan.

Bulan lalu AGRONET mendapat kesempatan mengunjungi Selandia Baru. Negara yang terkenal dengan burung kiwinya, memiliki beberapa produk ekspor unggulan dari hasil pertanian dan peternakannya, seperti susu, wol, daging, buah, sayur, dan ikan.

Hasil peternakan Selandia Baru, terutama susu meningkat tajam antara tahun 1990 sampai 2007. Ini disebabkan karena jumlah sapi perah bertambah dua kali lipat. Saat itu, susu menjadi penyumbang ekspor terbesar. Pada kurun waktu itu, jumlah perkebunan anggur juga bertambah dua kali lipat. Ini membuat ekspor anggur melampaui wol pada 2007.

Walaupun ekspor wol bukan lagi unggulan Selandia Baru, namun jumlah domba di negara ini masih terbilang fantastis, sekitar 48 juta ekor. Sepuluh kali lipat jumlah penduduknya.

Sepanjang perjalanan dari kota Queenstown ke Mt Cook National Park sejauh 260 km, AGRONET melihat banyak hamparan ladang pertanian yang luas. Kadang-kadang terlihat ratusan domba dan sapi yang sedang merumput. Ada yang menarik perhatian karena berbeda dengan lahan pertanian di Indonesia. Hampir di setiap ladang pertanian terdapat perangkat irigasi berputar (pivot irrigation) dan irigasi linier (linear irrigation).

Perangkat irigasi ini sepintas terlihat sangat sederhana. Ada sebatang pipa panjang yang dilengkapi dengan nosel untuk menyemprotkan air menyebar ke arah bawah. Di bagian bawah pipa terdapat penopang yang dilengkapi dengan roda. Roda ini berfungsi untuk menggerakkan pipa irigasi, berputar atau bergerak lurus.

Sebagai negara yang telah maju mengelola pertanian dan peternakan, Selandia Baru sadar betul perlunya mengelola air dengan sangat efisien. Apalagi seiring dengan permintaan pangan global yang terus meningkat akibat pertumbuhan penduduk, dapat dipastikan penggunaan air untuk sektor pertanian juga akan meningkat.

Hingga saat ini, pemakaian air dunia paling banyak digunakan untuk sektor pertanian. Diperkirakan sektor pertanian memakai sekitar 70%. Jumlah ini akan terus meningkat hingga 55% pada tahun 2050.

Untuk mengantisipasi hal itu dan sekaligus menjaga sumber air tawar yang semakin sedikit jumlahnya, perlu dilakukan inovasi di sektor irigasi. Salah satunya adalah yang dikerjakan oleh WaterForce -sebuah perusahaan penyedia solusi pengelolaan air dan irigasi asal Selandia Baru- dan Schneider Electric –perusahaan global di bidang manajemen energi dan automasi.

Kedua perusahaan ini mengembangkan solusi Internet of Things (IoT) yang dikendalikan secara mobile dan berbasis cloud.  Solusi ini menggunakan teknologi Microsoft Azure dan Azure IoT. Dengan solusi baru ini, petani di Selandia Baru dapat mengoperasikan sistem irigasi berputar dan linier dengan lebih mudah dan efisien.

IoT dapat membantu petani untuk melakukan efisiensi pemakaian air hingga 30%. Pompa dan sistem irigasi –baik berputar atau linier- dapat dipantau dan dikendalikan dari jauh (remote). Teknologi ini membuat petani dapat memantau dan mengendalikan pompa dan sistem irigasi berputar (atau linier) mereka dari komputer, tablet, atau smartphone.

Sistem irigasi semacam ini terus berkembang dan telah menjadi kebutuhan dunia pertanian. Irigasi banjir berbasis gravitasi yang boros air akan bertransformasi menjadi sistem irigasi berputar atau linier.

Sistem irigasi berputar atau linier tidak hanya berfungsi menyiram tanaman. Namun dapat juga dipakai bersamaan untuk menyemprot pupuk cair. Sifat penyiraman airnyapun mirip dengan curah air hujan. Tidak hanya tanah, daun pun juga ikut menjadi basah. Telah terbukti dari pemakaian di lahan pertanian, irigasi berputar dan linier dapat meningkatkan produksi pertanian.

Kelebihan dari sistem irigasi ini antara lain, dapat mengairi lahan pertanian yang luas, hemat pemakaian air, dan irit jumlah tenaga kerja. Selain itu, dengan irigasi berputar  dimungkinkan menanam padi di lahan pasir yang tidak mungkin menggunakan irigasi banjir berbasis gravitasi.

Blackhills Farm yang berlokasi di Canterbury Lains, Selandia Baru, adalah salah satu usaha pertanian dan peternakan yang memanfaatkan teknologi IoT untuk sistem irigasi berputar yang dimilikinya. Di atas lahan seluas 400 hektar ini, terdapat ratusan domba dan sapi. Agar dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak, Blackhills Farm juga mengelola pertanian. Dengan memanfaatkan IoT, Blackhills Farm dapat memantau dan mengatur pemakaian air dengan lebih mudah.

Menurut Craig Blackburn, pemilik Blackhills Farm, sebelum menggunakan IoT dia harus menyesuaikan pompa dan kecepatan putar sistem irigasi secara manual setiap harinya. Pekerjaan ini cukup rumit karena harus disesuaikan dengan curah hujan dan kondisi angin. Namun sekarang semua menjadi lebih mudah. Waktu dapat dihemat karena Craig tidak perlu lagi berkeliling peternakan. Semua dapat dipantau dan diatur lewat tablet. ”Peternakan saya kini lebih produktif, biaya air dan energi lebih rendah, dan hasil panen juga lebih tinggi,” ujar Craig.

IoT juga membuat Craig dapat mengontrol persediaan air dan mengatur nosel untuk penyemprot air untuk disesuaikan dengan data real time dari stasiun pengamat cuaca. Semua ini membuat Craig dapat dengan tepat merencanakan penyiraman tanaman agar lebih efisien. Penyiraman dilakukan dengan jumlah air yang pas dan pada waktu yang tepat.

Petani di Australia, Brasil, dan Amerika juga telah melakukan hal serupa. Hasilnya, air dapat dihemat 30% hingga 50?n pemakaian energi juga lebih hemat 50% dibandingkan sebelum menggunakan IoT. (555)

BERITA TERKAIT

Komunitas