Bagaimana Membuat Buah Lebih Tahan Lama?

Senin, 22 Oktober 2018, 21:56 WIB

Rekayasa genetika membuat buah menjadi lebih tahan lama | Sumber Foto:wikipedia

AGRONET – Pisang. Buah ini bisa jadi yang paling digemari di antara jenis buah lain. Ke mana pun kita pergi -bahkan ke luar negeri sekalipun- pisang mudah diperoleh. Harganya  relatif murah.

Tanaman buah ini yang banyak tumbuh di daerah beriklim tropis panas dan lembab. Khususnya di dataran rendah. Di daerah dengan hujan turun sepanjang tahun, tanaman pisang dapat berbuah tanpa mengenal musim.

Di Indonesia, pisang menjadi salah satu buah yang paling banyak dikonsumsi. Setiap tahunnya, paling tidak sebanyak 6,2 juta ton pisang dipanen dari tanah Indonesia. Hasil ini membuat Indonesia menjadi negara penghasil pisang terbanyak ke tujuh di dunia setelah India, Tiongkok, Uganda, Filipina, Brasil, dan Ekuador.

Pisang banyak dipilih orang selain karena rasanya enak juga memberi banyak manfaat. Setiap 100 gram pisang, kita akan mendapat asupan energi sebesar 136 kalori. Besar energi ini dua kali lebih besar dari yang diberikan oleh apel untuk berat yang sama.

Selain itu energi pisang adalah energi instan yang berguna untuk memenuhi kebutuhan energi sesaat.  Tidak heran jika banyak atlet –khususnya atlet tenis- yang berbekal pisang ke lapangan untuk dikonsumsi pada saat dibutuhkan tambahan asupan energi.

Dibandingkan buah lain, pisang mengandung mineral dan vitamin –khususnya vitamin A dan B6- yang cukup tinggi. Namun, sayangnya pisang akan menjadi cepat matang jika tidak disimpan dengan cara yang benar. Pisang yang yang sudah terlalu matang daging buahnya akan berubah kecoklatan dan menjadi lembek. Biasanya, pisang akan dibuang karena sudah tidak enak dimakan.

Beberapa tips cara menyimpan pisang agar tidak lekas matang dan busuk dapat diterapkan, antara lain; jangan menyimpan di dalam lemari es, gantung ditempat yang sejuk dan hindari terkena matahari langsung, jangan menyimpan di dalam plastik, bungkus ujung tangkai dengan plastik atau aluminium foil, jangan disimpan bercampur dengan buah lain (mangga, jeruk, apel, semangka, dan nanas). Tujuan dari tips di atas adalah untuk menghindari produksi gas etilen berlebih, agar laju pematangan buah pisang tidak terlalu cepat.

Penyimpanan pisang yang baik tidak akan menjadi masalah jika hanya diterapkan pada pisang yang dikonsumsi di rumah tangga. Jumlahnya tidak akan banyak. Umumnya paling banyak hanya satu sisir. Hal ini baru akan menjadi masalah jika menyangkut hasil panen dalam jumlah besar. Sangat perlu diperhatikan perlakuan paska produksi, penyimpanan dan distribusi pisang.

Umumnya petani pisang di Indonesia menyimpan hasil panen pisang hanya di ruang terbuka. Tidak metode khusus sehingga pisang menjadi terlalu cepat matang dan akhirnya menjadi busuk. Akibatnya, pisang tidak dapat bertahan lama di pasar dan terjadi kerugian.

Masalah inilah yang kemudian membuat Dr. Fenny Martha Dwivany dari Program Studi Institut Teknologi Bandung bersama tim (The Banana Group) melakukan penelitian untuk meningkatkan ketahanan buah-buahan di Indonesia. Dari hasil penelitian diketahui beberapa faktor yang dapat mempercepat proses pematangan buah, yaitu suhu, tekanan, cacat fisik, serta komposisi udara di sekitar buah. Semua faktor ini dapat menginduksi gen penghasil etilen sehingga dapat meningkatkan laju pematangan buah.

Langkah awal yang dikerjakan Fenny dan tim adalah menggandeng Program Studi Teknik Fisika serta Desain Produk untuk merancang ruang penyimpanan dan kemasan yang tepat. Ruang penyimpan dirancang dengan suhu, tekanan, dan komposisi udara yang dapat diatur. Dengan cara ini induksi gen penghasil etilen dapat dikurangi. Diharapkan buah dalam keadaan mulus dan matang hijau dapat dipertahankan kondisi fisik, kadar air, dan rasanya hingga sampai ke pasar.

Untuk kemasan, dirancang agar dapat menyimpan pisang lebih tahan lama. Kemasan ini dibuat dengan menggunakan bambu. Mudah dibawa dan disimpan, serta harganya murah. Ukuran kemasan juga dibuat beragam. Mulai dari ukuran untuk 1 sisir, 5 kilo, 20 kilo, dan seterusnya. Sehingga dapat digunakan mulai dari skala rumah tangga, warung, penjual pisang keliling, petani pisang, toko buah, hingga industri.

Penelitian soal pisang ini sudah dilakukan The Banana Group sejak 2004. Mereka bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Indonesia (LAPAN) untuk meneliti pengaruh gravitasi terhadap kematangan buah.

The Banana Group juga bekerjasama dengan Balai Besar Bioteknologi dan Genetika Tanaman (BIOGEN), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Queensland University of Technology (QLD), Australia. Selain itu, untuk menguji hasil penelitian yang sudah dilaksanakan, The Banana Group bekerjasama dengan pemerintah dan bidang industri menengah. "Dari awal, kami fokus mempelajari proses pematangan buah dan penghambatan proses tersebut, baik pra maupun paska penanaman. Penelitian ini tidak hanya dapat diaplikasikan pada pisang saja melainkan semua jenis buah-buahan. Ada banyak aspek yang sudah kami teliti seperti rekayasa genetik, rekayasa kondisi atmosferik, serta gravitasi," kata Fenny.

Penelitian untuk memperpanjang usia buah juga dilakukan di Universitas Nottingham, Inggris. Bedanya dengan yang dilakukan Fenny adalah para peneliti dari Universitas Nottingham meneliti tomat, buah yang tidak tahan lama. Dengan mengatur gen yang bertanggung jawab memperlambat proses pematangan, diperoleh hasil tomat tidak menjadi cepat matang dan lembek tanpa mengubah ukuran dan rasa. Caranya dengan memotong dan mengganti gen yang tidak diinginkan.

Pada jurnal Nature Biotechnology peneliti melaporkan bahwa dengan rekayasa genetika, tomat masih memiliki kulit yang kencang walaupun disimpan hingga 14 hari. Tomat biasa tanpa rekayasa genetika, kulitnya telah keriput untuk usia simpan yang sama.

Meski begitu, masih ada masalah. Pemerintah Inggris melarang mengonsumsi makanan yang dimodifikasi secara genetis. Walaupun demikian tidak dapat dipungkiri penelitian ini sangat diperlukan untuk memperlambat pematangan tomat. Hal ini sangat dibutuhkan untuk proses pengiriman dan penyimpanan tomat. Seperti diketahui jika tomat telah matang dan lembek, akan mudah hancur. Ini akan mengurangi harga jual. Di Amerika Serikat, pasar tomat segar dan olahannya dapat mencapai 2 milyar dolar.

Hingga hari ini penelitian dengan rekayasa genetika belum memberikan hasil yang optimal. Sebagian besar mampu memperlambat proses pematangan tetapi kualitas rasa tomat menurun. Akademisi dan petani industri pun masih terus mencari gen yang dapat membuat tomat tetap segar tanpa harus mengurangi kualitas rasa.

Ada penelitian lain yang memberikan hasil menggembirakan yaitu pemanfaatan gen untuk pektat lyase, sebuah enzim yang ’mengunyah' dinding sel. Cara ini diyakini dapat meningkatkan kesegaran tomat tanpa mempengaruhi kualitas rasa. Namun masih ada kendala. Jika diterapkan pada skala industri, biayanya terlalu mahal.

Penelitian lain dengan rekayasa genetika seperti dimuat pada jurnal Current Biology, dikabarkan telah berhasil membuat tomat berumur lebih panjang dari 21 hari menjadi 48 hari. Namun warnanya berubah menjadi ungu dengan rasa yang lebih enak dan kandungan nutrisi lebih banyak. Tomat ungu ini kabarnya juga lebih tahan terhadap salah satu penyakit pasca panen.

Penelitian untuk membuat pisang dan tomat agar lebih tahan lama belum juga memberikan hasil yang memuaskan. Hingga kini para peneliti masih berkutat mengutak-atik gen sambil mencoba cara lain yang mungkin dapat dilakukan. Bukan tidak mungkin suatu saat jika penelitian telah memberikan hasil yang dapat memuaskan semua pihak, para petani buah, pedagang dan konsumen akan lebih mudah menyimpan buah. (555)

BERITA TERKAIT