Pintar Memilih Buah

Minggu, 11 November 2018, 22:06 WIB

Untuk kesehatan kita pilihlah selalu buah yang ditanam secara organik dan bukan hasil rekayasa genetika | Sumber Foto:Flickr

AGRONET – Kita semua tahu jika buah baik untuk kesehatan kita. Bahkan kita dianjurkan setiap hari untuk mengonsumsi buah. Tapi apakah kita tahu buah yang kita beli di pasar atau toko buah ditanam dengan cara konvensional, organik atau telah mengalami rekayasa genetika ?

Di negara maju, jenis perlakuan terhadap buah ditandai pada PLU (Price Look Up). PLU yang digunakan sejak tahun 1990 di supermarket salah satunya berfungsi untuk memudahkan mengontrol persediaan. Fungsi lainnya untuk membedakan jenis barang yang dijual.

Di Amerika Serikat, buah umumnya diberi kode PLU dengan 4 angka, yang diawali dengan angka 3 atau 4. Angka 3 dan 4 ini berarti buah ditanam dengan cara konvensional. Sebagai contoh, kode PLU 4129 berarti apel Fuji yang ditanam dengan cara konvensional. Jika kode PLU 4033 berarti jeruk lemon kecil. Sedangkan untuk jeruk lemon besar yang ditanam dengan cara konvensional memiliki kode PLU 4053. Hal yang sama berlaku untuk sayuran.

Namun, jika 4 angka ini dibubuhi satu angka lagi di muka, angka 9 atau 8, maka maknanya berbeda. Angka 9 melambangkan organik dan angka 8 berarti buah telah mendapat perlakukan rekayasa genetika. Jadi, kode PLU 94129 berarti apel Fuji yang ditanam dengan cara organik. Sedangkan kode PLU 83111 untuk pepaya hasil rekayasa genetika.

BERITA TERKAIT

Seperti apakah buah buah hibrida? Apakah sama dengan buah hasil rekayasa genetika ? Menurut Leith Gardner dari Zaiger’s Inc Genetics, buah hibrida dihasilkan dari perkawinan silang tanaman buah dan umumnya tidak menggunakan teknologi rekayasa genetika. ”Hibrida pada tanaman buah menggunakan penyerbukan tradisional yang biasa dan dapat terjadi di alam," jelas Leith Gardner. Perkawinan silang ini terjadi antara dua spesies tanaman buah (atau sayuran) dalam genus yang sama.

Buah hibrida secara fisik tidak mengalami perubahan pada materi genetika. Buah hibrida hampir tidak membawa risiko. Namun tanaman hibrida memiliki kelemahan. Benih generasi berikutnya tidak akan mempertahankan karakteristik yang sama seperti induknya. Jadi petani harus tetap membeli bibit baru untuk menanam tanaman buah hibrida yang sama.

Beberapa contoh buah hibrida seperti Pluot (persilangan genetika buah plum dan aprikot), Tangelo (persilangan genetika buah jeruk keprok dan pomelo), Tayberry (persilangkan genetika blackberry dan raspberry), Limequat (persilangan genetika antara jeruk nipis dan kumquat),  Pineberry (persilangan genetika pineapple (nanas) dan berry), dan Lemato (persilangan genetika lemon dan tomat).

Buah hasil rekayasa genetika sama sekali berbeda dengan buah hibrida. Rekayasa genetika akan menghasilkan spesies buah baru dengan cara mengubah DNA atau materi genetik tanaman. Pada intinya rekayasa genetika adalah melakukan perubahan pada DNA tanaman dengan menyusupkan hormon atau gen lain pada tanaman target dan lazim disebut dengan transgenik. Sedangkan hibridisasi (persilangan dua spesies tanaman) tidak mengubah DNA tanaman.

Rekayasa genetika dilakukan pada tanaman buah dengan berbagai alasan. Di antaranya adalah untuk meningkatkan kandungan nutrisi atau untuk membuat tanaman lebih tahan terhadap penyakit. Namun, mengubah genetik suatu organisme ditengarai dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan dan lingkungan yang tak tidak dapat diduga sebelumnya.

Biasanya buah-buahan hasil rekayasa genetika dapat dikenali dari fisiknya. Terlihat lebih menariik. Buah hasil rekayasa genetika cenderung memiliki ukuran seragam.Berbeda dengan buah yang tumbuh secara alami. Buah tumbuh tidak seragam. Bentuk dan ukurannya berbeda satu sama lain.

Buah hasil rekayasa genetika umumnya adalah buah impor. Amerika Serikat, India, Tiongkok, Brazil, dan Argentina adalah negara penghasil buah dengan rekayasa genetika. Di Indonesia, hampir tidak ditemukan buah lokal hasil rekayasa genetika, karena biaya pengerjaannya sangat mahal.

Contoh buah yang mendapat perlakuan rekayasa adalah tomat. Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Nottingham, Inggris mencoba untuk membuat tomat lebih tahan lama. Caranya, dengan mengatur gen yang bertanggung jawab memperlambat proses pematangan, tanpa mengubah ukuran dan rasa.

Pada sebuah laporan jurnal Nature Biotechnology peneliti melaporkan bahwa tomat hasil rekayasa genetika masih memiliki kulit yang kencang walaupun disimpan hingga 14 hari. Tomat biasa kulitnya telah keriput untuk usia simpan yang sama. Namun pemerintah Inggris melarang mengonsumsi makanan yang dimodifikasi secara genetis. Jika penelitian ini berhasil membuat tomat tahan lama, memiliki rasa yang neak, dan aman dikonsumsi, maka proses pengiriman dan penyimpanan tomat akan lebih mudah diatur.

Penelitian lain dengan rekayasa genetika seperti dimuat pada jurnal Current Biology, dikabarkan telah berhasil membuat tomat berumur lebih panjang dari 21 hari menjadi 48 hari. Namun warnanya berubah menjadi ungu dengan rasa yang lebih enak dan kandungan nutrisi lebih banyak. Tomat ungu ini kabarnya juga lebih tahan terhadap salah satu penyakit pasca panen.

Beberapa buah jenis lain juga telah menjadi percobaan rekayasa genetika, antara lain; nanas pink, apel pink, anggur, apel, cucamelon (semangka, ketimun dan jeruk nipis), grapple (anggur dan apel), pluots (plum dan apricot), peacotum (peach, apricot, dan plum), lematos (lemon dan tomat)

Para peneliti hingga kini masih memiliki kekhawatiran terhadap buah hasil rekayasa karena memiliki pengaruh negatif terhadap tubuh. Perubahan gen dikhawatirkan dapat meningkatkan racun yang dikandung dalam buah, mendegradasi kandungan nutrisi alami buah, dan membuat manusia yang mengonsumsinya imun terhadap antibiotik.

Jika demikian keadaannya, kita harus lebih hati-hati memilih buah. Lebih baik pilihlah buah yang ditanam dengan cara konvensional dan menggunakan pupuk organik. Pilihlah buah lokal dari bumi Indonesia. Lebih sehat dan murah. (555)

BERITA TERKAIT