Cara Cerdas Memanen Air

Minggu, 11 Pebruari 2018, 16:20 WIB

Jaring penangkap kabut di Peru | Sumber Foto:Wikimedia

AGRONET – Teknologi tepat guna tidak selalu lahir dari hitungan matematika yang rumit. Juga tidak harus berbiaya mahal. Selain itu teknologi juga tak pernah usang. Ia hanya berubah menjadi lebih efektif dan efisien.

Hal ini dibuktikan oleh penduduk Villa Lourdes, sebuah kota kecil di Peru. Tiadanya akses mendapatkan air bersih membuat kegiatan pertanian menjadi sulit. Setelah melewati beberapa musim tanam yang gersang, penduduk desa Villa Lourdes menemukan cara cerdas mendapatkan air. Sebuah cara alami, memanen air dengan cara ”menangkap kabut”.

Untuk dapat ”menangkap kabut”, para petani membangun 30 panel jaring nilon besar yang disebut Atrapanieblas di lereng bukit. Jaring nilon ini berguna untuk menangkap butiran air akibat kondensasi (pengembunan) dari kabut. Butiran air yang terperangkap pada jaring nilon akan menetes dan mengalir sampai ke tempat penampungan yang diletakkan di bawah jaring.

Dari setiap panel jaring nilon dapat diperoleh sekitar 200 sampai 300 liter air per hari. Air hasil kondensasi ini disimpan di tanki dan digunakan untuk mengairi tanaman serta keperluan lain.

Kebutuhan air di Villa Lourdes tidak melulu untuk pertanian. Tapi digunakan pula untuk minum. Di musim dingin, penduduk Villa Lourdes mengandalkan kiriman air lewat truk dari kota Lima, ibu kota Peru yang hanya datang tiga kali seminggu.

Atrapanieblas hingga kini terus dirawat oleh penduduk Villa Lourdes. Paling tidak, ditengok tiga kali seminggu untuk perawatan. Atrapanieblas adalah wujud kecerdikan teknologi rendah.

Di daerah Cerro Nueva Esperanza, masih di Peru, penduduk desa membangun 20 panel jaring ”penangkap kabut” dengan ukuran enam kali empat meter. Setiap harinya dapat dipanen 90 liter air dari setiap panel jaring. Jika cuaca sedang bersahabat, dari 20 panel jaring dapat dipanen 3.000 liter air. Cara ini benar-benar hemat biaya dan hemat energi. ”Menangkap kabut” juga berguna diterapkan di daerah pesisir yang memiliki air tanah terlalu asin jika digunakan tanpa melalui proses desalinasi.

Sebelumnya tidak seorangpun berpikir bahwa cara ini akan efektif mendatangkan air. Padahal cara ”menangkap kabut” ini sebenarnya telah dikenal sejak 4.000 tahun yang lalu di Amerika Selatan. Hanya saja karena perkembangan teknologi dan perubahan zaman, cara ini terlupakan.

Teknik ”menangkap kabut” lahir kembali setelah pesatnya pertumbuhan penduduk dan komersialisasi pasokan air yang membuat masyarakat sulit mendapatkan air. Kabarnya, teknik ”menangkap kabut” dipergunakan lagi untuk pertama kali sekitar tahun 1950-an oleh sebuah kelompok tani kecil di Pena Blanca, 300 km sebelah utara Santiago, Cili.

Mereka membentang jaring dengan lubang-lubang kecil seluas 140 meter persegi. Hasilnya, air sebanyak 840 liter dapat dipanen per hari. Air ini dibagi rata untuk 85 petani dan digunakan untuk menyiram tanaman serta minum hewan ternak.

Teknologi modern tidak luput dipakai untuk mengembangkan jaring penangkap kabut. Para peneliti dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) Amerika Serikat dan Universitas Kepausan Cili di Santiago, telah mengembangkan pembuatan jaring. Inspirasinya didapat dari daun yang sempit. Mereka melihat ternyata daun yang sempit lebih efisien menangkap tetesan air hasil pengembunan.

Ukuran jaring dan bahan permukaan kemudian diubah. Hasilnya, air yang dipanen meningkat lima kali lebih banyak. Jaring dengan teknologi semacam ini telah digunakan di gurun Atacama, Cili, salah satu tempat terkering di dunia. Bahkan beberapa daerah gurun ini tidak memiliki curah hujan sama sekali. Namun, daerah tersebut mendapat banyak kabut pantai.

Pada awan kabut di pesisir Cili diperkirakan ada sekitar 10 milyar meter kubik air yang tersedia setiap tahunnya. Jika hanya 4?ri jumlah ini dipanen, maka akan memberi cukup air minum untuk penduduk lokal. Memanen kabut sebagai sumber air tawar merupakan pilihan yang lebih baik daripada desalinasi air laut. Ini adalah pilihan teknologi rendah dan jauh lebih murah daripada metode desalinasi.

Di Maroko, pemakaian jaring ”penangkap kabut” juga telah dikembangkan dengan menggunakan jaring yang lebih efisien. Hasil air yang diperoleh dua kali lebih banyak. Jaring dibentang seluas 600 meter persegi diketinggian 1.225 m di lereng gunung Boutmezguida. Ini adalah proyek ”penangkap kabut” terbesar di dunia. Sebanyak 6.300 liter air dapat dipanen dari pemakaian jaring ini setiap harinya. Setelah disaring, air kemudian didistribusikan lewat pipa sepanjang 8 km kepada 400 orang di 5 desa.

Bagaimana di Indonesia ? Hal serupa pernah dilakukan di Dusun Ngoho, Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Daerah ini terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Seperti halnya Villa Lourdes di Peru, penduduk Desa Kemitir juga menghadapi masalah kekeringan di musim kemarau.

Mengingat potensi kabut di daerah ini sangat tinggi, maka digunakan jala plastik (paranet) untuk ”menangkap kabut” agar selanjutnya dapat dipanen air. Dengan dibantu oleh Tim Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil dipanen sejumlah air.

Namun masih ada masalah. Jumlah air yang dipanen masih jauh dari yang dibutuhkan. Oleh sebab itu paranet ”penangkap kabut” harus diperbesar ukurannya agar jumlah air yang dipanen lebih banyak. Ini pun belum menyelesaikan masalah. Paranet ”penangkap kabut” harus dikombinasikan dengan alat fertigasi tetes agar pemakaian air efisien.

Seperti diketahui, dengan fertigasi tetes, pemupukan dan irigasi dilakukan bersamaan dengan menggunakan alat infus. Cara ini telah terbukti sangat efisien, murah dan mudah dikerjakan oleh petani di desa Kemitir yang berjumlah sekitar 400 orang. Mereka yang umumnya menanam padi dan sayuran tentunya berharap masalah air yang selama ini menjadi masalah besar di musim kemarau dapat teratasi.

Apa yang telah dilakukan oleh Tim Mahasiswa UGM ini memang harus terus dikembangkan, khususnya oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Selanjutnya, teknik ”memanen air” ini harus diterapkan di daerah lain yang mempunyai masalah yang sama. (555)

Agronesia Utama
Komunitas