Pisang Mongee, Dapat Dimakan dengan Kulitnya

Minggu, 04 Maret 2018, 20:49 WIB

Pisang Mongee, dapat dimakan dengan kulitnya

Jika kumakan pisang,
tidak dengan kulitnya,
kulit kulempar keranjang,
keranjang apa namanya.

(Lagu : Keranjang Sampah, Ciptaan : Pak Kasur)

AGRONET – Pisang. Buah ini salah satu yang paling disukai dan mudah dijumpai di Indonesia. Di Jepang dan Amerika Serikat, pisang juga buah yang paling banyak dikonsumsi. Selain rasanya enak, pisang juga mudah dicerna dan dapat segera diubah menjadi energi oleh tubuh. Oleh sebab itu, sering kita lihat olahragawan –seperti atlet tenis misalnya- membawa pisang ke lapangan saat bertanding.

Jepang, negara yang tidak pernah lelah melakukan inovasi di bidang pertanian, telah berhasil membuat pisang yang kulitnya dapat dimakan. Pisang yang diberi nama Mongee (dibaca mon-gay) ditemukan oleh Setsuzo Tanaka, 68 tahun, seorang Manajer Pengembangan Teknis D&T Farm di Prefektur Okayama, Jepang Barat. Mongee adalah bahasa lokal Okayama yang berarti ”luar biasa”.

Dengan kehadiran Pisang Mongee, rasanya lirik lagu anak-anak berjudul “Keranjang Sampah” karangan Pak Kasur, harus diubah liriknya. Namun bagaimana caranya Setsuzo Tanaka dapat membuat pisang dapat dimakan bersama kulitnya ?

Setsuzo menggunakan teknik pembekuan yang inovatif. Pisang Mongee dibuat dengan menggunakan teknik kultivasi bebas pestisida yang disebut “freeze thaw awakening”. Ia mereplikasi sebuah proses yang terjadi pada Zaman Es dengan cara mendinginkan sel pertumbuhan pisang menjadi -60C dengan perlahan-lahan dan kemudian mencairkannya. Setelah itu baru ditanam.

Suhu sangat dingin ini diperkirakan memicu pertumbuhan buah dengan cepat. Periode kultivasi tanaman pisang selama dua tahun dapat dipersingkat menjadi hanya sekitar enam bulan. Hasil akhirnya adalah pisang yang tampak normal pada penampakan pertama namun lebih manis dari pisang yang tumbuh secara konvensional. Dari pengukuran yang dilakukan diketahui kandungan gula Pisang Mongee sebesar 25,8 gram per 100 gram.

Periode kultivasi yang singkat ini ternyata membuat kulit Pisang Mongee menjadi tipis. Hebatnya lagi, kulitnya 100 persen dapat dimakan. Kabarnya, kulit Pisang Mongee memiliki rasa seperti selada.

Pisang Mongee dikembangkan dari varietas pisang Gros Michel, varietas pisang yang beredar secara global sejak awal 1900-an sampai tahun 1950an. Jenis pisang ini kemungkinan yang biasa dikonsumsi mereka di tahun 1950-an dan sebelumnya. Varietas pisang Gros Michel sengaja dipilih karena memiliki kulit yang lebih tipis, dibandingkan dengan jenis pisang lain yang diimpor ke Jepang.

Setsuzo Tanaka melakukan penelitian ini dengan antusias hampir selama 40 tahun. Tujuannya menyempurnakan kultivasi Pisang Mongee. Ia melakukan peneliitian ini layaknya sebagai sebuah hobi. Setsuzo ingin sekali makan pisang yang lezat, aman, dan kulitnya dapat dimakan karena dibudidayakan secara organik tanpa bahan kimia.

Pisang Mongee saat ini hanya dapat dibeli di sebuah department store di Okayama, di sekitar Kyoto dan Hiroshima. Itu pun tidak mudah diperoleh karena Pisang Mongee ditanam dari biji dan hanya mampu menghasilkan sekitar 13,5 kg buah pisang setiap minggunya. Oleh sebab itu harga jual Pisang Mongee cukup mahal. Harganya 648 Yen (sekitar Rp 80.000) per buahnya.

Tahun ini D & T farm berencana memproduksi Pisang Mongee 10 kali lipat lebih banyak dengan melakukan perekrutan petani pisang. Namun, D & T Farm saat ini hanya akan menanam Pisang Mongee di Jepang saja dan tengah mempertimbangkan untuk dapat mengekspor ke luar negeri. ”Saya ingin menjual pisang tanpa bahan kimia di seluruh dunia,” ujar Setsuzo. (555)

 

BERITA TERKAIT