Robotik di Peternakan Sapi

Minggu, 25 Maret 2018, 19:48 WIB

Teknologi Robotik untuk memerah susu sapi

AGRONET – Tidak hanya di bidang pertanian, bidang peternakan pun juga menghadapi masalah yang sama. Kelangkaan tenaga kerja. Semakin sedikit orang yang tertarik bekerja di bidang pertanian dan peternakan. Sementara kebutuhan pangan semakin besar, karena jumlah penduduk dunia yang bertambah banyak.

Salah satu cara menyiasati kelangkaan tenaga kerja adalah dengan menggunakan teknologi robotik. Khususnya di negara maju, bidang pertanian telah sejak beberapa tahun yang lalu menggunakan teknologi robotik untuk mesin-mesin pertanian. Mesin untuk membajak tanah, memanen hasil pertanian, dan untuk menyemprot pestisida, semuanya telah menggunakan teknologi robotik.

Untuk memantau lahan pertanian yang luas, tidak lagi menggunakan satelit. Para petani lebih suka menggunakan drone yang dilengkapi dengan kamera infra merah. Selain biayanya lebih murah, ketelitiannya juga lebih baik.

Seiring dengan pemakaian teknologi robotik di bidang pertanian, bidang peternakan juga telah memanfaat teknologi robotik, di antaranya adalah peternakan sapi perah. Teknologi robotik dimanfaatkan untuk membersihkan kandang, memberi makanan, dan bahkan untuk memerah susu. Hampir tidak terlihat manusia yang berkeliaran di area peternakan.

Tapi, apakah sama sekali tidak ada keterlibatan manusia di peternakan sapi perah ? Peran manusia tetap diperlukan, namun mereka hanya bekerja dalam ruangan sambil memantau semua pekerjaan mesin berteknologi robotik yang sedang bekerja lewat layar monitor. Untuk pekerjaan yang sederhana –seperti memberi makan ternak- saat ini mesin berteknologi robotik telah dapat dikontrol lewat gawai.

Dari beberapa pekerjaan yang dilakukan mesin, yang agak rumit adalah mesin pemerah susu. Mesin pemerah susu tidak bekerja sendirian. Mesin ini bekerja bersama dengan beberapa perangkat lain yang semuanya telah diatur secara otomatis agar bekerja dengan urutan yang benar.

Sebagai contoh, Stensland Family Farms yang terletak di sudut barat Iowa. Peternakan ini memiliki 170 sapi perah. Hampir semua pekerjaan di peternakan ini telah diambil alih oleh robot. Awalnya sapi memang terlihat canggung. Namun setelah sapi dapat menyesuaikan diri, sapi terlihat lebih suka dilayani robot.

Di belakang kandang tempat sapi tinggal, terdapat tiga kotak sederhana. Kotak ini adalah kandang tempat sapi diperah susunya. Jalan menuju kotak ini telah diatur sedemikian rupa, agar sapi mudah menuju ke tempat ini. Cukup sekali saja sapi diberitahu tempat ini. Selanjutnya sapi akan berjalan sendiri ke kotak ini jika merasa ambingnya telah penuh.

Begitu sapi memasuki kotak, pintu akan tertutup dan di depan sapi secara otomatis akan keluar pelet makanan manis ke dalam sebuah wadah. Selama diperah susunya, sapi akan menikmati hidangan pelet makanan ini.

Kotak tempat sapi diperah, mempunyai bentuk yang sederhana. Bukan kotak masif, tapi semacam pagar dari besi yang memiliki pintu masuk dan keluar, sehingga sapi tidak stress karena masih dapat melihat ke arah luar selama proses pemerahan.

Setelah sapi masuk di dalam kotak, robot akan memindai label identifikasi dengan menggunakan sinar laser. Berdasarkan nomor pada tag-nya, mesin akan tahu persis bentuk tubuh dan posisi ambing. Pada bank data peternakan telah disimpan data setiap sapi. Setiap sapi yang baru datang ke peternakan, harus dilakukan pemindaian awal untuk pendataan,

Dari pemindaian label identifikasi, akan diketahui kapan terakhir diperah dan berapa jumlah susu yang dihasilkan. Bahkan, diketahuii juga berapa banyak susu yang dihasilkan oleh setiap ambing. Jika ternyata diketahui sapi baru saja diperah, pintu keluar kotak akan terbuka dan sapi dipersilakan untuk keluar dan kembali ke halaman peternakan.

Jika sapi telah siap diperah, maka dari arah samping sapi akan ke luar lengan robot sambil membawa sikat. Dengan dibantu sinar laser untuk memindai ambing, sikat akan berputar menuju ambing dan membersihkan setiap ambing pada sapi.

Setelah ambing dibersihkan, lengan robot yang lain akan datang sambil membawa empat tabung plastik. Setiap mulut tabung dilekatkan pada masing-masing ambing dengan dibantu oleh pemindaian sinar laser. Ada kalanya mulut tabung tidak sempurna dilekatkan. Komputer pada robot akan memerintahkan agar pekerjaan ini diulang sampai tabung melekat semput pada ambing.

Pada saat memerah, setiap tabung berfungsi layaknya mesin vakum yang menyedot susu keluar. Susu akan mengalir keluar melewati tabung dan selang plastik, yang kemudian akan ditampung pada sebuah tangki transparan.

Sebelum susu dialirkan ke tangki berikutnya, susu akan dianalisa. Jika kualitas susu tidak sesuai untuk konsumsi manusia, susu akan dialihkan ke wadah terpisah. Selanjutnya susu ini akan diberikan untuk anak-anak sapi. Namun, jika kualitas susu bagus, selanjutnya akan dialirkan ke wadah lain untuk diproses lebih lanjut.

Stensland Farms adalah salah satu dari sekitar 50 peternakan di Iowa yang telah memanfaatkan teknologi robotik. Di AS, ada sekitar 2.000 mesin pemerah susu yang dipasang. Dalam waktu dua hingga tiga tahun terakhir, jumlah mesin pemerah susu semakin banyak yang dipasang. Alasannya, adalah tidak tersedianya tenaga kerja, kualitas tenaga kerja untuk memerah susu, dan biaya tenaga kerja.

Tidak mudah memang mendapatkan tenaga kerja yang mau membersihkan ambing dan memasang mesin pemerah ke setiap ambing. Pekerjaan ini selain menuntut ketahanan fisik juga harus siap menghadapi bau yang tidak menyenangkan. Belum lagi kotoran dari sapi yang menempel pada pakaian dan rambut. Pekerjaan ini juga harus dilakukan sepanjang waktu. Setiap hari dalam seminggu.

Di AS, generasi yang lebih muda, semakin tidak tertarik untuk mengambil alih pekerjaan ini dari orang tuanya. Selain itu juga sulit untuk menemukan penduduk setempat yang bersedia melakukan pekerjaan yang melelahkan ini. Banyak peternak yang kemudian mengandalkan pekerja imigran. Namun ini juga memiliki risiko sendiri, terutama mengingat janji Presiden Trump untuk membatasi pekerja migran di AS.

Akhirnya, teknologi robotik yang dapat memecahkan masalah ini. Sebuah mesin berteknologi robotik dapat memerah hingga 60 sapi per hari, tanpa pernah mengeluh dan libur. Diperkirakan dalam lima hingga tujuh tahun ke depan, sekitar 40% hingga 50% sapi AS akan diperah menggunakan teknologi jenis ini. Saat ini, di AS baru sekitar 2%. Di Belanda, tempat teknologi ini dikembangkan diperkirakan lebih dari 30% pemerahan susu sapi sudah dikerjakan oleh robot.

Selain masalah terpecahkan, ternyata penggunaan teknologi robotik juga membuat produksi susu juga meningkat. Pada Stensland Family Farms, produksi susu meningkat sebesar 8%. Di peternakan lain yang juga menggunakan teknologi serupa, dilaporkan produksi susunya dapat meningkat hingga 20%. Stensland Family Farms dalam sehari menghasilkan sekitar 5.600 liter susu dengan perhitungan seekor sapi perah modern dapat menghasilkan sekitar 30 liter susu.

Peningkatan produksi memang diperlukan mengingat investasi untuk pengadaan mesin pemerah berteknologi robotik ini tidaklah murah. Diperlukan biaya sekitar 190.000 hingga 200.000 dolar AS untuk setiap unit. Diperkirakan dalam kurun waktu tujuh tahun, investasi ini dapat dilunasi.

Salah satu alasan mengapa produksi susu sapi perah dapat meningkat dengan pemakaian teknologi robotik, ternyata sapi lebih nyaman tidak berhubungan dengan manusia. Ketika dikeluarkan dari kandang, sapi akan berkumpul dengan kelompoknya masing-masing, tanpa perlu merasa terusik dengan kehadiran manusia. (555)

 

BERITA TERKAIT